Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 2)  

Silvina • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:42 WIB
Ilustrasi H.Ismail Mundu yang mendapat ujian kehilangan keluarganya
Ilustrasi H.Ismail Mundu yang mendapat ujian kehilangan keluarganya

 

PONTIANAK POST- Setelah sanga istri Hj. Aisyah wafat, H. Ismail Mundu kembali membangun rumah tangga. Ia menikah dengan Hafifa binti H. Sema'ila yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya.

Dari pernikahan tersebut, H. Ismail Mundu akhirnya dikaruniai tiga orang anak, yakni dua anak laki-laki bernama Ambo' Saro (Openg) dan Ambo' Sulo, serta seorang anak perempuan bernama Fatma.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah kelahiran anak ketiganya, sang istri wafat. Ujian kembali datang ketika ketiga anaknya juga meninggal dunia dalam usia yang relatif muda. Karena itu, dalam catatan sejarah disebutkan H. Ismail Mundu tidak meninggalkan keturunan hingga generasi berikutnya.

Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 1)

Dilansir dari laman telukpakedai.kuburayakab, di masa berikutnya, H.Ismail Mundu menikah untuk keempat kalinya dengan Hj. Asmah binti Sayyid Abdul Kadir, seorang perempuan keturunan Arab. Bersama istrinya itu, ia kembali berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agama kepada Sayyid Abdullah Azzawawi, seorang mufti di Makkah.

Mengabdikan Diri di Teluk Pakedai

Setelah dianggap memiliki penguasaan ilmu yang memadai, H. Ismail Mundu kembali ke Nusantara pada tahun 1904 Masehi atau 1324 Hijriah. Ia kemudian menetap di Teluk Pakedai yang saat itu masih berada dalam wilayah Kerajaan Kubu.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu

Di daerah inilah kiprah dakwahnya semakin menonjol. Berbekal ilmu yang diperoleh dari berbagai guru di Nusantara maupun Makkah, H. Ismail Mundu berupaya membina masyarakat melalui pendidikan agama dan dakwah.

Menurut berbagai sumber sejarah lokal, kondisi masyarakat pada masa itu masih diwarnai berbagai konflik dan rendahnya pemahaman agama. Perselisihan yang berujung kekerasan kerap terjadi, bahkan hanya karena persoalan-persoalan kecil.

Melalui pendekatan dakwah yang santun dan penuh hikmah, H. Ismail Mundu perlahan mengajak masyarakat kembali memahami nilai-nilai Islam yang mengedepankan perdamaian, persaudaraan, dan akhlak mulia.

Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam

Kisah yang Hidup di Tengah Masyarakat

Dalam sejumlah cerita yang berkembang di masyarakat Teluk Pakedai, terdapat kisah tentang kemampuan dan kewibawaan H. Ismail Mundu saat pertama kali datang ke daerah tersebut.

Dikisahkan, saat itu ia sempat diuji oleh beberapa orang yang dikenal memiliki kemampuan bela diri dan kerap menguji pendatang. Dalam cerita tersebut, H. Ismail Mundu menunjukkan ketenangan serta kebijaksanaannya hingga akhirnya memperoleh penghormatan dari masyarakat setempat.

Baca Juga: Menelusuri Gua Bersejarah Ashabul Kahfi yang Kisahnya Terekam dalam Alquran   

Perlu dicatat kisah ini merupakan bagian dari tradisi lisan yang berkembang di masyarakat dan menjadi salah satu cerita yang turut membentuk penghormatan masyarakat terhadap sosok H. Ismail Mundu.

Diangkat Menjadi Mufti Kerajaan Kubu

Keberhasilan H. Ismail Mundu dalam membina kehidupan keagamaan masyarakat Teluk Pakedai mendapat perhatian Kerajaan Kubu.

Baca Juga: Berikut Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kisah Pemuda Beriman Ashabul Kahfi

Pada tahun 1907 Masehi, ia dipercaya menduduki jabatan Mufti Kerajaan Kubu. Jabatan tersebut menjadikannya sebagai rujukan utama dalam berbagai persoalan agama yang dihadapi masyarakat maupun lingkungan kerajaan.

