PONTIANAK POST – Di antara kisah-kisah penuh hikmah yang diabadikan dalam Alquran, cerita Ashabul Kahfi menjadi salah satu yang paling terkenal. Kisah tujuh pemuda beriman yang tertidur selama 309 tahun di dalam gua ini bukan hanya menyimpan pelajaran tentang keimanan dan keteguhan hati. Tetapi juga menghadirkan sosok seekor anjing yang namanya terus dikenang hingga kini, yakni Qitmir.
Nama Qitmir mungkin tidak setenar para pemuda Ashabul Kahfi. Namun, perannya yang luar biasa dalam menemani dan menjaga mereka membuatnya menjadi bagian penting dari kisah yang termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.
Qitmir Mengikuti Tujuh Pemuda Beriman
Baca Juga: Berikut Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Pemuda Beriman Ashabul Kahfi
Dikutip dari laman madinanews, kisah Ashabul Kahfi bermula ketika tujuh pemuda beriman melarikan diri dari kejaran penguasa zalim yang memaksa rakyat menyembah berhala. Demi mempertahankan keimanan kepada Allah Subhanahuwata’ala, mereka memilih meninggalkan kehidupan dunia dan mencari perlindungan di sebuah gua.
Dalam perjalanan tersebut, seekor anjing bernama Qitmir ikut menyertai mereka. Meski hanya seekor hewan, Qitmir tetap setia menemani para pemuda hingga memasuki gua tempat mereka berlindung.
Allah kemudian menidurkan para pemuda itu selama lebih dari tiga abad sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Menurut Alquran, mereka tertidur selama 300 tahun ditambah sembilan tahun lagi, sehingga totalnya mencapai 309 tahun.
Baca Juga: Berapa Sebenarnya Jumlah Pemuda Ashabul Kahfi ? Ini Penjelasannya Menurut Alquran
Penjaga Setia di Pintu Gua
Salah satu bagian paling menarik dari kisah ini adalah posisi Qitmir selama para pemuda tertidur. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 18 disebutkan anjing tersebut mengulurkan kedua kaki depannya di depan pintu gua.
Para ulama tafsir menjelaskan posisi itu menunjukkan peran Qitmir sebagai penjaga. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat Ibnu Juraij yang menyebut anjing tersebut menjaga pintu gua.
Baca Juga: Inilah Kisah Ashabul Kahfi, Pemuda Beriman yang Ditidurkan Allah Bertahun-tahun di Dalam Gua
Perilaku itu sesuai dengan sifat alami anjing yang cenderung menjaga dan melindungi tuannya. Selama ratusan tahun para pemuda berada dalam tidur panjang, Qitmir tetap berada di tempatnya, seolah menjadi penjaga setia yang mengawasi pintu masuk gua.
Keberadaan Qitmir juga menjadi bagian dari tanda kekuasaan Allah. Alquran menggambarkan suasana di dalam gua yang begitu menggetarkan hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa takut dan memilih berpaling.
Mendapat Berkah Karena Menemani Orang Saleh
Baca Juga: Patung Anjing di Jepang Ini Simpan Kisah Nyata Mengharukan dan Menggetarkan Dunia
Salah satu hikmah yang sering disampaikan para ulama dari kisah ini adalah pentingnya bergaul dengan orang-orang saleh. Qitmir hanyalah seekor anjing, tetapi karena ia menemani para pemuda yang beriman dan taat kepada Allah, namanya ikut dikenang sepanjang sejarah.
Berkah yang diterima Ashabul Kahfi juga menyentuh Qitmir. Ketika para pemuda ditidurkan selama 309 tahun, anjing tersebut juga ikut tertidur dan tetap berada bersama mereka hingga masa itu berakhir.
Bahkan hingga saat ini, nama Qitmir masih disebut dalam berbagai kitab tafsir dan kisah-kisah Islam. Hal tersebut menunjukkan kedekatan dengan orang-orang baik dapat membawa kemuliaan dan keberkahan, sebagaimana yang dialami oleh anjing setia tersebut.
Baca Juga: Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar
Kisah yang Mengajarkan Kesetiaan
Ketika para pemuda akhirnya terbangun dan keluar dari gua, mereka mendapati dunia telah berubah. Generasi telah berganti, penguasa telah berbeda, dan peradaban baru telah hadir. Namun, kisah mereka tetap hidup dan menjadi pelajaran bagi umat manusia.
Di balik keajaiban tidur selama 309 tahun itu, sosok Qitmir menjadi simbol kesetiaan yang mengagumkan. Ia tidak meninggalkan para pemuda yang ditemaninya, bahkan tetap berada di sisi mereka dalam waktu yang sangat panjang.
Karena itulah, Qitmir tidak sekadar dikenal sebagai anjing Ashabul Kahfi, tetapi juga sebagai lambang loyalitas, kebersamaan, dan berkah yang dapat diperoleh ketika seseorang berada di lingkungan orang-orang yang beriman dan saleh.
Editor : Silvina