PONTIANAK POST – Serangan udara Jepang ke Kota Pontianak pada penghujung 1941 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Kalimantan Barat. Rentetan pemboman yang dilakukan pasukan Kekaisaran Jepang bukan sekadar operasi militer, tetapi menjadi awal dari upaya menguasai wilayah barat Pulau Kalimantan sebagai bagian dari strategi besar pendudukan Hindia Belanda.
Berdasarkan kajian sejarah yang disampaikan Syafarudin Daeng Usman, operasi militer Jepang di wilayah ini dipimpin oleh Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi melalui Brigade Kawaguchi. Dia menjadi ujung tombak ekspansi Jepang di Borneo Utara dan Kalimantan Barat.
Brigade Kawaguchi Jadi Ujung Tombak Invasi Jepang
Brigade Kawaguchi merupakan satuan tempur setingkat brigade yang terdiri atas berbagai unsur militer. Mulai dari Markas Komando Brigade XXXV, Resimen Infanteri CXXIV, peleton zeni dari Resimen Zeni XII, unit perhubungan Divisi XVIII, satuan kesehatan, rumah sakit lapangan, hingga unit penjernih air.
Selain itu, brigade tersebut juga diperkuat satuan pertahanan antiudara, empat kompi zeni lapangan yang bertugas mendukung pengeboran minyak, serta satuan pengamanan lapangan.
Setelah berhasil menguasai wilayah Borneo Utara yang saat itu berada di bawah protektorat Inggris, Brigade Kawaguchi bergerak mengejar pasukan Sekutu yang mundur ke wilayah Hindia Belanda. Sasaran berikutnya adalah bagian barat Pulau Kalimantan yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi.
Baca Juga: Tragedi Mandor 1944, Saat Ribuan Warga Kalbar Dieksekusi Tanpa Pengadilan Jepang
Didukung Armada Laut Kekaisaran Jepang
Operasi militer Jepang mendapat dukungan besar dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.Brigade Kawaguchi diberangkatkan dari Cam Ranh dengan pengawalan Laksamana Madya Takeo Kurita menggunakan kapal penjelajah Kumano dan Suzuya.
Pengawalan jarak jauh dipimpin Laksamana Madya Nobutake Kondo yang membawa kapal penjelajah berat Atago dan Takao, kapal perang Haruna dan Kongō, serta sejumlah kapal perusak (destroyer).
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Dalam operasi tersebut, Jepang juga mengerahkan Pasukan Pendarat Khusus Angkatan Laut II atau 2nd Yokosuka Naval Landing Force untuk memperkuat proses invasi.
Kuching Direbut Tanpa Perlawanan
Setelah berhasil merebut Miri dan Serian, dua batalion Jepang bergerak menuju Kuching. Pada 22 Desember 1941, kota tersebut berhasil dikuasai tanpa perlawanan berarti.
Baca Juga: Dari Disambut hingga Dibenci, Begini Sejarah Jepang di Indonesia
Sebagian pasukan Inggris yang bertahan di Kuching memilih mundur ke wilayah Hindia Belanda. Mereka tiba di Lapangan Terbang Singkawang II pada 29 Desember 1941 dan bergabung dengan sekitar 750 tentara KNIL Belanda untuk mempertahankan kawasan tersebut.
Belanda juga menempatkan tiga pesawat amfibi Dornier DO 24K dari Naval Air Group GVT-1 sebagai bagian dari pertahanan udara.
Kekuatan Belanda di Kalimantan Barat Terbatas
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Di Pontianak, pertahanan KNIL dipimpin Letnan Kolonel DPF Mars yang menjabat sebagai Komandan Pasukan Teritorial Belanda di Borneo Barat atau Territoriaal Commando Westerafdeling van Borneo.
Pasukan yang dimiliki sekitar 500 personel, ditambah Kompi Infanteri Stadwacht di Pontianak berkekuatan sekitar 125 orang. Kemudian baterai artileri udara dengan dua meriam kaliber 40 milimeter, sejumlah senjata antiudara, peleton kendaraan bantuan, serta Brigade Stadwacht di Singkawang dan Sintang.
Secara keseluruhan, kekuatan Belanda di Kalimantan Barat diperkirakan hanya setingkat satu batalyon yang dibagi ke dalam empat kompi.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali
Kalimantan Barat Menjadi Target Strategis Jepang
Dalam strategi perang Jepang, penguasaan Kalimantan dan Sumatera menjadi langkah penting sebelum mengepung Pulau Jawa yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Kalimantan memiliki posisi strategis karena berada di jalur pelayaran Asia Tenggara yang menghubungkan Laut Cina Selatan dengan Sumatera, Jawa, hingga kawasan Indonesia Timur.
Selain letaknya yang strategis, Kalimantan juga dikenal memiliki sumber daya alam melimpah sehingga menjadi target utama ekspansi Jepang.
Menurut Syafarudin Daeng Usman, Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah pertama yang menjadi sasaran dalam jaringan pendudukan Jepang di Indonesia.
Baca Juga: Heboh Penemuan Granat Tangan di Kebun Sawit di Menyuke-Landak, Diduga Peninggalan Masa Penjajahan
Pontianak Dibom Berulang Kali
Serangan pertama ke Pontianak terjadi pada Jumat, 19 Desember 1941 sekitar pukul 11.00 siang.Sembilan pesawat Jepang menggempur sejumlah kawasan, antara lain Kampung Bali, Parit Besar, dan Kampung Melayu.
Target utama pemboman adalah Tangsi Militer Belanda Fort du Bus.Serangan tersebut membuat masyarakat Pontianak panik. Banyak warga memilih meninggalkan kota untuk menyelamatkan diri.Pesawat tempur Belanda yang lepas landas dari Sanggau Ledo sempat melakukan serangan balasan sehingga terjadi pertempuran udara sengit di wilayah Mempawah.
Namun pemboman Jepang tidak berhenti. Pada 19, 22, dan 27 Desember 1941, Kota Pontianak kembali dihujani bom yang menyebabkan Kampung Bali, Parit Besar, serta sejumlah kawasan kota mengalami kerusakan parah.
Kapal-Kapal Sungai Ikut Menjadi Korban
Dampak serangan Jepang juga dirasakan pada jalur transportasi sungai yang menjadi urat nadi Kalimantan Barat saat itu.
Baca Juga: Tragedi Mandor Ternyata Berawal dari Serangan “Kapal Terbang Sembilan” di Pontianak 1941
Kapal Lien dan Irma milik Pontianak River Transport Diens dibom hingga tenggelam di kawasan Sukalanting, sekitar 30 kilometer dari Kota Pontianak.Sementara itu, nasib kapal Sri Kapuas dan West Borneo tidak diketahui. Demikian pula beberapa kapal swasta seperti Kong Neng dan Kong Fa yang berlayar menuju Putussibau.
Rangkaian pemboman tersebut menjadi penanda awal melemahnya pertahanan Belanda di Kalimantan Barat dan membuka jalan bagi pendudukan Jepang yang kemudian membawa perubahan besar dalam perjalanan sejarah daerah ini.
Editor : Silvina