PONTIANAK POST – Padang 12 di Kabupaten Ketapang selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai cerita dan kisah yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satu yang cukup sering terdengar adalah adanya perkampungan yang konon pernah berdiri di kawasan tersebut, namun kemudian lenyap tanpa jejak.
Namun, catatan sejarah yang terekam dalam peta lama justru menunjukkan fakta berbeda. Informasi ini disampaikan peneliti sejarah Ketapang, dr. Simon Yosonegoro Liem, Sp.MK lewat laman instagram ketapangjadul. dr. Simon ini juga dikenal sebagai penulis buku @ketapangjadul serta Ketua @wapusaka (Warga Peduli Sejarah Ketapang).
Menurut warga asli Ketapang ini, nama Padang 12 tidak ditemukan dalam peta wilayah Ketapang yang dibuat pada tahun 1898 atau sekitar 126 tahun lalu.
Baca Juga: Bupati Ketapang Terima Masukan BPKP Kalbar untuk Optimalkan Pendapatan Daerah dan Tata Kelola
Padang 12 Tidak Tercatat Sebagai Kampung
Berdasarkan peta tersebut, kawasan yang kini dikenal sebagai Padang 12 berada di antara dua perkampungan yang sudah tercatat sejak masa itu, yakni Sungai Nanjung dan Pagar Mentimun.
Dalam peta kolonial Belanda, kedua wilayah tersebut ditulis sebagai S. Ngandjoeng dan Pagar Antimoen.
Baca Juga: Polres Ketapang Amankan Sejumlah Motor Knalpot Brong Saat Razia Balap Liar Malam Hari
"Di peta tahun 1898 tidak tertulis nama Padang 12 sebagai suatu perkampungan. Padang 12 saat ini diapit oleh dua desa yakni Desa Sungai Nanjung dan Desa Pagar Mentimun. Keduanya sejak dahulu sudah disebutkan dalam peta 1898 sebagai suatu perkampungan," ujar Simon.
Ia menilai, data tersebut menjadi salah satu fakta sejarah yang menunjukkan bahwa Padang 12 tidak pernah tercatat secara resmi sebagai sebuah kampung atau permukiman penduduk pada akhir abad ke-19.
Bahkan sejak kecil, Simon mengaku tidak pernah mengetahui adanya perkampungan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Pemkab Ketapang Catat Realisasi Pendapatan APBD 2025 Capai 98 Persen
Di Mana Letak Padang 12?
Padang 12 merupakan kawasan yang berada di jalur darat bagian selatan Kabupaten Ketapang. Lokasinya berada di antara Desa Sungai Nanjung dan Desa Pagar Mentimun yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Matan Hilir Selatan.
Dari sisi geografis, kawasan ini dikenal sebagai hamparan lahan terbuka yang cukup luas. Nama "Padang" sendiri diduga berasal dari kondisi wilayahnya yang sejak dahulu berupa area lapang atau padang terbuka, berbeda dengan kawasan permukiman yang biasanya tumbuh di sepanjang sungai.
Baca Juga: Bupati Ketapang Kawal Usulan Jalan Strategis Melalui Program IJD Tahun 2026
Menurut berbagai cerita masyarakat, kawasan tersebut sejak lama lebih dikenal sebagai daerah lintasan dan hamparan tanah terbuka daripada sebagai pusat permukiman penduduk.
Kisah Kampung yang Konon Telah Lenyap
Meski tidak ditemukan dalam peta tahun 1898, cerita mengenai adanya kampung yang pernah berdiri di Padang 12 masih hidup di tengah sebagian masyarakat.
Baca Juga: Bupati Ketapang Resmikan Teduh Coffee sebagai Ruang Diskusi dan Silaturahmi
Beberapa warga tua menyebut pernah mendengar kisah tentang sebuah perkampungan yang kini telah hilang atau lenyap. Namun hingga saat ini, belum ditemukan bukti sejarah maupun dokumen yang dapat memastikan keberadaan kampung tersebut.
Sebaliknya, yang lebih banyak berkembang justru cerita-cerita magis yang diwariskan secara turun-temurun.
"Sejak kecil pun, sepengetahuan saya, tidak ada perkampungan di sini. Cuma ada kisah-kisah magis tentang orang-orang kebenaran yang tidak dapat dilihat oleh orang-orang biasa," kata Simon.
Baca Juga: Petinju Muda Ketapang Cris Omang Menang TKO di Event Tinju BySon Jakarta
Karena itu, keberadaan kampung yang disebut-sebut pernah ada di Padang 12 masih berada dalam ranah cerita rakyat dan belum dapat dibuktikan secara historis.
Nama-Nama Kampung Lama yang Masih Bertahan
Menariknya, peta tahun 1898 tersebut justru memperlihatkan sejumlah nama perkampungan di wilayah selatan Ketapang yang masih bertahan hingga sekarang.
Baca Juga: Bupati Ketapang Sebut Perdamaian Aset Termahal dalam Penyelesaian Konflik Lahan
Beberapa di antaranya adalah Moelia Kerta (Matan) yang kini dikenal sebagai Mulia Kerta, lokasi berdirinya Keraton Matan, kemudian S. Boaja (Sungai Buaya), S. Pelang, S. Bakaw (Sungai Bakau), Soengai Sirih, Koewala Pesagoewan (Kuala Pesaguan), S. Sembilang, dan S. Ngandjoeng (Sungai Nanjung).
Menurut Simon, keberadaan nama-nama tersebut menunjukkan sejumlah kampung di wilayah selatan Ketapang memiliki kesinambungan sejarah yang panjang. Bahkan sebagian besar nama daerahnya masih digunakan hingga saat ini dengan perubahan ejaan yang relatif kecil.
"Demikian sekilas catatan sejarah tentang perkampungan di bagian selatan Ketapang," tuturnya.
Baca Juga: Pemkab Ketapang Matangkan Operasional Rumah Sakit Pratama Sandai Tahun 2026
Catatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peta-peta lama merupakan sumber penting dalam menelusuri sejarah suatu daerah. Termasuk untuk memverifikasi berbagai cerita yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul sebuah kawasan.
Editor : Silvina