PONTIANAK POST–Ka’bah merupakan bangunan suci yang berada di Kota Makkah dan menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia saat melaksanakan salat. Bangunan yang juga dikenal sebagai Baitullah atau Rumah Allah ini memiliki sejarah panjang yang penuh makna spiritual.
Menariknya, para ulama dan sejarawan memiliki beberapa pendapat berbeda mengenai siapa yang pertama kali membangun Ka’bah.
Dilansir dari almunawwirkomplekq.com oleh Iqna Isti’nafiyah, sebagian pendapat menyebut Ka’bah telah ada sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam. Ada pula yang mengatakan Nabi Adam adalah sosok pertama yang membangunnya.
Baca Juga: Michelle Ziudith Akui Sempat Takut Perankan Amira di Assalamualaikum Baitullah
Namun, banyak ulama sepakat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bersama putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam, adalah pihak yang meninggikan kembali bangunan Ka’bah.
Ka’bah Dibangun atas Perintah Allah
Pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 127: وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ artinya, “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail.”
Baca Juga: Besok, Fenomena Alam Langka Bakal Terjadi di Langit Makkah
Dalam ayat tersebut dijelaskan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun kembali pondasi Baitullah sambil berdoa kepada Allah Subhanahuwata’ala agar amal mereka diterima.
Penjelasan Prof Quraish Shihab tentang Ka’bah
Menurut Prof. Quraish Shihab dalam bukunya *Haji dan Umrah: Uraian Manasik, Hukum, Hikmah, dan Panduan Meraih Haji Mabrur*, ayat tersebut memberi isyarat Ka’bah sebenarnya sudah ada sebelum Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Cara Mengendalikan Amarah dalam Islam Menurut Quraish Shihab, Hindari Ucapan Kasar dan Kekerasan
Namun, bangunan itu diduga telah runtuh atau rata dengan tanah, sehingga Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kembali meninggikan pondasinya sesuai perintah Allah Subhanahuwata’ala..
Pendapat ini menjadi salah satu penjelasan yang cukup dikenal dalam kajian sejarah Ka’bah.
Ka’bah Dibangun dengan Batu dari Lima Gunung
Baca Juga: Ojek Pendakian Gunung Rinjani, Dari Pangkas Waktu hingga Berbagi untuk Sesama
Dalam proses pembangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim dibantu langsung oleh Nabi Ismail. Saat itu, Nabi Ismail disebut telah berusia sekitar 30 tahun, sedangkan Siti Hajar berusia 90 tahun.
Bangunan Ka’bah pada masa itu memiliki tinggi sekitar tujuh hasta, meski ada pendapat lain yang menyebut tingginya mencapai sembilan hasta. Ka’bah juga belum memiliki atap seperti sekarang.
Menariknya, bahan bangunan Ka’bah disebut berasal dari lima gunung, yaitu: Gunung Thursina (Sinai), Gunung Thurzita, Gunung Libnan, Gunung Judi dan Gunung Nur.
Batu-batu tersebut digunakan untuk menyusun bangunan suci yang kini menjadi pusat ibadah umat Islam sedunia.
Kisah Hajar Aswad dan Makam Ibrahim
Ketika bangunan Ka’bah mulai meninggi, Nabi Ismail mengambil sebuah batu besar dari Jabal Qubais untuk membantu Nabi Ibrahim berdiri saat menyusun bangunan. Batu tersebut kini dikenal sebagai Maqam Ibrahim atau Makam Ibrahim.
Baca Juga: Ruben Onsu Jalani Umrah Perdana Usai Mualaf, Haru Saat Cium Hajar Aswad
Selain itu, tanda selesainya pembangunan Ka’bah ditandai dengan peletakan Hajar Aswad di salah satu sudut Ka’bah.
Hajar Aswad hingga kini menjadi bagian penting dari Ka’bah dan sering menjadi perhatian jamaah haji maupun umrah.
Ka’bah Menjadi Simbol Persatuan Umat Islam
Baca Juga: Bupati Sintang Ingatkan Pentingnya Persatuan dan Peran Umat Islam dalam Kemajuan Daerah
Ka’bah bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Setiap Muslim, dari berbagai negara dan latar belakang, menghadap ke arah yang sama saat melaksanakan shalat.
Karena itulah, Ka’bah memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam dan menjadi pusat ibadah haji serta umrah yang selalu dirindukan umat Muslim.
Editor : Silvina