PONTIANAK POST - Setiap tahun, ketika HUT Kota Pontianak dirayakan dengan semarak, satu elemen budaya selalu mencuri perhatian yaitu Kain Corak Insang.
Kain tenun tradisional khas masyarakat Melayu Pontianak ini bukan hanya sekadar busana adat, tetapi telah menjelma menjadi identitas visual dan simbol kebanggaan daerah.
Dalam setiap parade budaya, pameran UMKM, maupun upacara resmi, Corak Insang selalu hadir sebagai penanda kuat keterkaitan masyarakat dengan akar sejarahnya.
Asal Usul Corak Insang
Menurut catatan Pontianak Post, Kain Corak Insang mulai dikenal pada masa Kesultanan Kadriah, sekitar abad ke-18, ketika Pontianak menjadi pusat perdagangan dan pertemuan berbagai budaya.
Kala itu, kain ini hanya dikenakan oleh keluarga bangsawan sebagai lambang status sosial dan keanggunan.
Motifnya yang menyerupai insang ikan memiliki makna mendalam yaitu menggambarkan napas kehidupan, keselarasan dengan alam, dan ketergantungan masyarakat terhadap sungai terutama Sungai Kapuas yang menjadi urat nadi kota.
Filosofi ini menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat Pontianak tidak bisa dipisahkan dari air, baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual.
Filosofi dan Makna di Balik Pola “Insang”
Pola bergaris yang menjadi ciri khas Corak Insang bukan hanya estetika. Dalam tradisi Melayu Pontianak, pola berulang itu melambangkan ketekunan, keteraturan, dan kesinambungan hidup.
Seperti insang ikan yang berfungsi menjaga keseimbangan pernapasan, masyarakat Pontianak pun diyakini harus hidup seimbang antara dunia modern dan nilai tradisi.
Selain itu, warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan hijau yang sering digunakan dalam tenun juga memiliki filosofi tersendiri:
- Merah melambangkan keberanian dan semangat,
- Kuning simbol kebangsawanan dan kemuliaan,
- Hijau menandakan kesuburan dan harmoni alam.
Kombinasi warna dan pola tersebut menjadikan Corak Insang bukan hanya karya tekstil, tetapi juga representasi nilai hidup masyarakat Pontianak yang cinta damai, adaptif, dan dinamis.
Pelestarian Melalui Peringatan HUT Kota Pontianak
Dalam setiap perayaan HUT Pontianak, Pemerintah Kota secara konsisten menjadikan Corak Insang sebagai tema utama dalam berbagai kegiatan.
Mulai dari parade busana daerah, lomba desain kain tradisional, hingga dekorasi panggung utama semuanya menonjolkan motif sebagai wujud apresiasi terhadap warisan leluhur.
Kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri.
Beberapa sekolah bahkan mewajibkan siswa mengenakan busana bermotif Corak Insang selama pekan peringatan HUT Pontianak, sebagai simbol kebersamaan dan rasa bangga terhadap identitas lokal.
Peran Penenun Lokal dan UMKM dalam Melestarikan Tenun Corak Insang
Dilansir dari Pontianak Post, di kawasan Pontianak Tenggara dan Siantan, sejumlah pengrajin masih mempertahankan teknik menenun tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Proses pembuatannya memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, tergantung tingkat kerumitan motif.
Permintaan terhadap kain ini biasanya meningkat menjelang HUT Kota Pontianak dan acara-acara resmi pemerintah.
Selain untuk pakaian adat, kini Corak Insang juga dikreasikan menjadi produk modern seperti tas, dompet, syal, bahkan dekorasi interior.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) rutin memberikan pelatihan dan bantuan peralatan kepada para penenun agar mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.
Langkah ini bertujuan agar tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Simbol Identitas dan Kebanggaan Kota Seribu Sungai
Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa dan Kota Seribu Sungai. Maka tidak mengherankan jika corak ini, yang terinspirasi dari kehidupan sungai, menjadi simbol paling tepat untuk menggambarkan Kota Pontianak.
Ketika masyarakat mengenakan kain tersebut di momen HUT Pontianak, itu bukan sekadar tradisi, melainkan pernyataan identitas kolektif bahwa mereka adalah bagian dari sejarah panjang yang terus hidup.
Kini, Corak Insang tidak lagi terbatas pada busana seremonial. Ia telah menembus ranah desain modern, menjadi inspirasi dalam arsitektur, fashion, dan branding kota.
Dari istana Kadriah hingga panggung HUT Pontianak, Corak Insang telah membuktikan diri sebagai napas budaya yang tak pernah padam. (*)
Editor : Miftahul Khair