PONTIANAK POST – Paris seolah memiliki kemampuan untuk membuat siapa pun jatuh cinta berulang kali. Kota yang dikenal sebagai pusat mode, seni, sejarah, dan romantisme ini menawarkan pengalaman yang tak pernah habis untuk dijelajahi.
Pengalaman inilah yang dirasakan Syafarudin Daeng Usman, penulis dan peneliti sejarah Kalimantan Barat, ketika berada di Paris bersama istrinya belum lama ini. Menurutnya, setiap sudut kota menghadirkan daya tarik yang berbeda, mulai dari pusat mode dunia hingga kawasan bersejarah yang menyimpan kisah masa lalu.
Paris, Kiblat Mode yang Mendunia
Baca Juga: Jejak Sejarah Flanerie di Paris, Seni Berjalan Santai yang Membentuk Kota Romantis Dunia
Dunia mengenal Paris sebagai pusat mode karena sejumlah rumah mode ternama lahir dan berkembang di kota ini. Nama-nama besar seperti Chanel, Dior, Saint Laurent, Givenchy, Hermès, dan Louis Vuitton memulai jejak kejayaannya di kawasan Arrondissement ke-8 Paris.
Kemajuan industri mode di kota ini tidak terlepas dari sejarah panjang yang salah satunya dikaitkan dengan pemerintahan Raja Louis XIV. Penguasa Prancis tersebut dikenal mendorong perkembangan berbagai kerajinan dan karya seni berkualitas tinggi yang kemudian menjadi fondasi industri fesyen dan barang mewah Prancis hingga saat ini.
Bagi pencinta gaya berpakaian modern dan unik, kawasan Arrondissement ke-3 Paris menawarkan banyak pilihan. Salah satunya adalah gerai Merci yang menjual berbagai produk fesyen premium dengan potongan harga menarik, mulai dari sepatu, parfum, hingga perhiasan. Kompleks pertokoan tersebut juga dilengkapi toko bunga, toko buku bekas, dan kafe yang menghadirkan suasana khas Paris.
Baca Juga: Museum Louvre Paris, Saksi Bisu Ribuan Tahun Sejarah yang Masih Memikat Dunia
Pengalaman berbelanja semakin lengkap dengan mengunjungi tiga department store legendaris kota ini, yakni Le Bon Marché, Printemps, dan Galeries Lafayette. Ketiganya tidak hanya menawarkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan gaya hidup masyarakat Paris.
Tak heran jika banyak orang berseloroh bahwa toko-toko terbaik di Paris sebenarnya tidak menjual pakaian, melainkan menjual gaya hidup. Ungkapan tersebut terasa nyata ketika menyaksikan bagaimana mode menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Menara Eiffel, Ikon Romantis yang Tak Pernah Membosankan
Baca Juga: Bukan Sekadar Hotel, Bangunan Bersejarah di Paris Ini Melahirkan Mahakarya Dunia
Romantisme Paris semakin terasa ketika berdiri di hadapan Menara Eiffel. Berapa kali pun melihat ikon kota ini, selalu ada rasa kagum yang muncul. Menara yang dibangun pada 1888 tersebut menyediakan tangga dan elevator bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama Paris dari ketinggian.
Bagi wisatawan yang ingin menghindari keramaian, malam hari menjadi waktu terbaik untuk menikmati keindahan Eiffel. Cahaya yang menghiasi struktur besi raksasa tersebut menghadirkan suasana romantis yang sulit dilupakan.
Pengunjung juga dapat menikmati pengalaman istimewa di puncak menara melalui bar yang beroperasi hingga malam hari. Sementara itu, restoran di lantai pertama menawarkan kesempatan bersantap sambil menikmati pemandangan kota yang membentang luas dari atas.
Baca Juga: Patung Anjing di Jepang Ini Simpan Kisah Nyata Mengharukan dan Menggetarkan Dunia
Tak jauh dari Menara Eiffel, terdapat hamparan hijau Champ de Mars yang menjadi lokasi favorit untuk bersantai. Banyak wisatawan maupun warga lokal menggelar piknik sambil menikmati kemegahan menara yang menjadi simbol Paris tersebut.
Dalam perjalanan menuju Eiffel, wisatawan juga dapat singgah di Rue Cler, salah satu kawasan terbaik untuk berbelanja makanan khas Prancis seperti keju dan baguette yang terkenal.
Menikmati Seni dan Sejarah di Jantung Paris
Baca Juga: Menjelajahi Melaka, Malaysia: Mengenal Sejarah Kota Warisan Dunia yang Semakin Mudah Dikunjungi
Tak jauh dari kawasan Eiffel berdiri Musée Rodin yang kerap disebut sebagai salah satu museum patung terbaik di Eropa. Museum ini menyimpan berbagai karya maestro patung Prancis, Auguste Rodin, termasuk karya legendarisnya, The Thinker.
Museum tersebut menjadi salah satu destinasi yang memperlihatkan betapa kuatnya hubungan Paris dengan dunia seni. Tidak hanya menghadirkan koleksi berkelas dunia, tetapi juga menawarkan suasana tenang yang berbeda dari hiruk-pikuk pusat kota.
Montmartre, Kawasan yang Membawa ke Paris Era 1920-an
Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Peran Masjid Jami’atus Sholihin, Pusat Dakwah Tertua di Tanjung Saleh
Keromantisan Paris juga terpancar kuat di kawasan Montmartre. Gang-gang sempit berbatu yang mengelilingi Basilika Sacré-Cœur mampu membawa pengunjung seakan kembali ke Paris era 1920-an.
Meski berada di tengah kota modern dan menjadi salah satu tujuan wisata paling ramai, Montmartre tetap mempertahankan nuansa pedesaan yang khas. Kawasan ini telah lama menjadi tempat berkumpul para seniman sejak abad ke-19, didukung keberadaan tempat hiburan legendaris seperti Moulin Rouge dan Le Chat Noir.
Kini, Montmartre berkembang menjadi pusat kreativitas yang dipenuhi kafe, butik, toko barang vintage, hingga usaha rintisan milik warga setempat. Dari puncak bukitnya, pengunjung dapat menikmati panorama indah Paris, terutama kawasan distrik ke-18 yang membentang di bawahnya.
Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu
Tak hanya menyimpan keindahan, bukit Montmartre juga memiliki catatan sejarah penting. Pada 1590, lokasi ini pernah digunakan pasukan Henry IV untuk melancarkan serangan artileri dalam konflik panjang antara kelompok Katolik dan Protestan. Bertahun-tahun kemudian, kawasan yang sama kembali menjadi titik strategis saat pasukan Rusia memasuki Paris.
Keromantisan yang Tak Pernah Berakhir
Di antara gemerlap mode, kemegahan arsitektur, karya seni kelas dunia, serta jejak sejarah yang panjang, Paris terus mempertahankan pesonanya sebagai kota yang romantis dan memikat.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia
Keromantisan itu tidak pernah benar-benar berakhir. Setiap sudut kota selalu menghadirkan kisah baru bagi siapa saja yang datang mengunjunginya. Dari Menara Eiffel yang ikonik hingga gang-gang bersejarah di Montmartre, Paris tetap menjadi kota yang mampu membuat pengunjung ingin kembali lagi dan lagi.
Bersambung...
Editor : Silvina