PONTIANAK POST - Bagi banyak keluarga di Indonesia, menggunakan ulang minyak goreng adalah hal yang umum dilakukan demi menghemat pengeluaran.
Namun, tak sedikit yang khawatir jika minyak bekas pakai bisa menyebabkan batuk, tenggorokan gatal, atau bahkan gangguan pernapasan.
Faktanya, menurut beberapa ahli gizi dan lembaga pangan internasional seperti Singapore Food Agency (SFA) dan EatingWell, lemak cair goreng memang bisa dipakai kembali asal diolah dan disaring dengan benar.
Kuncinya terletak pada cara menjernihkan, menyimpan, dan membatasi pemakaiannya agar kualitas tetap aman dan tidak menghasilkan zat berbahaya.
Kenali Bahaya Minyak Goreng Bekas yang Tidak Diolah dengan Benar
Dilansir dari EatingWell, lemak cair yang dipanaskan berulang kali bisa teroksidasi dan menghasilkan senyawa berbahaya seperti aldehid dan acrolein. Zat ini dapat memicu batuk dan iritasi saluran pernapasan saat terhirup dalam bentuk asap.
Selain itu, lemak cair yang sudah berubah warna menjadi pekat atau berbau tengik juga menandakan terjadinya degradasi lemak yang bisa mengganggu pencernaan.
Ahli pangan dari SFA menambahkan, setiap kali digunakan, kandungan lemaknya akan mengalami kerusakan akibat suhu tinggi.
Karena itu, penting untuk tidak menggunakan ulang lemak cair lebih dari dua hingga tiga kali, terutama jika digunakan untuk menggoreng makanan yang mudah gosong atau berbumbu pekat.
Cara Menjernihkan Minyak Goreng agar Aman Digunakan Ulang
Mengutip panduan dari About Olive Oil dan SFA, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjernihkan dan memperpanjang usia pakai dengan aman:
1. Saring saat Minyak Masih Hangat
Setelah digunakan, tunggu hingga agak hangat (tidak panas). Lalu saring menggunakan kain muslin, tisu dapur tebal, atau saringan halus agar sisa remah makanan terangkat seluruhnya.
Partikel gosong inilah yang biasanya membuatnya cepat hitam dan berasap.
2. Tambahkan Potongan Arang Aktif atau Daun Salam
Beberapa orang menggunakan potongan arang aktif atau daun salam kering untuk membantu menyerap bau tengik dan menjernihkan warna lemak cair.
Cara ini tidak menggantikan penyaringan, tetapi bisa membantu memperbaiki aroma dan kejernihan.
3. Simpan dalam Wadah Tertutup di Tempat Sejuk
Setelah disaring, tuang lemak cair ke dalam wadah kaca bersih atau botol tertutup rapat. Simpan di tempat sejuk dan jauh dari paparan sinar matahari.
Menurut SFA, suhu tinggi dapat mempercepat oksidasi dan menurunkan kualitas lemak cair lebih cepat.
4. Jangan Campur dengan yang Baru
Kesalahan umum yang sering dilakukan adalah mencampur minyak bekas dengan yang masih baru.
Ini justru membuat yang baru ikut terkontaminasi dan lebih cepat rusak.
Ciri Minyak Goreng yang Tidak Layak Pakai
Berdasarkan panduan dari EatingWell, minyak yang sudah tidak aman digunakan ulang biasanya memiliki tanda-tanda berikut:
- Warnanya menjadi sangat gelap atau pekat
- Mengeluarkan bau gosong atau asam
- Menimbulkan asap berlebihan saat dipanaskan
- Membuat makanan terasa pahit atau tengik
Jika sudah menunjukkan gejala ini, sebaiknya buang lemak cair dan jangan digunakan kembali.
Mengkonsumsi lemak cair rusak bisa memicu batuk, gangguan pencernaan, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko radikal bebas dalam tubuh.
Tips Tambahan agar Tidak Mudah Batuk saat Menggoreng
Selain kualitas, cara menggoreng juga berpengaruh terhadap kesehatan pernapasan.
Menurut SFA, gunakan api sedang agar lemak cair tidak cepat berasap, dan pastikan dapur memiliki ventilasi yang baik untuk mengurangi paparan uap.
Menggunakan hood atau exhaust fan juga membantu menjaga udara tetap bersih.
Menggunakan kembali lemak cair goreng bukanlah hal yang dilarang, asal dilakukan dengan cara yang benar.
Langkah pentingnya adalah menyaring, menyimpan dengan baik, serta membatasi pemakaian maksimal dua hingga tiga kali.
Dengan begitu, minyak bekas tetap bisa digunakan tanpa menimbulkan batuk atau gangguan kesehatan lainnya. (*)
Editor : Miftahul Khair