PONTIANAK POST - Di sebuah sudut halaman, berdiri sebuah aviari megah berukuran 3,5 x 16 meter dengan tinggi mencapai lima meter.
Ruang ini didesain menyerupai hutan kecil yang rimbun dengan tumbuhan menjalar, paku-pakuan, hingga pepohonan berakar kuat. Inilah habitat buatan yang dirancang khusus untuk memanjakan naluri alami burung murai batu.
Muhammad Choky Ansor, sang pemilik sekaligus peternak kucica hutan asal Tangerang ini, mengusung konsep yang berbeda. Di dalam aviari miliknya, satu ekor murai jantan hidup berdampingan dengan tujuh betina.
Tanpa atap genting, burung-burung ini terbang bebas di bawah langit, hanya dilindungi oleh ram pengaman.
Baca Juga: Tips Merawat Burung Kakaktua Jambul Kuning bagi Para Penghobi Pemula
Meniru Naluri Alamiah
Choky mengungkapkan bahwa di alam liar, murai batu bukanlah hewan monogami.
"Seekor jantan bisa kawin dengan beberapa betina. Pola ini sulit diterapkan di kandang sempit karena betina sering bertengkar saat masa bertelur," jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Dengan membangun ruang luas, Choky berhasil menyalurkan naluri teritorial burung-burung tersebut secara alami.
Keunikan lain dari aviari ini adalah konsepnya yang tanpa atap permanen. Saat hujan, burung-burung akan berlindung di bawah dahan, dan saat panas, mereka berteduh di balik rimbunnya pohon Tabebuya hingga Beringin.
Choky menepis anggapan bahwa konsep terbuka ini menyiksa satwa; menurutnya, burung justru menjadi lebih kuat karena hidup mendekati kondisi alam aslinya.
Baca Juga: Karantina Kalbar Gagalkan Penyelundupan 705 Ekor Burung Ilegal
Dari Aviari Menuju Podium Juara
Hasilnya tidak main-main. Anakan murai batu hasil tetasan aviari Choky kini banyak diminati para penghobi, bahkan menembus dunia "gantangan" (lomba burung berkicau).
Beberapa anakan yang dikirim ke luar daerah, seperti Pacitan, sukses meraih prestasi di ajang latihan prestasi (Latpres).
"Pejantannya memang berasal dari burung gantangan," kata Choky.
Namun, prestasi tetap bergantung pada perawatan pemilik selanjutnya.
"Jika dilatih dengan benar, hasilnya pasti memuaskan," kata Choky yang telah menghasilkan ratusan anakan sejak membangun aviari ini pada 2022.
Baca Juga: Bupati Karolin Dorong Penangkaran dan Pelestarian Burung Kicau di Landak
Sarana Healing Keluarga
Di balik kesuksesan ternaknya, aviari ini juga menjadi oase bagi Choky dan keluarga. Suara kicauan burung dan nuansa hijau di tengah kota menjadi sarana healing yang ampuh untuk melepas penat setelah bekerja.
Bahkan, anggota keluarga yang awalnya tidak menyukai burung, kini ikut menikmati aktivitas memberi pakan dan mengamati pergerakan murai yang terbang bebas. Bagi Choky, aviari ini adalah jalan tengah bagi konservasi.
"Konservasi bukan sekadar melepas burung ke alam tanpa persiapan, tapi memastikan satwa bisa hidup layak dan merasa seperti di habitat aslinya," pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya