Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Menelusuri Batu Cap Sukadana, Warisan Purbakala yang Masih Menyimpan Banyak Misteri

Silvina • Senin, 15 Juni 2026 | 14:50 WIB
Ilustrasi batu cap di Sukadana Kabupaten Kayong Utara
Ilustrasi batu cap di Sukadana Kabupaten Kayong Utara

 

PONTIANAK POST – Di tengah perbukitan Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, terdapat sebuah situs purbakala yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Situs tersebut dikenal sebagai Batu Sukadana atau Batu Cap, sebuah batu bergambar (rock painting) yang diyakini sebagai salah satu peninggalan sejarah penting di Kalimantan Barat.

Keberadaan batu ini telah lama menarik perhatian peneliti, arkeolog, hingga masyarakat umum. Ini karenaa coretan dan simbol-simbol yang terpahat di permukaannya belum berhasil diungkap maknanya secara pasti.

Diduga Jejak Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Ketapang

Baca Juga: Mengenal Pahlawan Wanita dari Kayong Utara yang Makamnya Masih Terawat di Perbukitan

Menurut informasi yang tercatat dalam berbagai sumber, termasuk Wikipedia, Batu Sukadana diduga berkaitan dengan perjalanan nenek moyang masyarakat Ketapang yang menurut legenda berasal dari kawasan Indochina atau India Belakang.

Dikisahkan, kelompok pendatang tersebut bermigrasi ke Kalimantan dengan terlebih dahulu singgah di Kepulauan Karimata sebelum akhirnya mendarat di wilayah Sukadana. Pada masa lampau, kawasan ini dianggap strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghadap Laut China Selatan.

Sebagian peneliti menduga keberadaan Batu Sukadana menjadi salah satu petunjuk sejarah mengenai jejak kedatangan kelompok manusia awal yang kemudian berkembang menjadi bagian dari masyarakat di wilayah Ketapang dan sekitarnya.

Baca Juga: Bupati Romi Tegaskan Data Akurat Jadi Fondasi Pembangunan Kayong Utara

Coretan Misterius yang Belum Terbaca

Salah satu daya tarik utama Batu Sukadana adalah keberadaan berbagai gambar, simbol, dan coretan yang hingga kini belum diketahui arti sebenarnya.

Situs ini diketahui telah ditemukan sejak tahun 1874 dan telah tercatat sebagai situs purbakala. Namun hingga sekarang belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan batu tersebut.

Baca Juga: Buku Ensiklopedia Bangunan Cagar Budaya Kalbar Diluncurkan, Upaya Rawat Memori Kolektif dan Kisah Sejarah

Beberapa arkeolog yang pernah meneliti lokasi ini berpendapat ukiran dan simbol yang terdapat pada batu kemungkinan berasal dari masa yang sangat tua. Bahkan diduga berasal dari periode sebelum masyarakat mengenal sistem tulisan.

Bentuk simbol yang tampak menyerupai gambar-gambar tertentu dan lambang mirip huruf paku membuat situs ini berbeda dari banyak temuan arkeologi lainnya di Indonesia.

Gua Alam yang Diduga Tempat Ritual Masa Lampau

Baca Juga: Menelusuri Gua Bersejarah Ashabul Kahfi yang Kisahnya Terekam dalam Alquran   

Batu Sukadana berada di dalam sebuah gua alam yang oleh sebagian peneliti diduga pernah digunakan sebagai tempat pemujaan atau lokasi bersemedi masyarakat pada masa lampau.

Batu utama memiliki lebar sekitar 14 meter dengan bidang bergambar yang mencapai sekitar 10 meter persegi. Pada permukaannya terlihat berbagai goresan dan simbol yang masih menjadi objek penelitian hingga saat ini.

Karena karakteristiknya yang unik, situs ini beberapa kali dikunjungi oleh peneliti dari berbagai lembaga, termasuk Pusat Arkeologi Nasional di Jakarta, Balai Arkeologi Bandung, serta mahasiswa yang melakukan penelitian prasejarah.

Baca Juga: Inilah Kisah Ashabul Kahfi, Pemuda Beriman yang Ditidurkan Allah Bertahun-tahun di Dalam Gua

Menjadi Perhatian Peneliti dan Wisatawan

Selain kalangan akademisi, Batu Sukadana juga kerap dikunjungi wisatawan dan masyarakat dari berbagai daerah. Menurut catatan yang ada, sejumlah pengunjung keturunan Tionghoa juga sering datang ke lokasi tersebut untuk berbagai keperluan.

Kepala Kantor Informasi Kebudayaan dan Pariwisata Ketapang saat itu, Yudo Sudarto, pernah menyampaikan peninggalan sejarah seperti Batu Sukadana memiliki nilai penting dalam memperkuat identitas budaya bangsa.

Baca Juga: Menelurusi Gua Hira, Lokasi Bersejarah Lahirnya Risalah Islam di Pinggir Mekkah

Menurutnya, peninggalan masa lalu tidak hanya bermanfaat bagi dunia akademik, tetapi juga memiliki nilai ideologis dan ekonomi yang dapat mendukung pengembangan daerah.

Perjalanan Menantang Menuju Lokasi

Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Batu Sukadana, perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat hingga titik tertentu.

Baca Juga: Mengungkap Fakta Sejarah Padang 12 Ketapang, Benarkah Pernah Ada Kampung yang Hilang?

Namun setelah itu, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mendaki bukit selama kurang lebih satu jam. Jalur menuju situs cukup menantang karena berada di kawasan perbukitan yang relatif terjal.

Meski membutuhkan usaha lebih, perjalanan tersebut akan terbayar dengan pemandangan alam yang masih asri serta kesempatan melihat langsung salah satu situs purbakala paling misterius di Kalimantan Barat.

Kini Berstatus Cagar Budaya

Baca Juga: Begini Kondisi Terkini Padang 12 Ketapang yang Terkenal Mistis dan Legendaris

Seiring meningkatnya perhatian terhadap nilai sejarahnya, Batu Sukadana kini telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di wilayah Kabupaten Ketapang yang kini masuk dalam Kabupaten Kayong Utara.

Meski berbagai penelitian telah dilakukan, banyak pertanyaan mengenai asal-usul, usia pasti, dan makna simbol-simbol yang terdapat pada batu tersebut masih belum terjawab.

Justru karena misteri itulah Batu Sukadana terus menarik perhatian para peneliti dan pecinta sejarah. Di balik coretan-coretan kuno yang terpahat di permukaannya, tersimpan kemungkinan kisah panjang tentang perjalanan manusia dan peradaban awal yang pernah singgah di Kalimantan.

 

Editor : Silvina
#batu sukadana #batu cap #warisan nenek moyang #kayong utara