PONTIANAK POST – Di balik kelamnya Tragedi Mandor, ternyata terdapat satu peristiwa penting yang jarang diketahui masyarakat. Menurut peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, Syafarudin Daeng Usman, pemberontakan bersenjata yang benar-benar terjadi terhadap tentara Jepang bukanlah peristiwa yang dijadikan alasan dalam Tragedi Mandor, melainkan perlawanan masyarakat Dayak di wilayah Sanggau Kapuas.
Ia menjelaskan, hasil penyelidikan tentara Belanda dan Australia setelah Perang Dunia II menyimpulkan tuduhan Jepang mengenai adanya organisasi rahasia lintas etnis yang hendak memberontak di Kalimantan Barat tidak pernah terbukti.
Bahkan, pihak Sekutu tidak pernah mengetahui keberadaan jaringan perlawanan seperti yang diklaim pemerintah militer Jepang.
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Perlawanan Nyata Terjadi di Sanggau Kapuas
Menurut Syafarudin, satu-satunya pemberontakan fisik terhadap Jepang di Kalimantan Barat justru terjadi di wilayah Sanggau Kapuas pada Mei hingga Juni 1945.
Dalam peristiwa tersebut, masyarakat Dayak melakukan perlawanan secara terbuka terhadap tentara pendudukan Jepang. Sejumlah prajurit Jepang dilaporkan tewas dalam perlawanan itu.
Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941
Konflik kemudian meluas hingga ke wilayah Ngabang. Sejumlah orang Melayu yang dianggap bekerja sama dengan Jepang turut menjadi sasaran amuk massa. Sementara itu, situasi keamanan di Kapuas Hulu dilaporkan masih belum sepenuhnya pulih selama berbulan-bulan.
"Perlawanan di Sanggau Kapuas inilah yang disebut sebagai pemberontakan nyata terhadap Jepang, bukan tuduhan konspirasi yang dijadikan dasar penangkapan massal dalam Tragedi Mandor," jelas Syafarudin.
Tragedi Mandor Diduga Berawal dari Tuduhan yang Tidak Pernah Terbukti
Baca Juga: Refleksi Harkitnas: Saatnya Jadi Budi Utomo Baru di Era Digital
Syafarudin menjelaskan, penyelidikan yang dilakukan setelah perang berakhir menemukan dugaan bahwa isu pemberontakan yang digunakan Jepang untuk menangkap ribuan tokoh Kalimantan Barat hanyalah dalih untuk menyingkirkan para pemimpin lokal.
Seorang perwira Jepang memang pernah mengklaim polisi militernya menemukan senjata milik Sekutu. Namun, sejumlah personel militer Jepang lainnya justru mengakui bahwa tuduhan tersebut merupakan rekayasa rezim Dai Nippon.
Hingga kini tidak ditemukan bukti kuat yang menunjukkan adanya gerakan perlawanan besar sebagaimana yang dituduhkan Jepang kepada masyarakat Kalimantan Barat.
Baca Juga: Inilah Kisah Menarik Gajah Mada dan Sumpah Palapa yang Melegenda
Para Tokoh Kalimantan Barat Menjadi Sasaran
Akibat tuduhan tersebut, ribuan orang dari berbagai kalangan ditangkap. Korbannya berasal dari kalangan sultan, bangsawan, pegawai pemerintah, guru, dokter, wartawan, tokoh organisasi nasionalis, hingga para pengusaha.
Sejumlah pengusaha Tionghoa juga menjadi sasaran. Mereka dituduh menolak monopoli perdagangan Jepang atau menyimpan kekayaan dalam jumlah besar.
Baca Juga: Mengenal Pahlawan Wanita dari Kayong Utara yang Makamnya Masih Terawat di Perbukitan
Di antara korban tersebut terdapat Ng Ngiap Soen, pimpinan Kakyo Toseikai, yang dilaporkan meninggal akibat penyiksaan sebagaimana tercatat dalam Dokumen Laporan Interogasi Pontianak Februari 1946.
Korban lainnya adalah Ng Ngiap Kan atau Huang Yejiang, pemilik pabrik es sekaligus tokoh masyarakat Tionghoa di Singkawang.
Menjadi Pelajaran Penting dalam Sejarah Kalimantan Barat
Baca Juga: Mengungkap Sisi Religius RA Kartini dalam Surat-suratnya
Menurut Syafarudin, penting membedakan antara perlawanan nyata masyarakat Dayak di Sanggau Kapuas dengan tuduhan pemberontakan yang dijadikan alasan oleh pemerintah militer Jepang untuk melakukan penangkapan massal dalam Tragedi Mandor.
Perlawanan di Sanggau Kapuas merupakan aksi bersenjata yang benar-benar terjadi, sedangkan tuduhan konspirasi yang menjadi dasar penangkapan ribuan tokoh Kalimantan Barat hingga kini dinilai tidak pernah terbukti.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Kalimantan Barat dan menunjukkan bahwa Tragedi Mandor bukan hanya kisah pembantaian massal, tetapi juga berkaitan dengan dugaan rekayasa politik yang menghilangkan satu generasi terbaik di daerah ini.
Editor : Silvina