Sebagai mufti, H. Ismail Mundu dikenal bijaksana dalam memberikan fatwa dan nasihat. Berbagai persoalan keagamaan yang datang kepadanya diselesaikan dengan pendekatan yang mengedepankan ilmu, hikmah, serta kemaslahatan umat.

Peran Besar dalam Pembangunan Masjid Batu

Baca Juga: Kisah  Abdullah bin Mubarak yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat  

Salah satu peninggalan penting yang berkaitan dengan nama H. Ismail Mundu adalah pembangunan Masjid Batu atau Masjid Nasrullah di Teluk Pakedai.

Pembangunan masjid tersebut dilakukan bersama sahabat sekaligus muridnya, Datuk Penghulu H. Haruna yang berasal dari Batu Pahat, Johor, Malaysia.

Masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Batu karena pada awal pembangunannya dirancang menggunakan material batu bata, berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid pada masa itu yang masih didominasi material kayu.

Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran dan Perannya dalam Dakwah Islam Nusantara

Keberadaan Masjid Batu kemudian menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam yang berpengaruh bagi perkembangan dakwah di kawasan Teluk Pakedai dan sekitarnya.

Didatangi Ulama dari Timur Tengah

Nama H. Ismail Mundu ternyata tidak hanya dikenal di Kalimantan Barat. Sejumlah ulama dari Timur Tengah disebut pernah berkunjung ke Teluk Pakedai untuk bersilaturahmi dan bertukar ilmu.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pulang dari Makkah, Ini Tanda-Tanda Haji Mabrur Menurut Ulama

Di antaranya adalah Sayyid Nasir dan Sayyid Abdul Satar dari Madinah yang pernah tinggal selama beberapa bulan di Teluk Pakedai. Selain itu, terdapat pula kunjungan beberapa ulama dari Hadramaut, Yaman, dan Mesir.

Kedatangan para ulama tersebut menunjukkan bahwa jaringan keilmuan Islam yang dibangun H. Ismail Mundu telah menjangkau dunia Islam yang lebih luas.

Mengajar di Masjidil Haram

Baca Juga: Mengapa Hajar Aswad Dulunya Putih Sekarang Menghitam? Ini Kisah dan Maknanya

Pada masa berikutnya, H. Ismail Mundu kembali menunaikan ibadah haji dan menetap untuk beberapa waktu di Makkah.

Dalam sejumlah catatan yang terdapat pada biografinya, disebutkan bahwa ia turut mengajar di lingkungan Masjidil Haram. Aktivitas tersebut memperlihatkan pengakuan terhadap kapasitas keilmuannya di kalangan masyarakat Muslim internasional pada masa itu.

Selain mengajar, ia juga dikenal membantu para murid dan jamaah yang membutuhkan. Kepeduliannya terhadap pendidikan dan kesejahteraan umat menjadi bagian penting dari keteladanan hidupnya.

Baca Juga: Kisah Qitmir, Anjing Setia yang Menjaga Ashabul Kahfi Selama 309 Tahun

Sosok Ulama yang Dikenang Hingga Kini

Perjalanan hidup H. Ismail Mundu dipenuhi dengan berbagai ujian, mulai dari kehilangan istri hingga anak-anak yang meninggal dunia dalam usia muda. Namun cobaan tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk terus berdakwah dan mengajarkan ilmu agama.

Melalui kiprahnya sebagai pendidik, mufti, dan tokoh masyarakat, H. Ismail Mundu meninggalkan warisan berharga bagi perkembangan Islam di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Sejarah Ketupat Lebaran dan Perannya dalam Dakwah Islam Nusantara

Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh penting dalam sejarah keislaman di Teluk Pakedai, Kerajaan Kubu, dan Kalimantan Barat secara umum.

Editor : Silvina
#masjid batu teluk pakedai #ulama besar kalbar #biografi alim ulama #pendiri masjid tanpa kayu #kehilangan keluarga