PONTIANAK POST–Sebelum diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, Jazirah Arab pernah mengalami masa kelam ketika ajaran tauhid Nabi Ibrahim ‘alaihissalam perlahan tergeser oleh budaya penyembahan berhala.
Padahal pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, masyarakat di sekitar Ka’bah mengenal tauhid dan menjauhi kesyirikan.
Namun seiring berjalannya waktu, keimanan masyarakat mulai tergerus hingga berhala-berhala memenuhi tanah suci Makkah.
Baca Juga: Jemaah Kalbar Mulai Padati Tanah Suci, Suhu Arab Saudi di Atas 39 Derajat
Awal Mula Berhala Masuk ke Tanah Arab
Nurfitri Hadi lewat laman kisahmuslim.com menceritakan perubahan besar itu dipelopori Amr bin Luhai al-Khuza’i, pemimpin Kabilah Khuza’ah yang sangat dihormati masyarakat Arab saat itu.
Ia dikenal sebagai tokoh agama sekaligus pemimpin politik di Makkah. Dalam sebuah perjalanan ke wilayah Syam, Amr melihat masyarakat setempat menyembah patung-patung. Ia kemudian tertarik dan membawa tradisi tersebut ke Makkah.
Baca Juga: Sembilan Calon Haji Meninggal, 172 Lainnya Dirujuk ke Rumah Sakit di Arab Saudi
Dari sinilah berhala Hubal mulai ditempatkan di dekat Ka’bah dan menjadi berhala terbesar kaum Quraisy.
Menurut riwayat, Hubal dibuat dari batu akik merah berbentuk manusia. Ketika tangan kanannya rusak, kaum Quraisy menggantinya dengan emas.
Setelah Hubal, berbagai berhala lain mulai tersebar di Jazirah Arab seperti Latta, Uzza, dan Manat yang kemudian disembah oleh berbagai kabilah Arab.
Baca Juga: Barcelona Incar Anthony Gordon dari Newcastle, Raphinha Tolak Duit Gede Arab Saudi
Kaum Arab Tetap Mengenal Allah
Meski dipenuhi kesyirikan, masyarakat Arab jahiliyah sebenarnya tetap meyakini Allah sebagai pencipta langit dan bumi. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ
Artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (QS Luqman: 25)
Namun setan membisikkan keyakinan berhala-berhala itu dapat menjadi perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah juga berirman yang artinya : “Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik).” (QS Az-Zumar: 3)
Ayat ini menjelaskan masyarakat Arab jahiliyah mencampur keimanan kepada Allah dengan praktik kesyirikan.
Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan
Tradisi Jin dan Perdukunan di Masa Jahiliyah
Selain penyembahan berhala, masyarakat Arab sebelum Islam juga akrab dengan praktik perdukunan dan meminta perlindungan kepada jin.
Mereka percaya para dukun mendapatkan informasi gaib melalui bantuan setan dan jin.
Baca Juga: Waspada Syirik, Dosa Besar Paling Besar yang Menghapus Amal
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ
Artinya: “Dan ada beberapa laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada laki-laki dari golongan jin.” (QS Al-Jin: 6)
Baca Juga: Diperiksa KPK, Eks Menpora Ungkap Isi Pertemuan Jokowi dengan Pangeran MBS di Arab Saudi
Praktik tersebut begitu menyebar di masyarakat Arab hingga sebagian orang menjadikannya sebagai profesi.
Segelintir Orang yang Masih Bertauhid
Di tengah pekatnya kesyirikan, masih ada beberapa orang yang tetap berpegang pada ajaran tauhid Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Apa Itu Syirik? Begini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Ajaran Islam
Salah satunya ialah Zaid bin Amr bin Nufail. Ia menolak memakan sembelihan yang dipersembahkan untuk berhala.
Zaid berkata: Aku tidak memakan apa yang kalian sembelih untuk berhala-berhala kalian.
Selain Zaid, ada pula Waraqah bin Naufal yang masih memegang ajaran Nabi Isa ‘alaihissalam sebelum datangnya Islam.
Baca Juga: Singkawang Siap Gelar Gawai Dayak Naik Dango XXVI 2026, Harmoni Budaya di Kota Tertoleran
Pelajaran Penting Bagi Umat Islam
Kisah sejarah masuknya berhala ke Jazirah Arab menjadi pelajaran penting bahwa penyimpangan akidah dapat terjadi jika umat lalai menjaga ilmu dan dakwah tauhid.
Tanah suci yang dahulu dipenuhi ajaran Nabi Ibrahim pun pernah berubah menjadi pusat penyembahan berhala sebelum akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ untuk mengembalikan manusia kepada tauhid yang murni.
Karena itu, menjaga akidah dan memperkuat pemahaman agama menjadi tanggung jawab setiap muslim agar tidak terjerumus pada kesyirikan dalam berbagai bentuknya.
Editor : Silvina