Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sosiolog Ingatkan Bahaya Tekanan Sosial dalam Praktik Sumbangan Warga

Chairunnisya • Selasa, 28 April 2026 | 21:47 WIB
Ilustrasi orang meminta donasi (AI)
Ilustrasi orang meminta donasi (AI)

PONTIANAK POST - Dalam kehidupan bermasyarakat, tradisi gotong royong kerap menjadi perekat hubungan sosial.

Namun, ketika praktiknya mulai terasa memaksa, muncul pertanyaan: apakah nilai kebersamaan itu masih terjaga?

Sosiolog Universitas Brawijaya, Nike Kusumawanti, menilai penting untuk menjaga batas antara gotong royong dan tekanan sosial.

Baca Juga: Sumbangan dengan Paksaan Tuai Sorotan, Batas Tipis Antara Solidaritas dan PungliIa menekankan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan posisi untuk menekan warga lain.

Nike menjelaskan bahwa tindakan meminta sumbangan secara memaksa dapat menciptakan tekanan sosial yang berat.

"Pihak yang dimintai sumbangan sering merasa tidak punya ruang untuk menolak," jelasnya, dikutip dari Jawapos.

Dalam situasi tersebut, warga kerap berada dalam dilema. Jika menolak, mereka khawatir akan mendapat label negatif, seperti pelit, tidak peduli, atau bahkan antisosial.

Stigma itu membuat banyak orang akhirnya memilih memberi, meski dengan berat hati.

Baca Juga: Peminta Sumbangan Ditertibkan Satpol PP

"Kondisi ini membuat sumbangan berubah makna menjadi kewajiban yang tidak tertulis," katanya.

Pergeseran makna ini dinilai cukup signifikan.

"Yang tadinya tanda ketulusan dan rasa peduli, lama-lama menjadi simbol kepatuhan. Kalau tidak memberi, ada konsekuensi sosial yang harus ditanggung. Ini sangat berbeda dengan makna awalnya," ujar perempuan kelahiran Jember itu.

Lebih jauh, Nike menegaskan pentingnya kebebasan dalam berpartisipasi. Menurutnya, setiap individu memiliki kondisi finansial yang berbeda sehingga tidak bisa dipaksakan dalam satu standar yang sama.

Baca Juga: Tragis, Pemungut Sumbangan di Sungai Nipah Tewas Ditabrak Pickup, Begini Kronologinya

Karena itu, ia menilai perlu adanya ruang bagi masyarakat untuk menolak tanpa rasa bersalah. Memberi kebebasan untuk berpartisipasi sesuai kemampuan justru akan membuat warga merasa dihargai.

’’Jika nominal iuran diseragamkan, harus disertai pilihan lain bagi warga yang tidak mampu. Misalnya, mereka bisa membantu dalam bentuk tenaga atau barang,’’ paparnya.

Dengan demikian, semangat gotong royong tetap dapat terjaga tanpa menghilangkan nilai sukarela yang menjadi inti dari praktik tersebut.(*)

Editor : Chairunnisya
#Donasi #sosiologi #Sumbangan #sosial