Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam

Silvina • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:31 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

PONTIANAK POST– Perjanjian Hudaibiyah menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menunjukkan kecerdasan diplomasi Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam.

Meski tampak merugikan umat Islam pada awalnya, perjanjian ini justru membuka jalan besar bagi perkembangan dakwah Islam di kemudian hari.

Diawali Perjalanan Umrah

Baca Juga: Simak Doa Rasulullah  untuk Orang yang Hendak Pergi Haji  Beserta Dalilnya

Dilansir dari laman NU Online oleh Muchlison Ahmad, pada tahun ke-6 Hijriyah, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam mengajak para sahabat melaksanakan ibadah umrah ke Makkah.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan, sekitar 1.400 sahabat ikut dalam perjalanan tersebut. Mereka berangkat pada awal bulan Dzulqa’dah dengan niat beribadah, bukan berperang.

Rombongan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam ini tidak membawa persenjataan lengkap sebagaimana pasukan perang. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kedatangan mereka murni untuk menunaikan ibadah umrah.

Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya

Namun ketika tiba di Hudaibiyah, wilayah yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Makkah, rombongan umat Islam dicegat oleh kaum musyrik Quraisy. Mereka mempertanyakan tujuan kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam beserta para sahabat.

Diplomasi Panjang dengan Kaum Quraisy

Nabi Muhammad  Shallallahu’alaihiwasallam  menjelaskan tujuan kedatangan mereka hanya untuk beribadah. Akan tetapi, kaum Quraisy tidak langsung mempercayainya. Kedua belah pihak kemudian saling mengirim utusan untuk melakukan diplomasi dan memastikan maksud masing-masing.

Baca Juga: Melihat Perang di Zaman Rasulullah dan Pesan Kemanusiaannya

Beberapa kali perundingan berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan. Hingga akhirnya, kaum Quraisy mengutus Suhail bin Amr dan Mukriz dengan mandat penuh untuk bernegosiasi dengan umat Islam.

Kaum Quraisy memberikan syarat utama bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam dan rombongan tidak boleh memasuki Makkah pada tahun itu.

Lima Isi Perjanjian Hudaibiyah

Baca Juga: Pemerintah Minta WNI Tunda Perjalanan Ke Timur Tengah, Mohon Jemaah Umrah Kalbar Tenang

Setelah diskusi panjang, kedua pihak akhirnya menyepakati sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Shulhul Hudaibiyah atau Perjanjian Hudaibiyah.

Mengutip buku *Membaca Sirah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam dalam Sorotan Alquran dan Hadis-hadis Shahih* karya M Quraish Shihab, terdapat lima poin utama dalam perjanjian tersebut.

Pertama, dilakukan gencatan senjata selama 10 tahun antara kaum Muslim dan Quraisy Makkah.

Baca Juga: Cara Mengendalikan Amarah dalam Islam Menurut Quraish Shihab, Hindari Ucapan Kasar dan Kekerasan

Kedua, siapa pun dari kaum musyrik yang datang kepada baginda nabi tanpa izin keluarganya harus dikembalikan ke Makkah. Sebaliknya, jika ada umat Islam yang bergabung dengan kaum musyrik, maka tidak akan dikembalikan.

Ketiga, suku-suku Arab diberi kebebasan memilih bergabung dengan pihak Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam. atau kaum Quraisy. Saat itu, suku Khuza’ah memilih bersekutu dengan umat Islam, sedangkan Bani Bakar memihak kaum musyrik.

Keempat, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam  dan para sahabat belum diperbolehkan memasuki Makkah pada tahun tersebut. Mereka baru diizinkan datang pada tahun berikutnya selama tiga hari dan tanpa membawa senjata perang.

Baca Juga: Bagaimana Kita Menyikapi Dunia, Begini Cara Bijak Menurut Islam

Kelima, perjanjian dilakukan dengan penuh ketulusan tanpa pengkhianatan maupun penyelewengan dari kedua pihak.

Sempat Ditolak Sebagian Sahabat

Beberapa sahabat Nabi Muhammad , termasuk Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sempat merasa keberatan terhadap isi perjanjian. Mereka menilai beberapa poin tampak merugikan umat Islam, terutama terkait larangan masuk Makkah dan pengembalian kaum musyrik.

Baca Juga: Keistimewaan Umar bin Khattab, Sahabat Nabi yang Dijamin Surga  

Namun Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam  menjelaskan perjanjian tersebut memiliki hikmah besar bagi masa depan Islam. Setelah mendengar penjelasan Nabi, para sahabat akhirnya menerima keputusan itu meski dengan hati yang berat.

Hikmah Besar di Balik Perjanjian Hudaibiyah

Usai perjanjian disepakati, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam. dan rombongan kembali ke Madinah setelah sekitar 19 hingga 20 hari berada di Hudaibiyah.

Sebelum pulang, Nabi memerintahkan para sahabat bertahallul dengan mencukur rambut serta menyembelih hewan kurban. Dalam riwayat disebutkan, sebanyak 70 ekor unta disembelih saat itu.

Meski sempat dianggap merugikan, Perjanjian Hudaibiyah justru menjadi titik penting penyebaran Islam. Situasi damai membuat dakwah berkembang lebih luas dan membuka jalan menuju penaklukan Kota Makkah beberapa tahun kemudian.

Wallahua'lam

Editor : Silvina
#hudaibiyah #sejarah islam #strategi #Perjanjian #rasulullah