PONTIANAK POST – Malam di Paris menghadirkan suasana yang sulit dilupakan. Dari balik jendela mobil, pancaran cahaya biru laut dari Menara Eiffel tampak menyatu dengan horison Kota Paris yang berkilauan. Cahaya itu seolah menari di antara bangunan-bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Prancis.
Pengalaman tersebut dituturkan Syafaruddin Daeng Usman, peneliti dan penulis sejarah Kalimantan Barat, saat mengenang kunjungannya ke Museum Louvre di Paris, Prancis. Bagi Syafaruddin, Louvre bukan sekadar destinasi wisata terkenal, melainkan ruang besar yang menyimpan jejak peradaban manusia dari berbagai zaman.
Menurut Syafaruddin Daeng Usman, Louvre bukan sekadar museum terbesar di dunia. Tempat ini merupakan ruang penyimpanan memori peradaban manusia yang menghadirkan jejak berbagai kerajaan, imperium, dan kebudayaan yang pernah mewarnai sejarah dunia.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah Besar Austria di Museum Wien Stadt yang Terasa Begitu Mistis
Di dalamnya tersimpan karya-karya para maestro seperti Leonardo da Vinci, Rembrandt, Michelangelo, Raphael, hingga Peter Paul Rubens. Lukisan Mona Lisa menjadi koleksi paling terkenal, tetapi sesungguhnya daya tarik Louvre jauh melampaui satu karya seni semata.
Louvre Rivoli, Stasiun Metro yang Menjadi Galeri Sejarah
Perjalanan menuju Museum Louvre dimulai dengan menaiki Metro Paris melalui Jalur 1. Kereta bawah tanah yang padat penumpang itu menjadi gambaran denyut kehidupan modern Kota Paris.
Baca Juga: Menguak Sejarah Kelam di Balik Lukisan Mustafa Pasha di Museum Wina yang Terkesan Angker
Di dalam gerbong, sejumlah stiker peringatan mengenai aksi pencopetan terlihat menempel di beberapa sudut. Hal tersebut menunjukkan di balik kemajuan transportasi publik, persoalan keamanan tetap menjadi perhatian pengelola Metro.
Kereta kemudian berhenti di Stasiun Louvre Rivoli. Ratusan penumpang keluar dan masuk secara bersamaan, menciptakan pemandangan yang sibuk dan dinamis.Namun ada sesuatu yang membuat stasiun ini berbeda dibandingkan stasiun Metro lainnya.
Interior Louvre Rivoli dirancang menyerupai galeri museum. Replika patung Mesir Kuno, artefak Renaissance, hingga karya seni klasik menghiasi area peron dan koridor stasiun. Kesan elegan begitu terasa, membuatnya lebih mirip ruang pameran daripada fasilitas transportasi umum.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hotel, Bangunan Bersejarah di Paris Ini Melahirkan Mahakarya Dunia
Dari perspektif sejarah, stasiun ini memiliki nilai penting. Louvre Rivoli merupakan bagian dari jaringan Metro Paris yang mulai beroperasi pada tahun 1900. Keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat Eropa telah memikirkan solusi transportasi perkotaan lebih dari satu abad lalu.
Pembangunan terowongan bawah tanah yang melintasi berbagai kawasan Paris, bahkan menembus bawah Sungai Seine, menjadi pencapaian teknologi yang luar biasa pada zamannya.
Piramida Kaca yang Mengubah Wajah Louvre
Baca Juga: Dari Kota Pengrajin Kulit Menjadi Ibukota Parfum Dunia, Ini Sejarah Grasse
Setelah menaiki puluhan anak tangga menuju permukaan, panorama kompleks Museum Louvre langsung tersaji.
Deretan bangunan bergaya Renaissance berdiri megah dengan tiang-tiang kokoh, relief artistik, dan kubah-kubah yang menjulang tinggi. Kompleks istana tua itu memancarkan kemegahan yang mencerminkan kekuasaan Prancis pada masa lampau.
Namun perhatian pengunjung hampir selalu tertuju pada satu bangunan yang tampak kontras dengan arsitektur klasik di sekelilingnya.Di tengah pelataran berdiri Piramida Louvre yang terbuat dari kaca dan logam.
Baca Juga: Jejak Van Houten, Penemu Cokelat Bubuk yang Mengubah Cara Dunia Menikmati Kakao
Sekilas bangunan modern tersebut terlihat berbeda dari lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, semakin lama dipandang, semakin terlihat bagaimana piramida itu justru menjadi pusat visual dan simbol baru Museum Louvre.
Piramida kaca ini dirancang arsitek keturunan Tionghoa-Amerika, Ieoh Ming Pei atau I.M. Pei, dan diresmikan pada tahun 1989. Kehadirannya sempat menuai perdebatan karena dianggap bertabrakan dengan karakter historis istana Louvre.
Namun seiring waktu, piramida tersebut justru menjadi ikon baru Paris dan salah satu karya arsitektur kontemporer paling terkenal di dunia.
Baca Juga: Kahlenberg dan Danube di Austria, Jejak Sejarah yang Melahirkan Lagu Abadi Dunia
Napoleon Hall dan Imajinasi Da Vinci Code
Pintu masuk utama museum berada di bawah Piramida Louvre. Dari sana pengunjung akan memasuki Napoleon Hall, aula bawah tanah yang luas dan megah.Di area inilah struktur piramida kaca menembus ke bawah membentuk piramida terbalik yang menjadi salah satu daya tarik utama museum.
Bagi para pembaca novel dan penonton film The Da Vinci Code, suasana di Napoleon Hall terasa begitu familiar. Tempat ini menjadi salah satu lokasi penting dalam kisah karya Dan Brown yang menghubungkan sejarah, simbolisme, dan misteri keagamaan.
Meski demikian, daya tarik sesungguhnya terletak pada rancangan arsitekturnya. Ribuan panel kaca berbentuk belah ketupat memungkinkan cahaya matahari masuk langsung ke area bawah tanah sehingga ruang tetap terang dan nyaman tanpa kehilangan kesan monumental.
Perpaduan teknologi modern dengan bangunan berusia ratusan tahun menjadikan Louvre sebagai contoh bagaimana warisan sejarah dapat hidup berdampingan dengan inovasi masa kini.
Menjelajah Sejarah dalam Satu Museum
Museum Louvre pada awalnya bukanlah museum, melainkan benteng pertahanan yang dibangun pada akhir abad ke-12 di masa pemerintahan Raja Philippe II.
Baca Juga: Penelitian DNA Ungkap Fakta Mengejutkan tentang Penduduk Kota Pompeii Kuno
Seiring perjalanan waktu, bangunan tersebut berkembang menjadi istana kerajaan sebelum akhirnya diubah menjadi museum publik setelah Revolusi Prancis pada tahun 1793.Sejarah panjang itulah yang membuat Louvre tidak hanya menyimpan artefak dan karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah Prancis itu sendiri.
Setiap ruang, koridor, dan paviliun di dalam kompleks museum seolah mengajak pengunjung menelusuri perjalanan panjang peradaban manusia, mulai dari Mesir Kuno, Yunani, Romawi, Timur Tengah, hingga Eropa modern. Tak heran jika sehari penuh rasanya belum cukup untuk menikmati seluruh koleksi yang ada.
Museum Louvre bukan hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Ia adalah ruang belajar raksasa yang memperlihatkan bagaimana manusia membangun peradaban, menciptakan karya agung, dan meninggalkan jejak yang terus menginspirasi dunia hingga hari ini.
Editor : Silvina