PONTIANAK POST - Dalam budaya masyarakat Indonesia, suvenir pernikahan bukan sekadar rutinitas seremonial atau pemanis pesta. Lebih dari itu, suvenir merupakan simbol penghargaan, rasa terima kasih, sekaligus cermin nilai sosial dari pasangan pengantin kepada para tamu undangan.
Dikutip dari Jawapos, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya Malang, Nike Kusumawanti, MA menekankan bahwa pemilihan suvenir seharusnya mengedepankan etika kesetaraan, bukan sebagai ajang pamer status sosial atau kemewahan semata.
Simbol Kesetaraan dan Kebersamaan
Suvenir seharusnya tidak menjadi alat pembeda kelas sosial di tengah masyarakat. Esensi utama dari pemberian ini adalah ungkapan terima kasih yang tulus atas kehadiran tamu, sehingga nilai kebersamaan harus lebih menonjol daripada nilai nominal barang.
Baca Juga: 10 Tips Menghemat Biaya Pernikahan: Acara Tetap Berkesan meski Anggaran Minim
Fokus pada Fungsi dan Solidaritas Ekonomi
Nike menyarankan pasangan untuk memilih produk hasil karya perajin lokal atau pelaku UMKM. Hal ini dinilai lebih beretika karena memperkuat solidaritas ekonomi masyarakat. Pilihlah benda yang memiliki fungsi nyata bagi penerima agar tidak berakhir menjadi limbah konsumsi yang sia-sia.
Makna di Balik Pilihan Bentuk Suvenir
Suvenir Makanan mencerminkan budaya berbagi rezeki. Penggunaan makanan tradisional seperti kopi atau madu lokal dapat menciptakan kesan hangat, membumi, dan merekatkan identitas budaya. Sedangkan benda pajangan bersifat lebih simbolik dan representatif sebagai kenang-kenangan atas momen kebahagiaan pasangan.
Tren Etika Keberlanjutan (Eco-Friendly)
Saat ini muncul transformasi nilai menuju etika keberlanjutan dengan penggunaan bahan alami seperti besek bambu atau produk hasil kebun. Tren ini menunjukkan kesadaran baru bahwa pesta pernikahan tidak boleh memproduksi limbah berlebihan. Suvenir berkelanjutan adalah simbol tanggung jawab sosial terhadap bumi.
Alternatif Etis di Era Modern
Jika pasangan memutuskan untuk tidak memberikan suvenir fisik, ada beberapa langkah etis yang bisa diambil. Pertama, donasi soial, mengganti anggaran suvenir dengan donasi sosial atas nama para tamu undangan. Hal ini memperluas makna cinta menjadi solidaritas sosial yang lebih luas. Kedua, sentuhan personal, menjaga etika melalui keramahan, sapaan personal, atau ucapan terima kasih digital yang tulus.
Baca Juga: Zodiak Aquarius Besok: Peluang Keuangan, Karier, Kesehatan hingga Percintaan
Pesan Moral dan Filosofi
Nike menyarankan pasangan yang hendak menikah sebaiknya memilih suvenir yang mengandung pesan moral atau filosofi tentang cinta dan rasa syukur. Keselarasan antara kemampuan finansial dengan tema pernikahan sangat penting agar tidak menimbulkan kesan berlebihan yang justru menjauhkan makna kesederhanaan. "Yang diingat orang bukan besar kecilnya hadiah, melainkan kesan hormat dan penghargaan yang ditunjukkan kepada tamu," pungkas Nike. (*)
Editor : Chairunnisya