Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kenapa Wujud Nabi Muhammad Tidak Boleh Digambar? Ini Penjelasan Habib Husein Ja’far

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 22 Januari 2026 | 15:30 WIB
ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad SAW.
ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad SAW.

PONTIANAK POST - Dalam tradisi Islam, sosok Nabi Muhammad SAW ditempatkan pada posisi yang sangat luhur dan penuh penghormatan.

Karena itu, muncul kemudian pertanyaan yang sering dibahas hingga hari ini: mengapa wujud Nabi Muhammad tidak boleh digambar atau divisualisasikan?

Melalui penjelasan Habib Ja’far, alasan dibalik larangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hukum agama, tetapi juga menyentuh aspek etika, akidah, dan cara umat menjaga kemurnian penghormatan kepada Rasulullah.

Lewat kanal youtube Risyad and Son, Habib Husein Ja’far Al-Hadar menjelaskan alasannya kenapa Baginda Muhammad maujudnya tidak boleh digambar.

Tidak Ada Perintah Dari Nabi Muhammad SAW

Menurut Habib Ja’far dalam kanal tersebut, larangan menggambar wajah Nabi Muhammad berangkat dari satu hal mendasar: tidak pernah ada perintah langsung dari Rasulullah untuk melakukannya.

Bahkan, dalam sejarah Islam, tidak ditemukan satupun riwayat yang menunjukkan para sahabat diperintahkan menggambar wujud Nabi, sehingga praktik tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran yang beliau sampaikan.

“Sehingga kalau ada yang bilang, oh ini gambar Nabi, maka dia berbohong atas nama Nabi dan tempatnya di neraka,” ujar Habib.

Menjaga Keagungan dan Kemuliaan Nabi

Habib Ja’far menegaskan bahwa larangan menggambar Nabi Muhammad bukan semata-mata soal boleh atau tidak secara teknis, melainkan soal menjaga keagungan dan kemuliaan beliau.

Para ulama memandang bahwa jika penggambaran Nabi dibolehkan, maka akan muncul banyak versi visual yang dibuat berdasarkan selera, imajinasi, dan kepentingan masing-masing orang.

Hal ini dikhawatirkan justru mereduksi kemuliaan Rasulullah dan menimbulkan klaim sepihak tentang sosok beliau.

Karena itu, larangan tersebut dipahami sebagai upaya preventif untuk menjaga kehormatan Nabi Muhammad agar tetap utuh, sakral, dan tidak diperdebatkan melalui representasi visual yang subjektif.

Baca Juga: 1 Rabiul Awal 2025 dan Maulid Nabi Jatuh pada Tanggal Berapa? Cek Kalendernya di Sini

Tidak Ada Relevansi dan Signifikansinya

Lebih lanjut, Habib Ja’far menegaskan bahwa membuat gambar Nabi Muhammad sejatinya tidak memiliki relevansi yang substansial.

Menurutnya, yang jauh lebih penting bagi umat Islam adalah meneladani cara Nabi berpikir, bersikap, dan berakhlak dalam kehidupan sehari-hari, bukan membayangkan atau mempersoalkan rupa fisik beliau.

Penekanan ini sekaligus menjadi upaya untuk menghindari pengkultusan berlebihan, agar kecintaan kepada Nabi tetap terjaga dalam koridor ajaran Islam yang murni. (*)

Editor : Miftahul Khair
#nabi muhammad saw #habib jafar #islam #Wujud #gambar