Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengapa Hajar Aswad Dulunya Putih Sekarang Menghitam? Ini Kisah dan Maknanya

Silvina • Jumat, 5 Juni 2026 | 09:45 WIB

 

Hajar Aswad, batu mulia di sudut ka
Hajar Aswad, batu mulia di sudut ka'bah yang kini bewarna hitam (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST – Di sudut Ka'bah yang setiap tahun dikelilingi jutaan jamaah haji dan umrah, terdapat sebuah batu yang menjadi salah satu simbol paling terkenal dalam sejarah Islam. Batu itu adalah Hajar Aswad, batu yang diyakini berasal dari surga dan memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan spiritual umat Muslim.

Tak hanya menjadi bagian dari manasik haji dan umrah, Hajar Aswad juga menyimpan kisah panjang yang sarat pelajaran tentang dosa, keimanan, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Batu Surga yang Menjadi Bagian Sejarah Ka'bah

Baca Juga: Gus Mus Jelaskan Arti Haji Mabrur: Bukan Soal Cium Hajar Aswad, tapi Sikap kepada Sesama

Menurut dr. Raehanu Bahraen dalam tulisannya di Muslim.or.id, Hajar Aswad merupakan batu yang berada di salah satu sudut Ka'bah dan disunnahkan untuk dicium atau disentuh ketika melaksanakan tawaf, jika memungkinkan.

Nama Hajar Aswad berasal dari bahasa Arab. "Hajar" berarti batu, sedangkan "Aswad" berarti hitam. Namun dalam berbagai riwayat disebutkan batu tersebut pada awalnya tidak berwarna hitam.

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

Baca Juga: Fakta Menarik Ka’bah, Dari Kiblat Umat Islam hingga Dikaitkan dengan Pusat Bumi

"Hajar Aswad turun dari surga, dan ia lebih putih daripada susu. Dosa-dosa anak Adamlah yang menjadikannya hitam." (HR Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan warna batu itu bahkan lebih putih daripada salju sebelum akhirnya menghitam karena dosa manusia.

Bagi umat Islam, hadis tersebut dipahami sebagai hakikat sebagaimana yang dijelaskan para ulama, bukan sekadar kiasan atau simbolis.

Baca Juga: Mengapa Salat Harus Menghadap Kiblat ? Ini Penjelasan Ulama  

Pelajaran Besar di Balik Warna Hitam Hajar Aswad

Sejak masa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam hingga kini, Hajar Aswad telah menjadi saksi perjalanan panjang umat manusia.

Para ulama menjelaskan perubahan warna batu tersebut menyimpan pesan moral yang sangat mendalam. Jika dosa manusia mampu memberi pengaruh pada batu yang keras, maka pengaruh dosa terhadap hati manusia tentu jauh lebih besar.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan Allah Subhanahuwata’ala  menetapkan keadaan tersebut sebagai bagian dari hikmah-Nya. Meskipun Allah mampu mengembalikan warna batu itu menjadi putih, Dia menghendaki agar Hajar Aswad tetap menjadi pelajaran yang dapat dilihat oleh manusia sepanjang zaman.

Baca Juga: Kemenhaj Pontianak Ingatkan Modus Penipuan Haji dan Umrah, Masyarakat Diminta Lebih Waspada

Al-Muhibb Ath-Thabari bahkan menyebut keberadaan warna hitam itu sebagai ibrah atau pelajaran berharga bagi orang-orang yang memiliki ketajaman hati dan penglihatan batin.

Dari Zaman Nabi Ibrahim hingga Jutaan Jamaah Masa Kini

Dalam perspektif sejarah Islam, Hajar Aswad memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Nabi Ismail ‘Alaihissalam.

Baca Juga: Jemaah Haji Asal Pontianak Meninggal di Mekkah, Sempat Dirawat di RS Al Noor

Batu tersebut telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari masa kenabian, era jahiliah, masa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam hingga perkembangan Islam di berbagai penjuru dunia.

Menariknya, ketika Ka'bah direnovasi sebelum masa kenabian Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, hampir terjadi konflik besar antarsuku Quraisy mengenai siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad pada posisinya.

Perselisihan itu akhirnya diselesaikan secara bijaksana oleh Nabi Muhammad.Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya, lalu meminta para pemimpin suku bersama-sama mengangkatnya. Setelah mencapai posisi yang ditentukan, Nabi Muhammad  sendiri yang meletakkannya pada tempat semula.

Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bukti kebijaksanaan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

Hajar Aswad Akan Menjadi Saksi pada Hari Kiamat

Keistimewaan Hajar Aswad tidak hanya terkait sejarah dan simbolisme. Dalam hadis lain, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan batu tersebut akan menjadi saksi pada hari kiamat.

Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya

Beliau bersabda:

"Demi Allah, Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari kiamat. Ia memiliki dua mata untuk melihat dan lisan untuk berbicara. Ia akan menjadi saksi bagi orang yang menyentuhnya dengan benar." (HR Tirmidzi).

Karena itulah, banyak jamaah haji dan umrah berusaha mendekati serta menyentuh Hajar Aswad ketika memiliki kesempatan, sebagai bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Baca Juga: Siapakah Sebenarnya Orang Indonesia Pertama yang Menunaikan Haji ke Tanah Suci ?   

Simbol Keimanan yang Terus Mengingatkan Manusia

Bagi umat Islam, Hajar Aswad bukanlah benda yang disembah ataupun dianggap memiliki kekuatan sendiri. Kehormatannya berasal dari kedudukan yang diberikan Allah Subhanahuwata’ala  serta keterkaitannya dengan sejarah para nabi.

Lebih dari itu, batu yang diyakini berasal dari surga tersebut menjadi pengingat dosa dapat meninggalkan bekas yang nyata, sementara ketaatan dan ketulusan menjadi jalan untuk menjaga kebersihan hati.

Selama lebih dari ribuan tahun, Hajar Aswad tetap berada di sudut Ka'bah sebagai saksi perjalanan umat manusia. Ia bukan hanya bagian dari sejarah Islam, tetapi juga simbol yang terus mengingatkan bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Subhanahuwata’ala.

Wallahua'lam bishawab 

Editor : Silvina
#batu dari surga #HR Tirmidzi #batu mulai di sudut ka'bah #jemaah haji dan umrah #Hajar Aswad