PONTIANAK POST – Malam Satu Suro merupakan salah satu tradisi yang paling dikenal dalam budaya masyarakat Jawa. Malam ini menandai pergantian tahun dalam Kalender Jawa dan hingga kini masih diperingati dengan berbagai ritual, doa, zikir, hingga kegiatan budaya yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro dipandang sebagai bulan yang sakral dan penuh makna spiritual. Karena itu, tidak sedikit masyarakat yang menghindari pelaksanaan hajatan besar seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha pada bulan tersebut. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga sekarang.
Menurut keterangan dari Universitas Tazkia, Malam Satu Suro sejatinya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Tanah Jawa serta proses akulturasi budaya yang dilakukan para ulama dan penguasa pada masa lampau.
Meski sering dianggap sama, Malam Satu Suro dan Malam 1 Muharram tidak selalu jatuh pada waktu yang bersamaan.
Berawal dari Perpaduan Kalender Jawa dan Islam
Secara historis, asal-usul Malam Satu Suro tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kalender Jawa.
Baca Juga: Mengungkap Fakta Sejarah Padang 12 Ketapang, Benarkah Pernah Ada Kampung yang Hilang?
Sejarah mencatat pada masa Kerajaan Demak, tepatnya sekitar tahun 931 Hijriah atau 1443 Tahun Jawa, Sunan Giri II mulai melakukan penyesuaian antara sistem kalender Hijriah dengan sistem penanggalan Jawa yang telah digunakan masyarakat saat itu.
Namun, tonggak penting penetapan Satu Suro sebagai awal tahun baru Jawa terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Raja besar Kesultanan Mataram tersebut memerintah antara tahun 1613 hingga 1645.
Pada tahun 1633 Masehi atau 1555 Tahun Jawa, Sultan Agung menetapkan penggunaan Kalender Jawa yang memadukan sistem kalender Saka warisan Hindu dengan kalender Hijriah yang digunakan umat Islam. Sejak saat itulah tanggal 1 Suro ditetapkan sebagai awal tahun baru Jawa.
Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia
Upaya Menyatukan Masyarakat Jawa
Kebijakan Sultan Agung tidak hanya berkaitan dengan urusan penanggalan. Di balik keputusan tersebut terdapat misi sosial dan politik yang cukup besar.
Kala itu, masyarakat Jawa masih menggunakan kalender Saka yang berasal dari tradisi Hindu, sementara Kesultanan Mataram telah memakai sistem kalender Hijriah. Sultan Agung kemudian berinisiatif menggabungkan keduanya agar tercipta kesatuan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang keyakinan dan tradisi berbeda.
Baca Juga: Klenteng Kong Miao Litang, Jejak Sejarah Konghucu dan Toleransi di Pulau Borneo
Menurut berbagai catatan sejarah, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan masyarakat Jawa di tengah situasi politik yang diwarnai perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Dengan adanya kalender baru, Sultan Agung berharap kelompok santri dan masyarakat abangan dapat dipersatukan dalam satu identitas budaya yang sama tanpa harus meninggalkan akar tradisi yang telah hidup sebelumnya.
Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral?
Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional
Kesakralan bulan Suro juga memiliki akar sejarah yang panjang. Pada masa Sultan Agung, setiap Jumat Legi dilakukan kegiatan pemerintahan yang disertai pengajian, ziarah kubur, serta haul ke makam para tokoh agama.
Lambat laun, tanggal 1 Suro memperoleh kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat. Hari tersebut dipandang sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta mengenang jasa para leluhur.
Karena alasan itulah berkembang berbagai pantangan dan kepercayaan yang menganggap bulan Suro kurang tepat untuk menggelar pesta besar atau kegiatan yang bersifat hura-hura.
Baca Juga: Dari Budi Utomo hingga Indonesia Modern, Ini Sejarah Harkitnas
Antara Tradisi, Budaya, dan Mitos
Hingga saat ini, Malam Satu Suro masih identik dengan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Namun, bentuk dan pemaknaannya berbeda-beda di setiap daerah.
Sebagian masyarakat memaknainya sebagai malam untuk berdoa dan melakukan refleksi spiritual. Sebagian lainnya mengisinya dengan kirab budaya, ziarah makam, tirakatan, maupun kegiatan keagamaan.
Baca Juga: Kisah Lahirnya Nama Indonesia dan Peran Pemuda dalam Sejarah Kebangsaan
Dalam artikel ilmiah berjudul Tradisi Suroan dan Pengaruhnya Terhadap Keberagamaan Masyarakat Dusun Bantan, Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan karya Rahmawati dan rekan-rekannya yang terbit pada 2022, disebutkan kata “Suro” berasal dari kata “Asyura”, yang merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram dalam kalender Islam.
Dari perspektif sejarah, Malam Satu Suro menunjukkan bagaimana budaya lokal dan ajaran Islam saling berinteraksi dalam perjalanan panjang peradaban Jawa. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga simbol akulturasi budaya yang berhasil menyatukan berbagai unsur masyarakat dalam satu identitas yang khas hingga bertahan selama berabad-abad.
Editor : Silvina