Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hikmah Besar Dibalik Kisah Nabi Sulaiman dan Semut yang Takut Terinjak  

Silvina • Selasa, 5 Mei 2026 | 15:19 WIB

 

Ilustrasi pasukan semut
Ilustrasi pasukan semut

 

PONTIANAK POST-Salah satu mukjizat yang dimiliki Nabi Sulaiman adalah kemampuannya berbicara dan memahami bahasa binatang. Dengan anugerah tersebut, ia tidak hanya memimpin manusia, tetapi juga bangsa jin dan berbagai makhluk lainnya.

Mengutip dari laman Perguruan Al-Amjad, kemampuan ini terlihat dalam sebuah kisah ketika Nabi Sulaiman melakukan perjalanan bersama bala tentaranya yang sangat besar.

Perjalanan Besar Bersama Pasukan

 Baca Juga: Nabi Muhammad dan Piagam Pembebasan Kaum Buruh

Dikisahkan, perjalanan Nabi Sulaiman diiringi pasukan yang terdiri dari manusia, jin, dan burung-burung. Barisan disusun dengan rapi, pasukan depan menjaga ketertiban, sementara pasukan belakang memastikan tidak ada yang tertinggal.

Burung-burung terbang di atas rombongan, seakan menjadi pelindung dari terik matahari. Perjalanan tersebut menunjukkan betapa terorganisir dan kuatnya kepemimpinan Nabi Sulaiman.

Seruan Pemimpin Semut

 Baca Juga: Keistimewaan Umar bin Khattab, Sahabat Nabi yang Dijamin Surga  

Di tengah perjalanan, rombongan melewati sebuah lembah yang menjadi habitat banyak semut. Seekor pemimpin semut bernama Jirsan dari Bani Syishibban segera memberi peringatan kepada koloninya.

Seruan itu bahkan diabadikan dalam Surah An-Naml ayat 18: “Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Reaksi Nabi Sulaiman

Baca Juga: Ingin Pahala Maksimal Salat Jumat, Lakukan Amalan Ini Sesuai Sunnah Nabi

Tak disangka, Nabi Sulaiman mendengar percakapan tersebut. Ia tersenyum, lalu tertawa kecil sebagai bentuk keheranan dan kekaguman atas makhluk kecil tersebut.

Namun, reaksi beliau tidak berhenti sampai di situ. Ia justru memanjatkan doa sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah, sebagaimana tertuang dalam ayat berikutnya (An-Naml: 19).

Doa itu berisi permohonan agar senantiasa mampu bersyukur, berbuat kebaikan, serta termasuk dalam golongan hamba-hamba yang saleh.

Baca Juga: Korpasgat Supadio Perketat Pemeriksaan di Bandara Nabire untuk Jaga Keamanan Obvitnas

Kepemimpinan yang Penuh Empati

Mendengar semut-semut merasa takut, Nabi Sulaiman tidak memaksakan perjalanan. Ia justru mengambil keputusan bijak dengan mengubah arah perjalanan agar tidak melewati lembah tersebut.

Keputusan ini menjadi bukti kepemimpinan sejati tidak hanya soal kekuatan dan kekuasaan, tetapi juga tentang empati terhadap makhluk lain, sekecil apa pun.

Baca Juga: Sekda Kalbar Tekankan Kepemimpinan Inspiratif dan Berintegritas untuk Kepentingan Masyarakat

Hikmah yang Bisa Dipetik

Kisah ini mengajarkan kekuasaan seharusnya diiringi dengan rasa syukur dan kepedulian. Bahkan terhadap makhluk kecil seperti semut, manusia diajarkan untuk tetap berhati-hati dan tidak merugikan.

Lebih dari itu, cerita Nabi Sulaiman menjadi pengingat setiap nikmat yang diberikan hendaknya membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan, bukan sebaliknya.

Editor : Silvina
#nabi sulaiman #kisah #Hikmah #semut #nabi