Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Jejak Sejarah Flanerie di Paris, Seni Berjalan Santai yang Membentuk Kota Romantis Dunia

Silvina • Senin, 22 Juni 2026 | 12:06 WIB

 

Syafaruddin Daeng Usman dan istri dengan latar belakang grands boulevards di Paris (IST)
Syafaruddin Daeng Usman dan istri dengan latar belakang grands boulevards di Paris (IST)

 

PONTIANAK POST – Paris telah lama dikenal sebagai salah satu kota paling romantis di dunia. Julukan itu bukan semata lahir dari keindahan arsitektur, kafe-kafe klasik, atau kisah cinta yang kerap diangkat dalam film dan sastra. Di balik citra tersebut, terdapat sejarah panjang budaya urban yang membentuk karakter khas ibu kota Prancis, yakni flanerie, seni berjalan kaki tanpa tujuan pasti sambil mengamati kehidupan kota.

Hal ini seperti disampaikan Penulis dan Peneliti Sejarah dari Kalbar, Syafarudin Daeng Usman bersama istri ketika berkunjung ke kota cinta itu.Menurut Syafarudin,  tradisi ini berkembang pada abad ke-19 saat Paris mengalami transformasi besar akibat industrialisasi dan modernisasi. Waktu itu, berjalan kaki bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian dari cara memahami kehidupan kota yang terus berubah.

Flanerie, Warisan Budaya Urban Paris Abad ke-19

Baca Juga: Museum Louvre Paris, Saksi Bisu Ribuan Tahun Sejarah yang Masih Memikat Dunia

Dalam perspektif sejarah, flanerie muncul seiring perubahan wajah Paris menjadi salah satu metropolis terbesar dunia. Trotoar-trotoar lebar, boulevard megah, pusat perbelanjaan modern, dan kafe-kafe yang menjamur menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk menikmati kehidupan kota.

Istilah flanerie merujuk pada kebiasaan berjalan santai tanpa tujuan tertentu sambil mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Orang yang melakukannya disebut flaneur.

Tokoh-tokoh sastra terkenal seperti Honore de Balzac dan Charles Baudelaire termasuk di antara para flaneur yang menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari proses kreatif mereka. Bagi mereka, jalanan Paris adalah panggung besar yang menampilkan beragam kisah manusia.

Baca Juga: Bukan Sekadar Hotel, Bangunan Bersejarah di Paris Ini Melahirkan Mahakarya Dunia

Dalam berbagai catatan sejarah, para flaneur sering menghabiskan waktu berjam-jam menyusuri boulevard Paris hanya untuk memperhatikan tingkah laku masyarakat, mode berpakaian, hingga dinamika sosial yang terjadi di sekitar mereka.

Kafe Paris dan Budaya Saling Mengamati

Salah satu ruang paling penting dalam tradisi flanerie adalah kafe. Sejak abad ke-19, kafe-kafe Paris bukan hanya tempat menikmati kopi atau makanan ringan, tetapi juga menjadi arena sosial tempat orang melihat dan dilihat.

Baca Juga: Menyusuri Sejarah Besar Austria di Museum Wien Stadt yang Terasa Begitu Mistis

Pada sore hari, pintu-pintu kafe terbuka lebar menghadap trotoar. Pengunjung duduk menghadap jalan, memperhatikan aktivitas kota yang terus bergerak. Budaya ini menjadi bagian penting dari identitas Paris.

Bagi masyarakat Paris, mengamati orang lain bukan dianggap sebagai tindakan yang mengganggu, melainkan bentuk apresiasi terhadap kehidupan urban. Dari sinilah muncul berbagai kisah, inspirasi sastra, hingga refleksi sosial yang kemudian mewarnai karya-karya besar Prancis.

Galeri Beratap Kaca yang Menjadi Simbol Modernitas

Baca Juga: Menguak Sejarah Kelam di Balik Lukisan Mustafa Pasha di Museum Wina yang Terkesan Angker

Selain boulevard dan kafe, sejarah flanerie juga tidak dapat dipisahkan dari keberadaan passages atau koridor pertokoan beratap kaca yang berkembang pada abad ke-19.

