PONTIANAK POST – Kerajaan Majapahit sangat tegas dalam menjaga alam lingkungan. Itu didasari atas filosofi yang mereka anut dan yakini.
Melansir dari Kanal Youtube ASISI Channel, dikatakan bahwa dalam Kitab Niratha Prakreta, ada lima unsur yang membentuk alam semesta, termasuklah diri kita yaitu tanah, api, air, udara, dan akhasa.
“Karena tubuh kita dengan alam semesta terbentuk dari materi yang sama, maka pasti ada kaitannya. Itulah kenapa medis di zaman kuno sangat berkaitan dengan alam. Kesakitan tubuh kita, itu bisa dibereskan dengan alam,” ujar Asisi Suhariyanto dalam obrolan youtube tersebut.
Pada sumber yang lain, di Kitab Nawaruci menyebutkan pula ada kaitan antara bhuana agung dan bhuana alit. Alam semesta dengan tubuh manusia itu saling berkaitan.
“jadi, kalau kita merusak alam (bhuana agung) itu akan berefek pada diri kita (bhuana alit),” jelas Asisi.
Menjaga Alam Sama Halnya Menjaga Diri Sendiri
Menurut Asisi yang merujuk pada Kitab Siwamurti, bhuana agung merupakan cerminan bhuana alit.
Alam semesta merupakan cerminan tubuh manusia, tubuh manusia merupakan cerminan alam semesta.
“Oleh karena itu dalam tubuh kita itu ya ada laut, ada samudra, ada gunung, ada dewa-dewa, itu yang menyebabkan orang jawa kuno, terutama orang Majapahit memandang alam ini harus dijaga, seperti mereka menjaga dirinya sendiri,” ungkap Asisi.
Cara Menangani Bencana Alam ala Leluhur
Dalam video di Kanal Youtube ASISI Channel dengan judul "Banjir Bandang, Majapahit dan Arifnya Konservasi Alam Lingkungan Ala Leluhur Kita" yang terbit pada 24 Oktober 2025, diketahui orang jawa kuno sudah menyadari tentang adanya bencana.
“Bencana telah dianggap bagian dari kehidupan mereka dan mereka juga menganggap akibat dari perbuatan mereka sendiri, makanya ada perbaikan-perbaikan, usaha-usaha menjaga alam,” sebut Asisi.
Lebih lanjut, sejarawan muda tersebut menjelaskan bahwa sungai bagi masa klasik adalah penting, urat nadi peradaban.
“Sungai itu mereka jaga, salah satunya dengan cara revitalisasi,” terangnya.
“Dalam Prasasti Tugu diceritakan konon terjadi banjir hingga masuk istana. Istana saja terdampak bagaimana dengan rakyat,” imbuh Asisi menjelaskan.
“Dengan adanya banjir tersebut Raja Purnawarman kemudian membuat mega proyek pengerukan sungai. Itu adalah zaman belum mengenal buldoser, belum mengenal alat-alat berat, mereka sudah mengeruk sungai dan sukses,” tutup Asisi. (*)
Editor : Miftahul Khair