Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menguji Teori Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman dan Catatan Kritisnya

Silvina • Rabu, 6 Mei 2026 | 14:20 WIB
Struktur Candi Borobudur tampak dari jauh. (DOK JAWA POS)
Struktur Candi Borobudur tampak dari jauh. (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST-Teori Candi Borobudur sebagai peninggalan Nabi Sulaiman yang dikemukakan KH Fahmi Basya menuai perhatian luas. Pendapat tersebut didasarkan pada penafsiran ayat-ayat Alquran yang dikaitkan dengan simbol dan relief di Borobudur.

Namun, sejumlah kalangan akademisi dan ulama menilai teori ini memiliki beberapa kelemahan mendasar, baik dari sisi sejarah, tafsir, maupun pendekatan ilmiah.

Perbedaan Lokasi Negeri Saba

Baca Juga: Benarkah Candi Borobudur Warisan Nabi Sulaiman? Ini Ulasannya

Diresum dari laman islam.co oleh Fathurrahman Karyadi, salah satu titik lemah utama terletak pada penentuan lokasi negeri Saba. Dalam tafsir klasik, para ulama seperti Ibnu Katsir dan At-Thabari sepakat negeri Saba berada di wilayah Yaman Selatan.

Sementara itu, dalam teori Fahmi Basya, Saba dikaitkan dengan wilayah di Indonesia, seperti Wonosobo. Pandangan ini dinilai sulit diterima karena tidak sesuai dengan konteks geografis dan historis yang telah diakui secara luas.

Selain itu, dalam kajian komunikasi, penafsiran tersebut dianggap berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara pesan wahyu dengan pemahaman masyarakat Arab saat Alquran diturunkan.

Baca Juga: CEK FAKTA: [Hoaks] Pemasangan Eskalator di Candi Borobudur untuk Kunjungan Prabowo dan Emmanuel Macron

Jarak Geografis yang Tidak Sinkron

Kerajaan Nabi Sulaiman diyakini berada di wilayah Palestina, sedangkan negeri Saba di Yaman berjarak lebih dari 1.500 kilometer. Jarak ini masih masuk dalam konteks wilayah yang dikenal pada masa itu.

Namun, jika Saba dipindahkan ke Nusantara, jaraknya menjadi sangat jauh dan tidak memiliki dasar historis yang kuat. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa teori tersebut diragukan oleh para ahli.

Baca Juga: Wagub Kalbar Kunjungi Situs Raja Mawikng, Siapkan Anggaran untuk Pengembangan Cagar Budaya

Perbedaan Penafsiran Istilah dalam Al-Qur’an

Kritik juga diarahkan pada penafsiran istilah dalam Alquran. Misalnya, kata *arsy* yang dalam bahasa Arab lebih cenderung dimaknai sebagai singgasana atau kursi besar.

Dalam teori Fahmi Basya, istilah tersebut ditafsirkan sebagai stupa yang ada di kawasan candi. Perbedaan penafsiran ini dianggap terlalu jauh dari makna yang umum digunakan dalam kajian tafsir klasik.

Baca Juga: Hikmah Besar Dibalik Kisah Nabi Sulaiman dan Semut yang Takut Terinjak  

Risiko Tafsir Berbasis Pendekatan Non-Ilmiah

Sejumlah kalangan menilai pendekatan yang menggabungkan tafsir Alquran dengan teori non-arkeologis memiliki risiko tinggi. Penafsiran yang tidak didukung oleh metode ilmiah dapat menghasilkan kesimpulan yang spekulatif.

Hal ini juga disoroti dalam diskusi akademik yang menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran, terutama ketika dikaitkan dengan fenomena sejarah.

Baca Juga: Kenapa Wujud Nabi Muhammad Tidak Boleh Digambar? Ini Penjelasan Habib Husein Ja’far

Perbedaan Kronologi Sejarah

Kelemahan lain terletak pada perbedaan waktu. Nabi Sulaiman hidup sekitar abad ke-10 sebelum Masehi, sementara Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi oleh Dinasti Syailendra.

Selisih waktu yang mencapai ribuan tahun ini menjadi argumen kuat bagi para sejarawan untuk menolak keterkaitan langsung antara keduanya.

Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya

Kritik Tambahan dari Kalangan Akademisi

Beberapa kritik lain juga muncul, seperti:

* Perbedaan identitas tokoh Ratu Boko yang dalam sejarah dikenal sebagai pria, bukan Ratu Bilqis

* Minimnya bukti arkeologis yang mendukung klaim tersebut

* Dominannya pendekatan interpretatif dibandingkan data empiris

Baca Juga: 7 Fakta Unik Ramadan: Sejarah, Tradisi, dan Peristiwa Penting dalam Islam!

Para ahli menegaskan sejarah harus didasarkan pada bukti yang dapat diuji, bukan sekadar kesamaan simbol atau interpretasi subjektif.

Pentingnya Kehati-hatian dalam Menafsirkan Sejarah

Perdebatan ini menjadi pengingat penafsiran terhadap teks suci dan sejarah harus dilakukan dengan metode yang tepat. Menggabungkan keyakinan dengan kajian ilmiah memerlukan kehati-hatian agar tidak menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Baca Juga: Selamat Datang Bulan Jumadil Awal: Sejarah Islam dan Cara Memperbanyak Ibadah di Bulan Ini

Diskursus seperti ini juga membuka ruang bagi para akademisi, ulama, dan masyarakat untuk terus berdialog secara kritis dan konstruktif.

Pada akhirnya, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Namun, dalam memahami sejarah, pendekatan ilmiah tetap menjadi landasan utama agar kebenaran dapat dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam bishawab.

 

 
Editor : Silvina
#nabi sulaiman #candi #Catatan #borobudur #teori