PONTIANAK POST– Paris memang selalu berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menapakkan kaki di sana. Kota yang dijuluki pusat romantisme dunia itu bukan hanya menghadirkan panorama indah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang mengubah wajah Eropa.
Hal itu pula yang dirasakan peneliti dan pengamat sejarah Kalbar, Syafaruddin Daeng Usman, saat bersama istrinya mengunjungi Prancis dalam perjalanan lebih dari empat pekan mengelilingi Eropa. Salah satu lokasi yang paling membekas di benaknya adalah Chateau du Versailles, istana megah yang identik dengan kejayaan monarki Prancis.
Versailles berdiri megah di area seluas sekitar delapan belas kilometer persegi di barat daya Paris. Awalnya, kawasan tersebut hanyalah pondok berburu milik Raja Louis XIV. Namun, ambisi sang raja kemudian mengubahnya menjadi simbol kemewahan terbesar dalam sejarah arsitektur French Baroque.
Baca Juga: Kisah Sultan Kosen, Manusia Tertinggi di Dunia yang Kini Berjuang Mencari Cinta
“Ruangan-ruangannya begitu harum. Kaca terdapat di setiap sudut dan kristal menggantung di langit-langit,” ungkap Syafaruddin menggambarkan kekagumannya saat menyusuri La Grand Appartement du Roi, salah satu ruangan paling ikonik di Versailles.
Versailles dan Kehidupan Marie Antoinette
Di balik kemewahan istana itu, tersimpan kisah pilu keluarga kerajaan Perancis, terutama tentang Ratu Marie Antoinette dan Raja Louis XVI yang kemudian menjadi simbol runtuhnya monarki Prancis.
Baca Juga: Kisah Al Ghazali dan Alyssa Daguise: Dari Tiket Festival hingga Cinta Sejati
Syafaruddin mengaku banyak mendengar kisah sejarah itu dari sahabatnya, Johan, yang mengetahui banyak tentang istana Versailles. Dalam perjalanan menuju Paris bersama Johan dan Claudia, berbagai cerita tentang Revolusi Prancis seolah membawa masa lalu hidup kembali.
Menurut Johan, salah satu masa paling kelam bagi keluarga kerajaan terjadi pada 4 Juni 1789. Saat itu, keluarga kerajaan masih berduka atas wafatnya putra mahkota Louis Joseph Xavier Francois yang meninggal akibat tuberculosis pada usia belum genap tujuh tahun.
“Belum pulih luka sang ratu, rakyat Prancis justru mulai bergerak mengguncang kerajaan,” tutur Johan kepada Syafaruddin.
Baca Juga: Jejak Van Houten, Penemu Cokelat Bubuk yang Mengubah Cara Dunia Menikmati Kakao
Tak lama kemudian, rakyat menyerbu Penjara Bastille pada 14 Juli 1789. Peristiwa itu menjadi titik balik Revolusi Prancis sekaligus awal runtuhnya kekuasaan kerajaan.
Cinta Louis XVI kepada Sang Ratu
Di tengah kekacauan politik dan tekanan rakyat, tersimpan kisah cinta mendalam antara Louis XVI dan Marie Antoinette. Raja Prancis itu disebut sangat mengagumi kecantikan istrinya sejak pertama kali perempuan asal Austria tersebut datang ke Versailles pada usia empat belas tahun.
Baca Juga: Kota Pompeii yang Musnah Mendadak, Benarkah Mirip Kisah Kaum Nabi Luth?
Menurut kisah yang didengar Syafaruddin, Louis XVI pernah mengungkapkan selama pernikahannya, tidak ada satu menit pun dirinya berhenti mengagumi kecantikan Marie Antoinette.
Ketika situasi Prancis semakin genting, Louis XVI bahkan meminta seorang bangsawan Swedia, Baron Axel Fersen, untuk membawa istri dan anak-anaknya keluar dari Perancis demi keselamatan mereka.
Namun Marie Antoinette memilih tetap bersama suaminya. “Dia tidak tega meninggalkan Louis XVI dalam keadaan seperti itu,” ungkap Claudia dalam perjalanan tersebut.
Baca Juga: Penelitian DNA Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Penduduk Kota Pompeii Kuno
Keputusan itu memperlihatkan sisi lain Marie Antoinette yang selama ini sering digambarkan hanya sebagai simbol kemewahan kerajaan.
Revolusi Prancis dan Akhir Tragis Keluarga Kerajaan
Kisah tragis keluarga kerajaan terus berlanjut ketika mereka dipindahkan dari Versailles menuju Istana Tuileries, sebelum akhirnya ditangkap dan dipenjara di Temple Prison.
Baca Juga: Jejak Kota Sodom di Tepi Laut Mati, Benarkah Bekas Kaum Nabi Luth?
Louis XVI kemudian dihukum mati dengan guillotine pada 21 Januari 1793 di Place de la Revolution. Sembilan bulan kemudian, tepatnya 16 Oktober 1793, Marie Antoinette menyusul nasib suaminya di bawah pisau guillotine.
Menurut cerita Johan dan Claudia, menjelang eksekusi, Marie Antoinette tetap tampil tenang meski tanpa kemewahan yang dahulu melekat padanya. “Sebelum kepalanya diletakkan di bawah guillotine, dia masih sempat membungkuk memberi hormat kepada rakyat,” tutur Johan.
Bagi Syafaruddin Daeng Usman, perjalanan ke Versailles bukan sekadar wisata sejarah biasa. Istana itu menghadirkan refleksi tentang cinta, kekuasaan, pengkhianatan, dan runtuhnya sebuah peradaban besar.
Baca Juga: Mencari Angin di Negeri Kincir Angin (bagian-2): Dari Rotterdam Menuju Kinderdijk yang Mendunia
Versailles kini tetap berdiri megah sebagai saksi bisu bagaimana romantisme kerajaan Prancis akhirnya berakhir tragis di tengah gelombang Revolusi Prancis yang mengguncang dunia.
Editor : Silvina