Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 1)

Silvina • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:14 WIB
Ilustrasi H. Ismal Mundu yang mendirikan Masjid Batu bersama sahabatnya di Teluk Pakedai Kubu Raya Kalbar
Ilustrasi H. Ismal Mundu yang mendirikan Masjid Batu bersama sahabatnya di Teluk Pakedai Kubu Raya Kalbar

 

PONTIANAK POST – Nama H. Ismail Mundu menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Kalimantan Barat. Sosok ulama yang dikenal luas di tengah masyarakat muslim ini tidak hanya dihormati karena kedalaman ilmunya, tetapi juga karena keteladanan hidup dan dedikasinya dalam menyebarkan ajaran Islam.

Dalam berbagai catatan sejarah ulama di Kalimantan Barat, nama H. Ismail Mundu kerap disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar lainnya seperti Maharaja Imam Basuni Imran dan Syekh Khatib al-Sambasi. Penghormatan tersebut diberikan karena kontribusinya yang besar terhadap perkembangan pendidikan dan dakwah Islam di wilayah Kalbar.

Berasal dari Keturunan Raja Sawitto

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu

Dilansir dari laman telukpakedai.kuburayakab.go.id., H. Ismail Mundu lahir pada tahun 1287 Hijriah atau sekitar 1870 Masehi. Ia berasal dari garis keturunan Raja Sawitto, salah satu kerajaan yang berkembang di Sulawesi Selatan.

Ayahnya bernama Daeng Abdul Karim alias Daeng Talengka, seorang tokoh keturunan bangsawan Bugis. Sementara ibunya bernama Zahra atau yang dikenal dengan panggilan Wak Soro, berasal dari daerah Kakap, Kalimantan Barat.

Meski memiliki akar keturunan dari Sulawesi Selatan, perjalanan hidup dan kiprah H. Ismail Mundu justru lebih banyak berlangsung di Kalimantan Barat. Di daerah inilah namanya kemudian dikenal luas sebagai salah satu ulama besar yang berpengaruh.

Baca Juga: Pembangunan Jalan Poros Teluk Pakedai-Kubu Raya Digenjot dengan Anggaran Rp 2,5 Miliar

Tumbuh Sebagai Anak yang Taat Beragama

Sejak usia dini, H. Ismail Mundu yang kala kecil lebih dikenal dengan nama Mundu telah menunjukkan ketekunan dalam mempelajari agama Islam.

Pada usia sekitar tujuh tahun, ia belajar membaca Aquran  kepada pamannya sendiri, H. Muhammad bin H. Ali. Berkat kecerdasan dan kesungguhannya, Mundu mampu mengkhatamkan Al-Qur'an hanya dalam waktu tujuh bulan.

Baca Juga: 58 Titik Pembangunan di Teluk Pakedai Terealisasi 2026, Didukung APBD dan APBN

Keberhasilannya tersebut membuat sang ayah semakin serius mengarahkan pendidikan agama putranya. Mundu kemudian dikirim untuk belajar kepada sejumlah ulama terkemuka pada masanya.

Menimba Ilmu dari Banyak Ulama

Perjalanan intelektual H. Ismail Mundu berlangsung cukup panjang. Ia pernah berguru kepada H. Abdullah Ibnu Salam atau H. Abdullah Bilawa, seorang ulama yang dikenal sebagai "Ulama Batu Penguji" dan berdomisili di Sungai Kakap.

Baca Juga: UMKM Remaja dan TP PKK Sambas Tampilkan Produk Kreatif di Gema Perbatasan

Setelah gurunya wafat, ia melanjutkan pendidikan agama kepada Sayyed Abdullah Azzawawi yang dikenal sebagai seorang mufti di Makkah.

Tidak hanya itu, H. Ismail Mundu juga menimba ilmu kepada Tuan Umar Sumbawa dan Makabro alias Puang Lompo. Dari para guru tersebut, ia memperdalam berbagai cabang ilmu agama Islam serta kemampuan menghafal kitab-kitab keislaman.

Menuntut Ilmu Hingga ke Tanah Suci

Baca Juga: Ahli Waris Seorang Petani di Teluk Pakedai Terima Klaim Jaminan Kematian dari BPJS Ketenagakerjaan

Saat menginjak usia sekitar 20 tahun, Mundu berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Perjalanan ke Tanah Suci tersebut menjadi titik penting dalam kehidupannya.

Selain menjalankan ibadah haji, ia juga memperdalam pengetahuan agama. Dalam masa tinggalnya di Makkah, Mundu menikah dengan seorang perempuan keturunan Habsyi bernama Ruzlan.

Namun rumah tangga tersebut tidak berlangsung lama karena sang istri wafat sebelum mereka dikaruniai anak. Setelah itu, ia kembali menikah dengan seorang perempuan asal Pulau Sarasan bernama Hj. Aisyah.

Baca Juga: Polres Kubu Raya Pantau Banjir Rob di Teluk Pakedai, Empat Desa Terendam

Sekembalinya ke Indonesia, namanya mulai dikenal sebagai Haji Ismail Mundu. Meski kembali menghadapi ujian kehidupan ketika istri keduanya juga meninggal dunia, ia tetap menunjukkan kesabaran dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Salah Satu Ulama Berpengaruh di Kalimantan Barat

Menurut sejumlah catatan sejarah, pada masa H. Ismail Mundu terdapat beberapa ulama besar di Kalimantan Barat yang memiliki nama Ismail. Di antaranya adalah Ismail Mundu, Ismail Kelantan yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Pontianak, serta Ismail Jabal yang menjadi penasihat agama Kerajaan Pontianak.

Baca Juga: Mengapa Islam Cepat Berkembang di Nusantara? Ini Sejarah dan Cara Penyebarannya

Di antara nama-nama tersebut, H. Ismail Mundu dikenal luas karena kiprahnya dalam bidang keagamaan dan pendidikan Islam. Keilmuan yang diperolehnya dari berbagai guru, termasuk di Makkah, menjadikannya salah satu tokoh agama yang dihormati masyarakat Kalimantan Barat pada masanya.

Warisan Keteladanan yang Terus Dikenang

Hingga kini, nama H. Ismail Mundu masih dikenang sebagai salah satu ulama besar Kalimantan Barat. Kisah hidupnya menunjukkan bagaimana ketekunan menuntut ilmu, kesabaran menghadapi ujian, serta dedikasi terhadap agama mampu melahirkan sosok yang dihormati lintas generasi.

Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia

Perjalanan hidup H. Ismail Mundu juga menjadi bukti bahwa pendidikan dan semangat belajar yang kuat dapat membawa seseorang memberikan pengaruh besar bagi masyarakat dan perkembangan Islam di daerahnya.

 

Editor : Silvina
#masjid batu #h. ismail mundu #dibangun tanpa kayu #biografi ulama besar #teluk pakedai