PONTIANAK POST – Umat Islam saat ini berada di penghujung bulan Dzulhijah, bulan ke-12 dalam kalender Hijriah. Dalam hitungan hari, tahun baru Islam akan segera tiba dengan dimulainya bulan Muharam. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk kembali menelusuri sejarah lahirnya kalender Hijriah yang hingga kini menjadi pedoman penting dalam berbagai ibadah umat Islam.
Menurut Ahmad Anshori di muslim.or.id, kalender Hijriah merupakan penanggalan yang memiliki kedudukan sangat penting dalam syariat Islam. Berbagai ibadah seperti puasa Ramadan, ibadah haji, pembayaran zakat, hingga masa idah perceraian ditentukan berdasarkan kalender ini.
Penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah mengacu pada kemunculan hilal atau bulan sabit pertama. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Subhsnshuwata’ala pada Surah Al-Baqarah ayat 189 yang menerangkan hilal menjadi penanda waktu bagi manusia dan pelaksanaan ibadah haji.
Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam
Sebelum Kalender Hijriah, Arab Menggunakan Peristiwa Besar Sebagai Penanda Tahun
Sebelum adanya kalender Hijriah, masyarakat Arab belum memiliki sistem penanggalan tahunan yang baku. Mereka biasanya menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan penamaan tahun.
Beberapa contoh yang terkenal antara lain Tahun Gajah (Amul Fil), yaitu tahun ketika pasukan bergajah menyerang Ka'bah, Tahun Fijar yang ditandai pecahnya Perang Fijar, serta tahun renovasi Ka'bah setelah bangunan suci tersebut mengalami kerusakan akibat banjir.
Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya
Karena itu, tahun kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam juga dikenal dengan sebutan Tahun Gajah. Selain menggunakan peristiwa besar, masyarakat Arab terkadang menghitung tahun berdasarkan wafatnya tokoh tertentu.
Meski demikian, untuk menentukan bulan, mereka sudah menggunakan sistem qamariyah atau peredaran bulan sebagaimana yang dikenal dalam kalender Hijriah saat ini.
Sistem tersebut terus berlangsung pada masa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam hingga masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran dan Perannya dalam Dakwah Islam Nusantara
Surat Tanpa Tanggal Menjadi Awal Mula Lahirnya Kalender Hijriah
Gagasan penyusunan kalender Islam secara resmi muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA.
Latar belakangnya berawal dari keluhan Abu Musa Al-Asy'ari RA yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Basrah. Ia menerima banyak surat dari Umar bin Khattab yang tidak mencantumkan tanggal sehingga menimbulkan kebingungan dalam pelaksanaannya.
Baca Juga: Andalusia dan Warisan Peradaban Islam yang Mencerahkan Eropa hingga Kini
Abu Musa kemudian mengirim surat kepada Khalifah Umar dan menjelaskan surat-surat tersebut sulit dipahami waktu pelaksanaannya karena tidak memiliki penanggalan yang jelas.
Keluhan itu mendorong Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah guna menentukan sistem penanggalan resmi bagi kaum Muslimin.
Perdebatan Menentukan Awal Tahun Islam
Baca Juga: Menelusuri Gua Bersejarah Ashabul Kahfi yang Kisahnya Terekam dalam Alquran
Dalam musyawarah tersebut, muncul sejumlah usulan mengenai peristiwa yang layak dijadikan titik awal penanggalan Islam.
Sebagian sahabat mengusulkan tahun diangkatnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam sebagai rasul. Ada pula yang mengusulkan mengikuti sistem Romawi yang menghitung tahun berdasarkan masa pemerintahan Raja Iskandar atau Alexander Agung.
Sementara itu, sahabat Ali bin Abi Thalib RA mengusulkan agar peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam dari Makkah ke Madinah dijadikan sebagai awal perhitungan tahun.
Baca Juga: Kisah Qitmir, Anjing Setia yang Menjaga Ashabul Kahfi Selama 309 Tahun
Usulan inilah yang akhirnya mendapat dukungan Umar bin Khattab. Menurutnya, hijrah merupakan peristiwa yang membedakan secara tegas antara kebenaran dan kebatilan.
Peristiwa hijrah juga menjadi tonggak penting dalam perkembangan Islam karena sejak saat itu umat Islam mulai memiliki kekuatan dan keamanan dalam menjalankan agama.
Akhirnya para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam sebagai patokan awal tahun dalam kalender Islam.
Baca Juga: Berikut Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Pemuda Beriman Ashabul Kahfi
Mengapa Bukan Tahun Kelahiran atau Wafat Nabi?
Menurut penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikutip Ahmad Anshori, tahun kelahiran maupun tahun diangkatnya Nabi Muhammad sebagai rasul tidak dipilih karena masih terdapat perbedaan pendapat mengenai kepastian tahunnya.
Adapun tahun wafat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam tidak dipilih karena dikhawatirkan akan terus mengingatkan umat Islam pada peristiwa duka yang mendalam.
Baca Juga: Inilah Kisah Ashabul Kahfi, Pemuda Beriman yang Ditidurkan Allah Bertahun-tahun di Dalam Gua
Selain itu, menjadikan tahun kelahiran Nabi sebagai awal penanggalan dinilai memiliki kemiripan dengan tradisi umat Nasrani yang menjadikan kelahiran Nabi Isa AS sebagai dasar kalender mereka.
Sementara menjadikan tahun wafat Nabi sebagai acuan dianggap menyerupai tradisi bangsa Persia yang menggunakan tahun kematian raja sebagai dasar penanggalan.
Mengapa Muharam Dipilih sebagai Bulan Pertama?
Baca Juga: Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar
Setelah sepakat mengenai peristiwa hijrah sebagai awal tahun, musyawarah berlanjut untuk menentukan bulan pertama dalam kalender Islam.
Saat itu terdapat beberapa usulan, termasuk menjadikan Ramadan sebagai bulan pertama. Namun Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan RA mengusulkan Muharam.
Menurut Umar, Muharam layak menjadi awal tahun karena pada bulan tersebut umat Islam baru saja menyelesaikan ibadah haji.
Baca Juga: Keistimewaan Umar bin Khattab, Sahabat Nabi yang Dijamin Surga
Ibnu Hajar juga menjelaskan tekad untuk melakukan hijrah mulai menguat setelah Baiat Aqabah yang terjadi pada bulan Dzulhijah. Hilal pertama setelah peristiwa tersebut adalah Muharam, sehingga bulan ini dianggap paling tepat dijadikan awal kalender Islam.
Usulan itu akhirnya diterima seluruh sahabat dan disepakati sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah.
Warisan Penanggalan Islam yang Bertahan Hingga Kini
Baca Juga: Keteladanan Ali bin Abi Thalib : "Singa Allah" yang Kaya Ilmu
Dari musyawarah para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA itulah lahir sistem penanggalan Islam yang terus digunakan hingga sekarang.
Kalender tersebut menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam sebagai patokan awal tahun dan menetapkan Muharam sebagai bulan pertama dalam siklus tahunan.
Karena berangkat dari peristiwa hijrah, penanggalan ini kemudian dikenal luas dengan nama kalender Hijriah. Hingga saat ini, kalender Hijriah tetap menjadi pedoman utama umat Islam dalam menentukan berbagai ibadah dan momentum penting keagamaan.
Editor : Silvina