Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Menyusuri Sejarah Besar Austria di Museum Wien Stadt yang Terasa Begitu Mistis

Silvina • Senin, 8 Juni 2026 | 09:19 WIB

 

Halaman depan Wien Stadt Museum yang terasa begitu mistis   (IST)
Bagian depan Wien Stadt Museum yang didalamnya terasa begitu mistis (IST)
PONTIANAK POST – Wina dikenal sebagai kota bersejarah yang dipenuhi istana megah, museum kelas dunia, dan bangunan klasik peninggalan Kekaisaran Habsburg. Namun, di antara berbagai destinasi sejarah tersebut, terdapat satu museum yang meninggalkan kesan berbeda bagi peneliti dan penulis sejarah Kalimantan Barat, Syafaruddin Daeng Usman.

Saat berkunjung ke Austria belum lama ini, Syafaruddin menyempatkan diri mengunjungi Wien Stadt Museum atau Museum Kota Wina. Berbeda dengan museum-museum terkenal lainnya di ibu kota Austria, museum ini justru menghadirkan suasana tenang, misterius, dan bahkan terkesan angker.

Museum Modern yang Menyimpan Sejarah Ribuan Tahun

Baca Juga: Menguak Sejarah Kelam di Balik Lukisan Mustafa Pasha di Museum Wina yang Terkesan Angker

Wien Stadt Museum dibangun untuk merekam perjalanan panjang Kota Wina sejak masa prasejarah hingga era modern. Lokasinya berada tepat di belakang Gereja St. Charles (Karlskirche), salah satu ikon arsitektur Kota Wina yang terkenal dengan kubah besarnya yang dihiasi ornamen emas.

Menurut Syafaruddin, bangunan museum ini tampak berbeda dibandingkan museum-museum bersejarah lain di Wina yang umumnya bergaya klasik Rococo atau Barok. Arsitekturnya terlihat lebih modern sehingga sekilas tidak menampilkan kesan bangunan tua khas Eropa.

Dengan tiket masuk seharga enam euro, pengunjung dapat menjelajahi tiga lantai yang masing-masing menyajikan periode sejarah berbeda. Lantai pertama mengisahkan Wina pada masa prasejarah hingga awal sejarah, lantai kedua membahas perkembangan kota dari tahun 800 hingga 1900 Masehi, sementara lantai ketiga menampilkan perjalanan Wina sejak abad ke-20 hingga masa kini.

Baca Juga: Pemkot Pontianak Dorong Pembangunan Museum Kota untuk Lestarikan Sejarah dan Nilai Perjuangan

Cahaya Remang yang Membuat Museum Terasa Mistis

Bagi Syafaruddin, kesan paling kuat justru muncul ketika memasuki lantai dua museum. Ruangan yang luas dipenuhi sekat-sekat kayu tua, lemari antik berusia ratusan tahun, lukisan tokoh-tokoh bersejarah, serta patung-patung yang berdiri dalam pencahayaan redup.

“Cahaya remang-remang membuat ruang museum makin berkesan mistis,” ujarnya.Menurutnya, suasana seperti ini memang lazim ditemukan di sejumlah museum Eropa. Lampu yang minim sengaja digunakan untuk menjaga koleksi berusia ratusan tahun sekaligus menciptakan atmosfer yang khas.

Baca Juga: Seniman Indonesia Menghidupkan ‘Keajaiban Dunia’ di Melaka: Bangunan Tua 1917 yang Disulap Jadi Museum 3D

Namun, ketika pengunjung berada sendirian di tengah ruang yang dipenuhi lukisan wajah manusia dan patung kuno, imajinasi bisa dengan mudah berkembang. Kilatan cahaya dari kamera pengunjung yang sesekali menyala justru menambah kesan wajah-wajah dalam lukisan tersebut seakan hidup.

“Patung-patung dan lukisan tua itu membuat ruang terasa magis. Sesekali muncul bayangan seolah-olah benda-benda itu bergerak,” kenangnya.

 Menyaksikan Jejak Kebesaran Kekaisaran Austria

Baca Juga: Austria Rilis Skuad Resmi Piala Dunia 2026, Ralf Rangnick Bertaruh pada Pengalaman Alaba dan Ketajaman Arnautovic

Di lantai dua inilah, menurut Syafaruddin, sejarah Wina yang sesungguhnya tersaji. Berbagai koleksi menggambarkan perjalanan panjang Austria sebagai pusat kekuasaan Dinasti Habsburg yang pernah mengendalikan wilayah luas di Eropa.

