PONTIANAK POST – Dini hari 24 Januari 1944 menjadi malam yang tak pernah terlupakan bagi keluarga Kesultanan Pontianak. Sekitar 150 tentara Jepang bersenjata lengkap mengepung Istana Kadriyah beserta rumah-rumah keluarga kesultanan dalam sebuah operasi militer yang kemudian menjadi awal rangkaian Peristiwa Mandor Berdarah.
Penulis dan Peneliti Sejarah di Kalimantan Barat Syafarudin Daeng Usman mengatakan pasukan Jepang dibagi ke dalam beberapa kelompok. Sebagian ditempatkan untuk mengepung empat penjuru istana, sementara kelompok terbesar berjaga di kawasan kopel istana di tepi Sungai Kapuas agar tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri.
Tangisan Pecah di Tengah Keheningan Malam
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Di tengah malam yang sunyi, pintu-pintu rumah keluarga kesultanan digedor dengan keras.
Para penghuni yang masih tertidur dibangunkan secara paksa. Suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Tangisan perempuan dan anak-anak terdengar memenuhi lingkungan Istana Kadriyah ketika satu per satu anggota keluarga kesultanan dibawa keluar rumah.
Menurut Syafarudin, operasi tersebut telah dipersiapkan dengan matang. Nama beserta foto anggota keluarga Kesultanan Pontianak yang menjadi target penangkapan telah lebih dahulu berada di tangan tentara Jepang.
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Namun, bukan hanya mereka yang masuk dalam daftar. Beberapa orang yang tidak menjadi target utama juga ikut diseret dan ditangkap.
Sekitar 60 Orang Dibawa Pergi
Para tahanan disungkup menggunakan karung goni, sementara kedua tangan mereka dipasung ke belakang sebelum dibawa meninggalkan istana.
Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor
Warga Kampung Pedalaman yang mendengar suara tangisan dari arah istana hanya mampu menyaksikan dari kejauhan.Tidak seorang pun berani memberikan pertolongan karena seluruh kawasan telah dijaga ketat tentara Jepang dengan senjata terhunus.
Sultan Sedang Menunaikan Salat Tahajud
Di tengah operasi tersebut, beberapa anggota Kempeitai memasuki ruang utama istana untuk menemui Sultan Syarif Mohammad Alkadrie.
Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941
Saat itu, Sultan tengah menunaikan salat tahajud.Tentara Jepang memerintahkan Sultan keluar dari ruangannya. Namun, Sultan menolak dipasung maupun disungkup seperti tahanan lainnya.
Menurut Syafarudin, kewibawaan Sultan membuat tentara Jepang mengurungkan niat memperlakukannya seperti anggota keluarga yang lain.
Meski demikian, sedikitnya sekitar 60 anggota keluarga Kesultanan Pontianak tetap dibawa pergi pada malam itu.
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Menjadi Awal Tragedi Mandor Berdarah
Bagi keluarga Kesultanan Pontianak, malam 24 Januari 1944 menjadi perpisahan yang tidak pernah mereka bayangkan.Sebagian besar anggota keluarga yang ditangkap tidak pernah kembali.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi awal dari rangkaian penangkapan besar-besaran terhadap para sultan, bangsawan, ulama, intelektual, tokoh masyarakat, hingga pemimpin daerah di Kalimantan Barat yang berpuncak pada Peristiwa Mandor Berdarah pada 28 Juni 1944.
Tragedi itu hingga kini dikenang sebagai salah satu pelanggaran kemanusiaan terbesar dalam sejarah Kalimantan Barat.
Editor : Silvina