Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jejak Van Houten, Penemu Cokelat Bubuk yang Mengubah Cara Dunia Menikmati Kakao

Silvina • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:46 WIB
Syafarudin Daeng Usman tengah menikmati minuman cokelat saat berkunjung ke Belanda
Syafarudin Daeng Usman tengah menikmati minuman cokelat saat berkunjung ke Belanda

 

Bagi sebagian orang, minuman cokelat hangat bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari rutinitas yang menenangkan.

Hal ini pula yang dirasakan banyak penikmat kakao, salah satunya Syafarudin Daeng Usman, Peneliti Sejarah di Kalbar. Ia selalu menikmati seduhan cokelat hangat bersama biskuit di pagi hari.

Cara menikmati kakao itu semakin berkesan dirasakan Syafafarudin ketika berkunjung ke Belanda. Menurut cerita dia, di sebuah toko khusus yang menjual aneka olahan cokelat, suasana ramai pengunjung menunjukkan betapa cokelat telah menjadi bagian penting dari budaya kuliner setempat.

Baca Juga: Dukung Optimalisasi Kakao Kolaka Utara, Pupuk Kaltim Hadirkan Produk Berkualitas hingga Edukasi Petani

Meski ruangannya tidak terlalu besar, aroma cokelat yang khas langsung menyambut setiap pengunjung yang datang.

Nama Besar di Balik Cokelat Bubuk

 Di sana, ingatan Syfarudin pun tertuju pada merek cokelat bubuk yang familiar di Indonesia, yakni Coenraad Johannes Van Houten. Nama tersebut ternyata bukan sekadar label, melainkan diambil dari sosok penting dalam sejarah pengolahan kakao.

Baca Juga: Resep Eton Mess Tart dengan Sentuhan Cokelat Putih Lumer

Seorang pramuniaga di toko tersebut menjelaskan Van Houten adalah seorang ahli kimia asal Belanda yang berjasa besar dalam dunia cokelat. Ia dikenal sebagai pelopor dalam menciptakan bubuk cokelat yang lebih halus dan mudah larut.

Inovasi yang Mengubah Industri Kakao

Pada tahun 1828, Van Houten menemukan mesin pengepres biji kakao berbasis hidrolik. Penemuan ini memungkinkan pemisahan lemak kakao (cocoa butter) dari padatan kakao, sehingga menghasilkan bubuk cokelat yang lebih ringan, mudah larut, dan memiliki cita rasa lebih lezat.

Baca Juga: Resep Kue Gulung Cokelat Lumer Antigagal dengan Sentuhan yang Menggoda

Inovasi ini tentu menjadi tonggak penting dalam perkembangan industri cokelat modern.“Penemuan Van Houten bukan hanya soal teknologi, tetapi membuka jalan bagi produksi massal cokelat bubuk yang bisa dinikmati masyarakat luas di berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Teknologi tersebut kemudian dipatenkan dan menjadi dasar produksi cokelat bubuk yang kini tersebar luas, termasuk di Indonesia.

Cokelat sebagai Budaya dan Gaya Hidup

Baca Juga: Java Man dan 28 Ribu Fosil Dubois Dipulangkan Belanda ke Indonesia

Perjalanan di Eropa Barat memperlihatkan cokelat tidak sekadar makanan, tetapi juga bagian dari gaya hidup. Di berbagai kota seperti Amsterdam hingga Luxembourg, olahan cokelat dijual dalam berbagai bentuk, bahkan hingga menjadi karya seni seperti manekin berbahan cokelat.

Suatu sore di Amsterdam, suasana menikmati cokelat hangat di sebuah kafe bersama keluarga dan sahabat menjadi momen yang tak terlupakan bagi Syafarudin. Tanpa tambahan gula berlebih, rasa manis alami cokelat sudah cukup memanjakan lidah.

Alunan musik instrumental yang mengiringi suasana menambah kenyamanan. Dengan biaya beberapa euro, pengalaman sederhana itu terasa begitu berkesan.

Baca Juga: Cara Praktis Membuat Dessert Mince Pies Cokelat Kopi Lezat

Refleksi dari Sebuah Nama

Dalam perjalanan kembali ke hotel, muncul refleksi sederhana tentang nama “Van Houten” yang selama ini dikenal luas di Indonesia. Ternyata, nama tersebut berasal dari tradisi penamaan khas Belanda, seperti “Van der” yang juga sering dijumpai.

Dari secangkir cokelat hangat, tersimpan kisah panjang tentang inovasi, sejarah, dan perjalanan budaya yang melintasi benua. Sebuah bukti bahwa di balik hal sederhana, sering kali terdapat cerita besar yang mengubah dunia.

 

 

Editor : Silvina
#van houten #kakao #cokelat #minuman #belanda