Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Apakah Iman yang Kita Jalani Selama Ini Sudah Terjamin Aman? Berikut Ini Penjelasan Gus Baha

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 5 Januari 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi meningkatkan keimanan dengan memperbanyak salat malam.
Ilustrasi meningkatkan keimanan dengan memperbanyak salat malam.

PONTIANAK POST - Bagi umat Islam iman merupakan kata yang sering kali terdengar. Setidaknya seminggu sekali, khususnya bagi kaum muslim yang melakukan salat jumat.

Kata tersebut diwasiatkan agar selalu dijaga dan ditingkat secara terus dari waktu ke waktu.

Biasanya, khatib jumat menyandingkan kata iman dengan taqwa. Hal ini dapat dipahami karena kata tersebut menempati posisi sentral di setiap keyakinan agama, tidak terkecuali Islam.

Iman adalah fondasi utama ajaran Islam. Penentu kualitas hubungan antara yang diciptakan dengan penciptanya.

Dalam Islam, iman bukan hanya sekadar dipahami sebagai keyakinan dalam hati, namun juga harus tercermin melalui ucapan dan perbuatan sehari-hari.

Iman yang Aman Menurut Gus Baha

Melansir dari Kanal Youtube Santri Gayeng, Gus Baha mengatakan sebagian ulama berbeda pendapat mengenai iman mukalid (orang yang bertaklid). Ada yang menyebut diterima, ada juga yang tidak.

Jika orang yang bertaklid itu sudah mantap dengan pendapat orang lain, maka hal itu sudah cukup dikatakan iman yang diterima.

Gus Baha lalu memberi contoh dengan orang polos yang beriman sungguh-sungguh. Kenapa kamu kok bisa berpikir begitu? Pokoknya ikut Mbah Maimun Zubair, ikut Gus Baha, ikut orang-orang alim, jawab orang polos itu dalam cerita Gus Baha.

Meski tidak tahu penjabaran atau argumentasinya tentang iman, pokoknya ikut ulama, itu sudah dikatakan iman yang mencukupi, jelas Gus Baha.

Syarat Iman itu Harus Mantap dan Yakin Secara Penuh

Dalam surah Al-Baqarah ayat 285 mendefinisikan iman sebagai berikut:

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka berkata: Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata: Kami dengar dan kami taat. (Kami mohon) ampunan-Mu, Tuhan kami, dan kepadaMu tempat kembali.”

Menurut Gus Baha iman itu harus mantap, suatu sikap keteguhan di dalam hati. Tidak ada keragu-raguan di dalamnya.

Gus Baha kemudian menjelaskan. Misal ketika ditanya, Pak, kok keburukan dan kejelekan dari Allah? Masa Allah menghendaki kejelekan? Saya tidak tahu, itu kata Mbah Moen. Bagaimana, kok tidak jelas? Saya mau tanya keburu wafat.

Nah, itu adalah kebimbangan, tidak boleh seperti itu, iman itu harus mantap, tegas Gus Baha.

"Berbeda dengan 'Pokoknya kata Mbah Moen begitu. Tidak paham tidak apa-apa, pokoknya begitu.' Nah, ini adalah iman yang cukup. Syaratnya harus keras kepala," pungkas Gus Baha. (*)

Editor : Miftahul Khair
#santri gayeng #Iman #Aman #taqwa #islam #Gus Baha