PONTIANAK POST – Di tengah hamparan gurun yang gersang dan nyaris tanpa kehidupan, lahirlah sebuah kisah hingga kini terus dikenang miliaran umat Muslim di seluruh dunia. Dari sebuah lembah tandus di Mekah, muncul mata air yang tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga simbol harapan, keteguhan iman, dan pertolongan Tuhan yang melampaui batas zaman.
Air itu dikenal dengan nama Zamzam. Bagi umat Islam, Zamzam bukan sekadar sumber air. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang berakar pada perjalanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, istrinya Hajar, dan putranya Nabi Ismail ‘Alaihissalam. Hingga kini, sumur yang diyakini telah ada selama ribuan tahun itu terus mengalir dan menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah haji dan umrah.
Dari Lembah Sepi Menjadi Pusat Peradaban Islam
Baca Juga: Baru Tiba 999 Dus, Air Zamzam Jemaah Haji Kalbar Datang Bertahap, Distribusi Mulai Dilakukan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Donny Syofyan, di laman Suara Muhammadiyah menjelaskan kisah Zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam menjalankan perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih bayi di sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Mekah.
Saat itu, wilayah tersebut jauh dari keramaian dan tidak memiliki sumber kehidupan yang memadai. Namun, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah tersebut dengan penuh kepasrahan dan keyakinan.
Dalam perspektif sejarah keagamaan, peristiwa ini menjadi salah satu titik penting yang kemudian membentuk perjalanan peradaban Islam. Dari lokasi yang dahulu nyaris tak berpenghuni, Mekah tumbuh menjadi pusat spiritual yang setiap tahun didatangi jutaan umat Muslim dari berbagai negara.
Baca Juga: Siapakah Sebenarnya Orang Indonesia Pertama yang Menunaikan Haji ke Tanah Suci ?
Tidak ada yang dapat membayangkan lembah yang tampak sunyi dan tak menjanjikan itu kelak menjadi jantung dunia Islam.
Perjuangan Hajar yang Diabadikan dalam Ibadah Haji
Kisah Zamzam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan Hajar sebagai seorang ibu. Ketika persediaan makanan dan air habis, Hajar berusaha mencari pertolongan demi menyelamatkan Ismail yang kehausan.Ia berlari dari Bukit Safa menuju Bukit Marwa, lalu kembali lagi ke Safa, berulang kali hingga tujuh kali perjalanan.
Baca Juga: Ini Tujuh Amalan Berpahala Seperti Ibadah Haji yang Bisa Dilakukan Setiap Hari
Upaya yang dilakukan dengan penuh keputusasaan namun tidak kehilangan harapan itu kemudian diabadikan dalam ritual Sa'i yang menjadi bagian wajib ibadah haji dan umrah.
Ritual tersebut menjadi simbol khtiar harus berjalan seiring dengan doa dan keyakinan kepada Tuhan. Hajar tidak hanya menunggu keajaiban datang, tetapi juga berusaha semaksimal mungkin sebelum pertolongan Allah Subhanahuwata’ala tiba.
Munculnya Mata Air yang Mengubah Sejarah
Baca Juga: Wakaf 220 Tahun dari Tokoh Aceh Ini Masih Mengalir, Ribuan Jemaah Haji Terima Rp9,2 Juta
Menurut tradisi Islam, pada saat Hajar berada dalam kondisi paling sulit, Allah Subhanahuwata’ala mengutus Malaikat Jibril untuk memberikan pertolongan.
Dikisahkan, dari tempat Ismail kecil menghentakkan kakinya atau dari titik yang disentuh Malaikat Jibril, air memancar keluar dari dalam tanah.
Melihat air yang terus mengalir, Hajar segera berusaha menampungnya agar tidak terbuang. Dalam riwayat yang populer, ia mengucapkan kata "zam zam" yang berarti "berkumpullah" atau "tertahanlah".Sejak saat itu, mata air tersebut dikenal sebagai Zamzam.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pulang dari Makkah, Ini Tanda-Tanda Haji Mabrur Menurut Ulama
Peristiwa tersebut menjadi titik balik yang menentukan sejarah kawasan Mekah. Kehadiran sumber air membuat wilayah tersebut mulai didatangi para musafir dan kafilah dagang. Perlahan, kehidupan tumbuh di sekitar sumur itu hingga berkembang menjadi kota yang kelak menjadi pusat penyebaran Islam.
Sumur Purba yang Tak Pernah Berhenti Mengalir
Salah satu hal yang membuat Zamzam begitu istimewa adalah keberlangsungannya selama ribuan tahun.
Baca Juga: Di Sinilah Nabi Ismail Akan Disembelih, Lokasinya Masih Bisa Dilihat Jamaah Haji
Di tengah lingkungan gurun yang terkenal kering dan panas, sumur Zamzam tetap menghasilkan air dan memenuhi kebutuhan jutaan jamaah yang datang ke Tanah Suci setiap tahun.
Bagi umat Islam, keberadaan Zamzam dipandang sebagai salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahuwata’ala yang terus berlangsung dari generasi ke generasi.
Air Zamzam juga memiliki makna spiritual yang sangat kuat. Banyak jamaah haji dan umrah membawa pulang air ini sebagai oleh-oleh sekaligus simbol berkah dari Tanah Suci.
Baca Juga: Mengapa Hajar Aswad Dulunya Putih Sekarang Menghitam? Ini Kisah dan Maknanya
Simbol Harapan dan Keteguhan Iman
Lebih dari sekadar kisah tentang sumber air, sejarah Zamzam mengajarkan nilai-nilai penting yang tetap relevan hingga saat ini.
Perjalanan Hajar menunjukkan kesabaran, usaha, dan keyakinan tidak boleh berhenti meski keadaan tampak mustahil. Di tengah keputusasaan, ia tetap bergerak dan berharap kepada Tuhan.
Sementara itu, kepatuhan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah Subhanahuwata’ala menjadi gambaran tentang keteguhan iman yang luar biasa.
Baca Juga: Fakta Menarik Ka’bah, Dari Kiblat Umat Islam hingga Dikaitkan dengan Pusat Bumi
Karena itulah, Zamzam tidak hanya dipandang sebagai air yang menghilangkan dahaga. Ia menjadi simbol pertolongan Tuhan selalu hadir bagi mereka yang berserah diri dan terus berikhtiar.
Ribuan tahun telah berlalu sejak mata air itu pertama kali muncul. Namun hingga kini, Zamzam tetap mengalir sebagai saksi sejarah yang menghubungkan umat Islam dengan kisah agung Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail ‘Alahissalam.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina