Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Apa yang Terjadi dengan Doa-Doa Kita? Refleksi Gus Nadir tentang Doa yang Tidak Kunjung Dijawab

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 19 Januari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi berdoa.
Ilustrasi berdoa.

PONTIANAK POST — Sebagian besar dari kita berdoa dengan sungguh-sungguh, menengadahkan harap, dan menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Pada titik inilah iman sering diuji, bukan oleh ketiadaan doa, melainkan oleh sunyi setelahnya, alias tidak adanya jawaban.

Nadirsyah Hosen mengajak kita untuk melihat kembali: jangan-jangan yang bermasalah bukan pada doa yang kita panjatkan, melainkan pada cara kita memahami jawaban Tuhan.

Melalui platform Instagram pribadinya, Sabtu (18/1), ia mengunggah tulisan reflektif mengenai doa. Berikut penjelasan dari Prof. Nadirsyah Hosen, atau yang lebih akrab disapa Gus Nadir.

Baca Juga: Manfaat Rajab Mengundang Doa, Takwa, dan Pengampunan

Doa Kita Selama Ini

Menurut Gus Nadir, tidak semua doa dijawab dengan cepat. Sebagian doa tidak hadir sebagai “iya” atau “tidak”, melainkan bekerja secara diam-diam dalam proses yang sering luput kita sadari.

Pada momen berdoa, sesungguhnya kita telah menyerahkan masa depan bukan hanya kepada rasa, tetapi kepada kuasa dan kasih Allah Swt.

Doa bukan sekadar proposal permohonan yang diajukan kepada Tuhan, lalu menunggu disetujui atau ditolak. Doa juga bukan daftar keinginan yang menuntut jawaban cepat sesuai harapan manusia.

Doa adalah keputusan batin untuk melibatkan Tuhan dalam arah hidup kita, termasuk pada jalan yang tidak selalu kita mengerti dan pada hasil yang mungkin tidak sepenuhnya kita inginkan.

Doa Itu Kompleks Sekaligus Komplet

Pada pemaparan selanjutnya, Gus Nadir menyebut bahwa doa itu kompleks sekaligus komplet, sebagaimana hidup. Tuhan tidak bekerja dengan potongan-potongan, melainkan dengan keseluruhan.

Berdasarkan hal itu, sering kali doa tidak langsung dikabulkan bukan karena Tuhan jauh, tetapi justru karena Tuhan mendekat, bahkan terlalu dekat sehingga tidak terlihat.

Ada hal-hal kecil yang lebih dahulu Tuhan rapikan, seperti cara kita berpikir, kedewasaan hati, luka-luka lama yang belum sembuh, serta ego yang masih ingin menang sendiri.

Selain itu, ada pula prasarana yang sedang Tuhan siapkan, seperti kesabaran, keteguhan, serta kemampuan untuk memikul kebahagiaan tanpa lalai dan menghadapi ujian tanpa saling menyalahkan.

Tuhan mengetahui bahwa tidak semua yang indah dapat langsung dititipkan. Sebagian harus ditumbuhkan perlahan agar, saat tiba, kita tidak hanya bahagia, tetapi juga sanggup menjaganya.

Doa yang Belum Terjawab

Jika hari ini doa kita terasa menggantung, jangan buru-buru menganggapnya hilang atau tidak diperhatikan oleh Tuhan. Barangkali doa-doa kita sedang ditulis ulang dengan tinta yang lebih dalam.

Agar ketika kita membacanya kelak, kita tidak hanya berkata bahwa Tuhan mengabulkan doa, tetapi juga berbisik pelan, “Syukurlah, Tuhan menyiapkan segalanya terlebih dahulu.”

Terakhir, Gus Nadir menyimpulkan bahwa doa yang paling indah bukanlah doa yang cepat terkabul, melainkan doa yang mengubah kita menjadi manusia yang layak menjalani anugerah itu bersama doa kita. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Tuhan #refleksi #Gus Nadir #islam #doa yang tidak kunjung dijawab