PONTIANAK POST – Pertempuran di Lapangan Terbang Singkawang II menjadi salah satu episode paling menentukan dalam pendudukan Jepang di Kalimantan Barat. Di lokasi inilah pertahanan gabungan Belanda dan Inggris berusaha mempertahankan wilayah terakhirnya sebelum akhirnya runtuh di bawah gempuran pasukan Jepang pada Januari 1942.
Berdasarkan kajian sejarah Syafarudin Daeng Usman, peminat sejarah Kalimantan Barat, kekuatan militer Belanda di wilayah ini sebenarnya sangat terbatas. Meski sempat mendapat tambahan pasukan dari Jawa dan Sumatera, jumlah personel maupun persenjataan tidak mampu mengimbangi kekuatan Jepang yang terus bergerak dari darat, laut, maupun udara.
Kekuatan KNIL di Kalimantan Barat Terbatas
Saat Jepang mulai memasuki Kalimantan Barat, jumlah personel militer Belanda diperkirakan hanya sekitar 700 orang.
Untuk memperkuat pertahanan, pada awal Desember 1941 pemerintah Hindia Belanda mengirim delapan brigade dari Pulau Jawa di bawah komando Overste Gortmans yang menggantikan Overste Marks sebagai komandan teritorial.
Fokus pertahanan kemudian diarahkan ke kawasan Sanggau Ledo dan Seluas yang dianggap sebagai pintu masuk penting menuju pedalaman Kalimantan Barat.Hingga akhir 1941, kekuatan KNIL di Kalimantan Barat hanya setingkat satu batalion.
Baca Juga: Dari Pemangkat hingga Pontianak, Begini Strategi Jepang Menaklukkan Kalimantan Barat pada Tahun 1942
Kompi I dipimpin Kapten Martin di Pontianak, Kompi II dipimpin Kapten Van Sprio di Sintang, Kompi III dipimpin Kapten De Houde di Singkawang, dan Kompi IV dipimpin Kapten Touwen di Ketapang.
Menjelang pecahnya Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik, Belanda juga mendatangkan tambahan pasukan artileri, kavaleri, korps kesehatan, serta satu peleton pasukan gerilya khusus dari Sumatera.
Pertahanan Diperluas ke Sejumlah Wilayah
Penyebaran pasukan diperluas hingga mencakup Ketapang, Sukadana, Ngabang, Nanga Tayap, Sintang, Bengkayang, Pemangkat, Sambas, Sanggau Ledo, dan Pontianak.
Persenjataan yang dimiliki terdiri atas satu peleton penangkis serangan udara dengan tiga senjata kaliber 12,7 milimeter, dua meriam lapangan ringan, satu kompi bantuan antitank, sejumlah senapan mesin berat, serta kendaraan lapis baja.
Mobilitas pasukan di kawasan pesisir dan utara Kalimantan Barat masih mengandalkan jalur sungai menggunakan perahu sebelum dipindahkan ke kapal yang lebih besar.
Jepang Kuasai Singkawang dan Pontianak
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Serangan Jepang berlangsung sangat cepat. Pada 27 Januari 1942, Jepang berhasil merebut Sambas, Ledo, dan Lapangan Terbang Singkawang II yang selama ini menjadi basis penting kekuatan udara Belanda.
Dua hari kemudian, Jepang menguasai Pontianak setelah sebelumnya mendarat di Tanjung Kodok, Pemangkat. Jatuhnya Singkawang II menjadi pukulan telak bagi Belanda karena pangkalan udara tersebut merupakan salah satu pusat pertahanan udara terpenting di Kalimantan Barat.
Sebelum lapangan terbang jatuh ke tangan Jepang, seluruh pesawat dan personel udara Belanda telah dipindahkan ke Palembang, Sumatera Selatan.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali
Singkawang II Menjadi Basis Pertahanan Udara
Di Lapangan Terbang Singkawang II, Belanda menempatkan Skuadron 2 (2-VI.G.I) yang diperkuat 11 pesawat Martin WH-3A di bawah komando Kapten R. de Seneport Domis.
