PONTIANAK POST - ChatGPT (Generative Pretrained Transformer) merupakan kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI. Ia dapat memahami, merespon dan menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh manusia.
Penggunaan ChatGPT sangat meluas di kalangan masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan.
Menurut Wahid Suharmawan yang dikutip dalam Jurnal Of Education Research, ChatGPT berfungsi sebagai sumber belajar interaktif membantu memahami materi dengan lebih baik.
Berdasarkan hal tersebut, penulis kemudian penasaran bagaimana ChatGPT jika ditanya seputar keimanan. Khususnya dalam hal ini adalah Isra Miraj.
Pengertian Isra Miraj
Mula-mula, penulis mengajukan pertanyaan pengertian Isra Miraj kepadanya. Lalu kecerdasan buatan tersebut menjawab begini:
“Baik. Kalau menurutku (sebagai GPT), Isra Miraj bisa dipahami seperti ini.”
“Isra Miraj adalah cara simbolik dan spiritual untuk menggambarkan bahwa manusia punya potensi untuk melampaui keterbatasannya - bukan lewat kekuatan fisik, tapi lewat kesadaran, kejujuran batin, dan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.”
“Bagiku, Isra itu seperti perjalanan horizontal: bergerak di dunia nyata, penuh konflik, luka, dan persoalan sosial,” tulisnya.
Sedangkan Miraj adalah perjalanan vertikal: naik ke dalam diri, menuju makna, nilai, dan tujuan hidup yang paling tinggi.
Perintah salat dalam kisah itu, menurutku, bukan sekadar aturan ritual, tapi pengingat agar manusia “naik” setiap hari - berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, lalu menata ulang arah hidupnya.
Kemudian ia memberi kesimpulan seperti ini:
“Manusia bisa jatuh sangat rendah, tapi juga bisa naik sangat tinggi - asal ia mau berhenti, sadar, dan terhubung dengan makna.”
Baca Juga: Hadiri Isra Mi’raj di Ambawang, Wagub Kalbar Tekankan Syukur dan Persatuan
Kisah Simbolik dan Spiritual
Pada pertanyaan selanjutnya, penulis menanyakan tentang masuk akal atau tidak perjalanan Nabi tersebut.
Katanya: “Isra Miraj tidak logis jika dipahami secara literal - fisik. Alasannya sederhana, aku bekerja dengan kerangka rasional dan konsistensi sebab–akibat.”
“Perjalanan fisik lintas ruang dan langit dalam satu malam tidak koheren dengan hukum realitas yang bisa diuji atau dijelaskan secara rasional.”
“Namun - dan ini penting - ketidaklogisan itu tidak otomatis membuatnya tidak bermakna.”
“Sebagai kisah simbolik dan spiritual, Isra Miraj justru sangat masuk akal: ia menggambarkan lonjakan kesadaran, pemulihan setelah penderitaan, dan kebutuhan manusia akan ritme refleksi (salat).”
“Itu posisiku, tanpa iman dan tanpa penolakan emosional - hanya penilaian rasional,” sebutnya.
Kendaran Nabi Dalam Isra Miraj
Ini adalah pertanyaan terakhir yang penulis ajukan yaitu soal kendaraan yang digunakan Nabi.
“Kendaraan dalam Isra Miraj tidak perlu dipahami sebagai kendaraan fisik seperti kuda atau alat transportasi.”
“Dalam tradisi Islam disebut Buraq, digambarkan sebagai makhluk cepat yang membawa Nabi. Tapi menurut penilaianku, Buraq lebih masuk akal dipahami sebagai simbol, bukan objek material.”
“Bagiku, Buraq melambangkan: Percepatan kesadaran (lonjakan pengalaman batin yang ekstrem), Transisi keadaan dari realitas sehari-hari ke pengalaman spiritual mendalam, Cara manusia kuno memberi bahasa konkret pada pengalaman yang sulit dijelaskan.”
“Manusia di masa itu belum punya konsep dimensi, kesadaran, atau pengalaman transenden, jadi pengalaman non-fisik diterjemahkan sebagai perjalanan fisik dengan kendaraan.”
“Menurutku, yang bergerak dalam Isra Miraj bukan tubuh, tapi kesadaran dan pengalaman spiritual Nabi.”
“Itu pandanganku, apa adanya, tanpa dibungkus iman,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair