Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dosa yang Tidak Serta Merta Diampuni pada Malam Nisfu Syaban Menurut Ulama

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 22 Januari 2026 | 14:30 WIB
Ilustrasi berdoa di malam Nisfu Syaban.
Ilustrasi berdoa di malam Nisfu Syaban.

PONTIANAK POST – Malam Nisfu Syaban dikenal sebagai salah satu malam istimewa dalam Islam. Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pada malam ini Allah SWT memberikan ampunan kepada banyak hamba-Nya. Namun demikian, tidak semua dosa serta-merta diampuni, karena terdapat golongan dan perbuatan tertentu yang menjadi penghalang turunnya ampunan.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, seorang ulama besar Ahlussunnah wal Jamaah, menjelaskan bahwa ada dosa-dosa yang membuat seseorang terhalang dari ampunan Allah pada malam Nisfu Syaban.

Dosa-dosa tersebut berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesama serta perbuatan yang secara tegas dilarang dalam ajaran Islam.

Penjelasan ini menjadi pengingat penting bahwa keutamaan malam Nisfu Syaban harus diiringi dengan upaya memperbaiki diri dan membersihkan hati, bukan sekadar mengandalkan ampunan semata.

Dosa yang Tidak Diampuni

Dikutip dari laman Islami.co, Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki memberikan penjelasan penting tentang dosa-dosa yang tidak serta-merta diampuni pada malam Nisfu Syaban.

Ia menegaskan bahwa meskipun Nisfu Syaban dikenal sebagai malam penuh ampunan, ada perbuatan tertentu yang justru menjadi penghalang turunnya rahmat Allah SWT.

Selain dosa syirik dan sifat munafik yang menimbulkan perpecahan, Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa dosa-dosa besar juga termasuk perbuatan yang tidak langsung diampuni, bahkan pada malam-malam pengampunan seperti Nisfu Syaban.

Menurutnya, dosa-dosa tersebut wajib dijauhi tidak hanya pada malam Nisfu Syaban, tetapi juga pada bulan Ramadan, Asyhurul Hurum, serta seluruh waktu yang dimuliakan dalam Islam.

Penegasan ini menjadi pengingat bahwa keutamaan malam ampunan harus diiringi dengan kesungguhan meninggalkan dosa, bukan sekadar berharap pada rahmat tanpa usaha perbaikan diri.

Dosa-Dosa yang Tergolong Besar

Hal ini disebutkan dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i dari Ibnu Mas’ud:

Dari Abdullah bin Mas’ud: Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling berat? Kemudian Rasulullah menjawab: menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (syirik). Kemudian Abdullah berkata: Apalagi, wahai Rasulullah? Rasul menjawab: membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu. Abdullah bertanya lagi: Kemudian apa lagi, wahai Rasul? Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa selain dosa syirik, terdapat perbuatan lain yang tergolong dosa besar dan tidak serta-merta diampuni pada malam Nisfu Syaban, di antaranya membunuh orang tua dan perbuatan zina.

Penyebutan membunuh orang tua dalam hadis tersebut tidak hanya dipahami secara harfiah, tetapi juga mengandung makna luas tentang kedurhakaan terhadap orang tua. Tindakan tersebut merupakan bentuk paling ekstrem dari perbuatan durhaka.

Dengan demikian, bukan hanya pembunuhan yang menjadi penghalang turunnya ampunan pada malam Nisfu Syaban, tetapi juga sikap dan perilaku durhaka kepada orang tua.

Meski demikian, pintu ampunan tidak pernah tertutup sepenuhnya. Dosa-dosa besar tersebut tetap dapat diampuni apabila pelakunya sungguh-sungguh bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubat nasuha).

Pada akhirnya, pengampunan atas segala dosa merupakan hak prerogatif Allah SWT, termasuk terhadap dosa besar, apabila Dia berkehendak melimpahkan karunia dan rahmat-Nya.

Wallahu a’lam. (*)

Editor : Miftahul Khair
#dosa #nisfu syaban #ulama #Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki #ampunan