Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1):  Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak

Silvina • Jumat, 26 Juni 2026 | 14:21 WIB
Ilustrasi Ahmad Maidin Diarak oleh Jepang
Ilustrasi Ahmad Maidin Diarak oleh Jepang

 

PONTIANAK POST – Peristiwa Mandor Berdarah pada 28 Juni 1944 bukanlah awal dari kebengisan tentara pendudukan Jepang di Kalimantan Barat. Beberapa bulan sebelumnya, Jepang telah lebih dahulu menebar teror dengan menangkap sejumlah tokoh masyarakat hingga akhirnya mengincar Kesultanan Pontianak.

Menurut Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah di Kalimantan Barat, memasuki tahun 1943 pemerintah militer Dai Nippon mulai menjalankan strategi penguasaan wilayah secara sistematis. Tokoh-tokoh berpengaruh mulai dipantau, ditangkap, dan diperiksa dengan tuduhan yang beragam.

Ahmad Maidin Menjadi Korban Awal

Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar

Salah satu korban pada masa awal operasi tersebut adalah Ahmad Maidin.Setelah menjalani pemeriksaan oleh tentara Jepang, Ahmad Maidin diarak mengelilingi Kota Pontianak dengan kedua tangannya dipasung ke belakang. Di punggungnya digantungkan tulisan bertuliskan "Orang Jahat" sebagai bentuk penghinaan di hadapan masyarakat.

Tidak lama kemudian Ahmad Maidin menghilang. Hingga kini tidak pernah diketahui secara pasti di mana ia dibunuh maupun dimakamkan.

Pergantian Penguasa Militer Tidak Mengubah Keadaan

Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor

Syafarudin menjelaskan, perubahan pemerintahan militer dari Angkatan Darat Jepang (Rikugun) kepada Angkatan Laut Jepang (Kaigun) ternyata tidak membawa perubahan bagi masyarakat Kalimantan Barat.

Sebaliknya, tekanan terhadap masyarakat justru semakin meningkat.Seluruh organisasi politik, organisasi sosial, hingga perkumpulan masyarakat dibubarkan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Sebagai gantinya dibentuk organisasi Nissinkwai yang wajib diikuti oleh kalangan terpelajar dan tokoh masyarakat.

Organisasi tersebut dipimpin sejumlah tokoh Kalimantan Barat, di antaranya RPM Zubir Notosoedjono, dr. Roebini, J.E. Pattiasina, dan Pangeran Adipati.Namun dalam praktiknya, seluruh aktivitas organisasi berada di bawah kendali pemerintah militer Jepang.

Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941

Jepang Mulai Menaruh Curiga kepada Kesultanan Pontianak

Menurut Syafarudin, pemerintah militer Jepang kemudian mulai menaruh kecurigaan kepada keluarga Kesultanan Pontianak, kaum intelektual, serta tokoh-tokoh pergerakan.

Kecurigaan itu diperkuat oleh laporan para mata-mata Jepang mengenai dugaan adanya gerakan rahasia yang dikaitkan dengan kunjungan dr. Soesilo dan Ir. Makaliwey dari Banjarmasin sebagai utusan Gubernur Borneo, Dr. B.J. Haga.

Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944

Kedua utusan tersebut disebut melakukan pertemuan dengan sejumlah pimpinan Nissinkwai 

Editor : Silvina
#mandor berdarah #ahmad maidin #istana kadriyah #teror #jepang