Selain itu terdapat Skuadron Pemburu 1-VI.G.V yang diperkuat lima pesawat Brewster B-339 Buffalo di bawah pimpinan Letnan Satu A.A.M. van Rest. Namun keberadaan kekuatan udara tersebut tidak mampu dipertahankan karena ancaman serangan Jepang yang semakin besar.
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Pasukan Inggris Mundur ke Singkawang II
Pada 25 Desember 1941, sebagian pasukan Inggris mundur dari Kuching menuju wilayah Hindia Belanda. Pasukan dari Batalion 2 Resimen 15 Punjab sebelumnya mengalami kekalahan setelah diserang Brigade Kawaguchi di selatan Kuching.
Empat perwira Inggris dan sekitar 230 prajurit India dilaporkan tewas atau ditangkap, sedangkan sisanya melarikan diri menembus hutan lebat dan sungai sejauh sekitar 60 mil.
Baca Juga: Perlawanan Dayak di Sanggau Kapuas Disebut Jadi Pemberontakan Nyata sebelum Tragedi Mandor
Setelah perjalanan yang berat, mereka tiba di Lapangan Terbang Singkawang II pada 31 Desember 1941 dan bergabung dengan pasukan Belanda.
Pertempuran Sengit Berakhir dengan Kekalahan Sekutu
Jepang kemudian melancarkan serangan dari dua arah, yakni melalui jalur darat dari utara dan pendaratan dari pesisir barat. Cuaca buruk sempat menghambat operasi militer Jepang hampir selama sepekan.
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Namun pada 24 Januari 1942, lima kompi Jepang berhasil menembus perbatasan Hindia Belanda dan sehari kemudian mencapai kawasan utara Lapangan Terbang Singkawang II.
Pasukan Sekutu menghancurkan barak dan gudang logistik agar tidak jatuh ke tangan Jepang, kemudian mencoba melakukan serangan balasan.
Akan tetapi, upaya tersebut gagal menghentikan laju pasukan Jepang. Pada 27 Januari 1942, Belanda dan Inggris akhirnya diperintahkan mundur dari Singkawang II. Dalam proses penarikan pasukan, dua peleton prajurit Punjab terkepung.
Baca Juga: Hari Berkabung Jadi Pengingat Sejarah Kalbar, Wabup Sanggau Ajak Generasi Muda Hargai Jasa Pahlawan
Mereka tetap bertempur di bawah komando perwira India hingga malam hari dan menolak menyerah meski dikepung dari berbagai arah. Setelah kehabisan amunisi dan menghadapi kekuatan Jepang yang jauh lebih besar, mereka akhirnya menyerah.
Korban Besar di Kedua Belah Pihak
Menurut catatan sejarah yang dikutip Syafarudin Daeng Usman, Jepang mengalami kerugian sekitar 400 hingga 500 prajurit tewas maupun luka-luka selama operasi perebutan Singkawang II.
Baca Juga: Museum Kalbar Ajak Warga Lestarikan Warisan Budaya Lewat Koleksi Sejarah
Sementara itu, dari sekitar 70 prajurit Punjab yang bertahan hingga akhir pertempuran, hanya tiga orang yang dilaporkan berhasil meloloskan diri. Sisanya tidak pernah ditemukan lagi dan terdapat dugaan kuat mereka menjadi korban pembunuhan brutal oleh tentara Jepang.
Pertempuran Singkawang II menjadi salah satu peristiwa penting yang membuka jalan bagi Jepang untuk menguasai seluruh Kalimantan Barat. Jatuhnya pangkalan udara tersebut sekaligus menandai berakhirnya pertahanan gabungan Belanda dan Inggris di wilayah barat Pulau Kalimantan serta mempercepat pendudukan Jepang di Pontianak dan daerah sekitarnya.
Editor : Silvina