Salah satu yang terkenal adalah Galerie Vivienne. Koridor ini menghadirkan pengalaman berjalan kaki yang berbeda karena pengunjung dapat menikmati cahaya alami yang masuk melalui atap kaca sambil menyaksikan etalase toko-toko yang berjajar rapi.

Filsuf dan kritikus sosial Walter Benjamin menyebut tempat-tempat seperti ini sebagai miniatur kota. Di sinilah masyarakat modern bertemu, berinteraksi, sekaligus mempertontonkan identitas sosial mereka melalui cara berpakaian, berbicara, dan berperilaku.

Baca Juga: Dari Kota Pengrajin Kulit Menjadi Ibukota Parfum Dunia, Ini Sejarah Grasse

Tak heran jika kawasan-kawasan seperti Galerie Vivienne dan Passage de Panoramas menjadi ruang favorit para flaneur dalam mengamati kehidupan Paris.

Department Store dan Lahirnya Budaya Konsumsi Modern

Perkembangan flanerie juga berkaitan erat dengan munculnya department store pada abad ke-19. Tempat-tempat seperti Le Bon Marche menjadi simbol modernitas baru di Paris.

Baca Juga: Kahlenberg dan Danube di Austria, Jejak Sejarah yang Melahirkan Lagu Abadi Dunia

Pada masa itu, department store bukan hanya lokasi berbelanja. Tempat ini berfungsi sebagai ruang publik yang memungkinkan masyarakat berkumpul, melihat tren terbaru, dan memperlihatkan status sosial mereka.

Penulis Prancis Emile Zola bahkan menjadikan fenomena tersebut sebagai inspirasi dalam novelnya yang mengisahkan dunia perdagangan, mode, dan hubungan sosial di Paris.

Budaya melihat dan dilihat semakin kuat ketika musim obral atau soldes tiba. Seluruh lapisan masyarakat turun ke jalan dan pusat perbelanjaan. Aktivitas berbelanja pun berubah menjadi bagian dari pertunjukan sosial yang mencerminkan gaya hidup warga Paris.

Baca Juga: Mencari Angin di Negeri Kincir Angin: Negeri yang Berdamai dengan Air, Dari Kanal Leiden ke Padang Ilalang Kinderdijk

Cafe de Flore dan Jejak Para Intelektual Dunia

Pada abad ke-20, tradisi flanerie menemukan rumah baru di kawasan Boulevard Saint-Germain. Di sinilah berdiri Cafe de Flore yang terkenal sebagai tempat berkumpul para pemikir dan sastrawan besar dunia.

Kafe ini pernah menjadi tempat favorit filsuf Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, hingga Albert Camus. Mereka menjadikan suasana kafe sebagai ruang diskusi intelektual sekaligus tempat mengamati denyut kehidupan Paris.

Baca Juga: Mencari Angin di Negeri Kincir Angin (bagian-2): Dari Rotterdam Menuju Kinderdijk yang Mendunia

Meski kini dipenuhi wisatawan dari berbagai negara, Cafe de Flore masih mempertahankan aura historis yang menjadikannya salah satu simbol budaya kota tersebut.

Paris, Kota yang Mengubah Berjalan Kaki Menjadi Seni

Keunikan Paris terletak pada kemampuannya mengubah aktivitas sederhana menjadi bagian dari kebudayaan. Flanerie menunjukkan bagaimana berjalan kaki dapat menjadi sarana memahami masyarakat, membaca perubahan zaman, dan menikmati keindahan kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Sherlock Holmes “Hidup” Lagi Saat Fans Rayakan Duel Legendaris di Swiss

Tradisi ini pula yang membantu membangun citra Paris sebagai kota romantis yang penuh pesona. Dari boulevard, kafe, galeri, hingga taman dan pemakaman bersejarah,setiap sudut kota menawarkan cerita yang dapat dinikmati secara perlahan.

Dalam pandangan banyak penulis dan seniman, Paris bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang untuk merasakan kehidupan dengan tempo yang lebih lambat. Di kota inilah berjalan kaki menjadi seni, pengamatan menjadi inspirasi, dan setiap pertemuan kecil dapat berubah menjadi kisah yang tak terlupakan.

Editor : Silvina
#Jejak Sejarah #syafarudin daeng usman #flenerie paris #kota romantis #seni berjalan santai