PONTIANAK POST – Pertempuran di kawasan Ledo dan Lapangan Terbang Singkawang II menjadi salah satu fase terakhir perlawanan Sekutu sebelum Jepang berhasil menguasai Kalimantan Barat pada awal 1942. Mundurnya pasukan Inggris dan Belanda dari garis pertahanan tersebut membuka jalan bagi tentara Jepang untuk memperluas pendudukannya hingga ke pedalaman Kalimantan.
Berdasarkan kajian Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah Kalimantan Barat, strategi Jepang memadukan serangan darat, laut, dan udara membuat pertahanan Sekutu semakin terdesak. Meski sempat memberikan perlawanan sengit, kekuatan Inggris dan Belanda akhirnya tidak mampu menahan laju pasukan Jepang.
Pasukan Punjabi Bertahan di Ketinggian Ledo
Baca Juga: Begini Sengitnya Pertempuran Singkawang II, Jalan Jepang Kuasai Pontianak dan Kalimantan Barat
Pada 27 Januari 1942, pasukan Punjabi dari Inggris menyeberangi Sungai Sambas dan menempati posisi pertahanan di kawasan perbukitan Ledo, sekitar 15 mil di barat daya Lapangan Terbang Singkawang II.
Lokasi tersebut dipilih karena memiliki posisi strategis untuk mengawasi jalur menuju lapangan terbang yang menjadi pusat pertahanan udara Sekutu di Kalimantan Barat. Namun, pada saat bersamaan Jepang telah menyiapkan strategi pengepungan dari arah yang tidak diduga.
Jepang Mendarat di Pemangkat dan Kepung Sekutu
Baca Juga: Dari Pemangkat hingga Pontianak, Begini Strategi Jepang Menaklukkan Kalimantan Barat pada Tahun 1942
Tiga kompi tentara Jepang berangkat dari Kuching menggunakan kapal-kapal kecil pada malam 25 Januari 1942. Dua hari kemudian mereka mendarat di kawasan Pemangkat, tepat di sebelah barat Lapangan Terbang Singkawang II.
Pendaratan itu hampir tidak mendapat perlawanan berarti. Jepang dengan cepat menguasai desa-desa nelayan di pesisir sebelum bergerak menuju Bengkayang. Pergerakan tersebut membuat posisi pasukan Sekutu di Ledo terkepung dari berbagai arah sehingga mempersempit ruang gerak mereka.
Sekutu Terpaksa Mundur ke Pedalaman
Setelah pertempuran di Singkawang II berakhir, pasukan Inggris dan Belanda memutuskan mundur menuju Sanggau. Di kota tersebut, kedua pasukan kemudian berpisah untuk menyusun strategi penyelamatan.
Pasukan KNIL Belanda bergerak menuju Sintang, sedangkan pasukan Inggris melanjutkan perjalanan ke Nanga Pinoh. Pada 29 Januari 1942, pasukan Punjabi kembali mundur menuju Ngabang, Kabupaten Landak.
Dua hari kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Nanga Pinoh karena tekanan Jepang semakin besar. Situasi yang semakin sulit memaksa pasukan Inggris mengambil keputusan meninggalkan Kalimantan Barat.
Atas persetujuan pihak Belanda, pada 4 Februari 1942 mereka bergerak menuju Sampit dan Pangkalan Bun di pesisir selatan Pulau Kalimantan.
Pasukan Inggris Terbagi Menjadi Tiga Kelompok
Dalam perjalanan menuju pantai selatan, pasukan Inggris dibagi menjadi tiga kelompok utama. Kelompok pertama terdiri atas Kompi A dari Sikh, Kompi B (PM), serta sebagian Kompi Markas yang dipimpin Mayor Milligan.
Baca Juga: Terungkap, Begini Eksekusi Brutal Jepang di Mandor yang Melenyapkan Generasi Terbaik Kalbar
Mereka menempuh jalur paling barat yang dianggap sebagai rute tercepat menuju pantai. Kelompok kedua berada di bawah komando Letnan Kolonel Ross Thompson yang memimpin Kompi C (Khattach), Kompi D (Jat), serta sebagian Kompi Markas.
Mereka bergerak melalui jalur timur untuk menghindari kontak langsung dengan pasukan Jepang. Sementara kelompok ketiga yang dikenal sebagai The Blitz Party hanya terdiri atas dua perwira dan empat prajurit.
Tugas mereka adalah mencapai Sampit secepat mungkin guna membuka komunikasi dengan Pulau Jawa dan mencari kemungkinan bantuan bagi pasukan Sekutu.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-1): Jepang Tebar Teror di Istana Kadriyah Pontianak
Singkawang II Menjadi Sasaran Utama Jepang
Sebelum Jepang menguasai Kalimantan, Belanda telah membangun Lapangan Terbang Singkawang II di dekat Ledo sebagai pangkalan udara strategis. Pangkalan ini dijaga Kapten KNIL C. Terluin bersama Skuadron Pemburu II yang diperkuat 11 pesawat Martin WH-3A di bawah Kapten R. de Seneport Domis.
Selain itu terdapat Skuadron Pemburu I dengan lima pesawat Brewster B-339D yang dipimpin Letnan Satu A.A.M. van Rest. Namun seluruh kekuatan tersebut tidak mampu bertahan menghadapi serangan udara dan darat Jepang.
Baca Juga: Fakta Sebelum Peristiwa Mandor (Bag-2) : 60 Keluarga Kesultanan Dibawa Pergi, Banyak Tak Kembali
Ketika Jepang melancarkan serangan besar-besaran, Belanda memilih menarik kekuatan udaranya sehingga Lapangan Terbang Singkawang II akhirnya jatuh ke tangan Jepang pada 29 Januari 1942.
Awal Dominasi Jepang di Kalimantan Barat
Keberhasilan merebut Singkawang II menjadi salah satu pencapaian penting bagi Jepang dalam operasi militer di Pulau Kalimantan.
Baca Juga: Forkopimca dan Warga Bersihkan Makam Juang Mandor Jelang Hari Perkabungan Daerah Kalbar
Tak lama setelah itu, pendaratan pasukan Angkatan Laut Jepang di wilayah Borneo semakin memperkuat posisi mereka untuk menguasai seluruh Kalimantan Barat.
Menurut Syafarudin Daeng Usman, jatuhnya Singkawang II dan mundurnya pasukan Sekutu menjadi momentum yang mempercepat berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di Kalimantan Barat.
Rangkaian peristiwa tersebut sekaligus membuka jalan bagi Jepang untuk menguasai Pontianak dan wilayah-wilayah lain di Kalimantan sebelum melanjutkan operasi militernya ke daerah lain di Hindia Belanda.
Editor : Silvina