Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar

Silvina • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:41 WIB
Ilustrasi kondisi Arab sebelum dakwah Nabi Muhammad Shallallahu
Ilustrasi kondisi Arab sebelum dakwah Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam menyebar

 

PONTIANAK POST–Sebelum diutusnya Nabi Muhammad , Jazirah Arab pernah mengalami masa kelam ketika ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalam perlahan tergeser oleh budaya penyembahan berhala.

Padahal pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, masyarakat di sekitar Ka’bah mengenal tauhid dan menjauhi kesyirikan.

Namun seiring berjalannya waktu, keimanan masyarakat mulai tergerus hingga berhala-berhala memenuhi tanah suci Makkah.

Baca Juga: Jemaah Kalbar Mulai Padati Tanah Suci, Suhu Arab Saudi di Atas 39 Derajat  

Awal Mula Berhala Masuk ke Tanah Arab

Nurfitri Hadi lewat laman kisahmuslim.com menceritakan perubahan besar itu dipelopori Amr bin Luhai al-Khuza’i,  pemimpin Kabilah Khuza’ah yang sangat dihormati masyarakat Arab saat itu.

Ia dikenal sebagai tokoh agama sekaligus pemimpin politik di Makkah. Dalam sebuah perjalanan ke wilayah Syam, Amr melihat masyarakat setempat menyembah patung-patung. Ia kemudian tertarik dan membawa tradisi tersebut ke Makkah.

Baca Juga: Sembilan Calon Haji Meninggal, 172 Lainnya Dirujuk ke Rumah Sakit di Arab Saudi

Dari sinilah berhala Hubal mulai ditempatkan di dekat Ka’bah dan menjadi berhala terbesar kaum Quraisy.

Menurut riwayat, Hubal dibuat dari batu akik merah berbentuk manusia. Ketika tangan kanannya rusak, kaum Quraisy menggantinya dengan emas.

Setelah Hubal, berbagai berhala lain mulai tersebar di Jazirah Arab seperti Latta, Uzza, dan Manat yang kemudian disembah oleh berbagai kabilah Arab.

Baca Juga: Barcelona Incar Anthony Gordon dari Newcastle, Raphinha Tolak Duit Gede Arab Saudi

Kaum Arab Tetap Mengenal Allah

Meski dipenuhi kesyirikan, masyarakat Arab jahiliyah sebenarnya tetap meyakini Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Allah Subhanahuwata’ala  berfirman:

 وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ

Artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (QS Luqman: 25)

Baca Juga: Pendaftaran Seleksi Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi 2026 Resmi Dibuka, Berikut Jadwal dan Persyaratannya

Namun setan membisikkan keyakinan berhala-berhala itu dapat menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Allah juga berirman yang artinya : “Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).” (QS Az-Zumar: 3)

Ayat ini menjelaskan masyarakat Arab jahiliyah mencampur keimanan kepada Allah dengan praktik kesyirikan.

Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan  

Tradisi Jin dan Perdukunan di Masa Jahiliyah

Selain penyembahan berhala, masyarakat Arab sebelum Islam juga akrab dengan praktik perdukunan dan meminta perlindungan kepada jin.

Mereka percaya para dukun mendapatkan informasi gaib melalui bantuan setan dan jin.

Baca Juga: Waspada Syirik, Dosa Besar Paling Besar yang Menghapus  Amal 

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ

Artinya: “Dan ada beberapa laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada laki-laki dari golongan jin.” (QS Al-Jin: 6)

Baca Juga: Diperiksa KPK, Eks Menpora Ungkap Isi Pertemuan Jokowi dengan Pangeran MBS di Arab Saudi

Praktik tersebut begitu menyebar di masyarakat Arab hingga sebagian orang menjadikannya sebagai profesi.

Segelintir Orang yang Masih Bertauhid

Di tengah pekatnya kesyirikan, masih ada beberapa orang yang tetap berpegang pada ajaran tauhid Nabi Ibrahim.

Baca Juga: Apa Itu Syirik? Begini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Ajaran Islam

Salah satunya ialah Zaid bin Amr bin Nufail. Ia menolak memakan sembelihan yang dipersembahkan untuk berhala.

Zaid berkata: Aku tidak memakan apa yang kalian sembelih untuk berhala-berhala kalian.

Selain Zaid, ada pula Waraqah bin Naufal yang masih memegang ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam sebelum datangnya Islam.

Baca Juga: Singkawang Siap Gelar Gawai Dayak Naik Dango XXVI 2026, Harmoni Budaya di Kota Tertoleran

Pelajaran Penting Bagi Umat Islam

Kisah sejarah masuknya berhala ke Jazirah Arab menjadi pelajaran penting bahwa penyimpangan akidah dapat terjadi jika umat lalai menjaga ilmu dan dakwah tauhid.

Tanah suci yang dahulu dipenuhi ajaran Nabi Ibrahim pun pernah berubah menjadi pusat penyembahan berhala sebelum akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad  untuk mengembalikan manusia kepada tauhid yang murni.

Karena itu, menjaga akidah dan memperkuat pemahaman agama menjadi tanggung jawab setiap muslim agar tidak terjerumus pada kesyirikan dalam berbagai bentuknya.

 

 

Editor : Silvina
#jazirah arab #berhala #sejarah #dakwah #nabi muhammad