Lukisan-lukisan keluarga kerajaan, dokumen bersejarah, hingga maket Kota Wina abad ke-18 menjadi saksi kejayaan Austria pada masa lalu. Dari kota inilah berbagai keputusan politik penting pernah memengaruhi perjalanan Eropa selama berabad-abad.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah maket Wina kuno yang memperlihatkan tata kota pada era 1700-an. Melalui miniatur tersebut, pengunjung dapat membayangkan seperti apa wajah ibu kota Austria sebelum berbagai perang besar mengubah lanskap Eropa.

Baca Juga: Dari Kota Pengrajin Kulit Menjadi Ibukota Parfum Dunia, Ini Sejarah Grasse

“Banyak bangunan yang dahulu berdiri megah kini hanya menjadi bagian dari sejarah,” kata Syafaruddin.

Syafaruddin Daeng Usman bersama para sahabat di Wina (IST)
Syafaruddin Daeng Usman bersama para sahabat di Wina (IST)

Death Mask dan Imajinasi yang Mengusik Pikiran

Kesan angker museum semakin kuat ketika Syafaruddin menemukan sejumlah death mask atau topeng kematian di dekat area lantai dua.

Baca Juga: Menyusuri Istana Versailles di Prancis, Kisah Cinta Louis XVI yang Berakhir Tragis

Tradisi ini dikenal luas di Eropa sebagai cara mengabadikan wajah tokoh-tokoh penting yang telah meninggal dunia. Wajah mereka dicetak sehingga bentuknya dapat dikenang oleh generasi berikutnya.

Meski memiliki nilai sejarah tinggi, deretan wajah kaku tersebut menghadirkan suasana yang cukup mencekam bagi sebagian pengunjung.

“Melihat topeng-topeng itu membuat saya membayangkan bagaimana jika mereka tiba-tiba hidup dan menceritakan kisah mereka,” ujarnya sambil mengenang pengalaman tersebut.

Baca Juga: Sejarah Ka’bah di Makkah dan Peran Lima Gunung Pilihan  

Sekilas Tentang Lukisan Kara Mustafa Pasha

Di antara koleksi yang dipajang, Syafaruddin juga memperhatikan sebuah lukisan pria tua berjanggut lebat yang mengenakan pakaian khas Timur Tengah. Sosok itu adalah Kara Mustafa Pasha, panglima perang Kesultanan Ottoman yang dikenal dalam sejarah Eropa karena memimpin pengepungan Wina pada tahun 1683.

Berbeda dengan tokoh-tokoh kerajaan Austria yang digambarkan penuh wibawa, Kara Mustafa Pasha dilukiskan dengan ekspresi yang lebih muram. Kehadiran lukisan tersebut menunjukkan betapa pentingnya peristiwa pengepungan Wina dalam memori sejarah masyarakat Austria.

Baca Juga: Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar 

Namun bagi Syafaruddin, daya tarik utama museum ini bukan hanya pada satu tokoh tertentu, melainkan pada keseluruhan suasana yang berhasil menghubungkan pengunjung dengan masa lalu.

Ketika Sejarah dan Imajinasi Bertemu

Wien Stadt Museum mungkin tidak seterkenal Istana Hofburg, Schönbrunn, atau museum-museum besar lainnya di Wina. Namun museum ini menawarkan pengalaman berbeda yang sulit ditemukan di tempat lain.

Baca Juga: Sejarah Air Zamzam yang Tak Pernah Kering, Berawal dari Perjuangan Hajar di Lembah Tandus

Di balik cahaya redup, koridor kayu tua, lukisan berusia ratusan tahun, dan benda-benda bersejarah yang diam membisu, pengunjung seolah diajak berdialog dengan masa lalu.

Bagi Syafaruddin Daeng Usman, museum ini bukan sekadar tempat menyimpan artefak sejarah. Lebih dari itu, Wien Stadt Museum menghadirkan ruang di mana sejarah, imajinasi, dan suasana misterius bertemu dalam satu pengalaman yang sulit dilupakan.

 

Editor : Silvina
#museum wien stadt #mistsi dan angker #sejarah besar austria #cahaya remang #menyusuri