PONTIANAK POST – Indonesia memiliki banyak warisan budaya yang mendunia, salah satunya adalah Kompleks Percandian Muaro Jambi di Provinsi Jambi. Kawasan cagar budaya ini disebut sebagai kompleks candi Buddha terbesar di Asia Tenggara dan menjadi salah satu peninggalan sejarah terpenting di Nusantara
Selain memiliki luas yang mengagumkan, Kompleks Percandian Muaro Jambi juga menyimpan berbagai pertanyaan sejarah, terutama mengenai kaitannya dengan Kerajaan Melayu dan Kedatuan Sriwijaya. Informasi ini diulas dalam tayangan YouTube Shorts @HelenShuuu, yang mengangkat sejarah dan nilai penting kawasan tersebut.
Kompleks Candi Terbesar di Asia Tenggara
Baca Juga: Terpendam Ribuan Tahun, Logam Setara Emas 16,5 Karat Ditemukan dalam Peripih Candi Losari Magelang
Kompleks Percandian Muaro Jambi berada di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Kawasan ini dikenal sebagai kompleks percandian Buddha terbesar di Asia Tenggara. Bahkan, dalam salah satu sumber yang dikutip dalam tayangan YouTube tersebut diinformasikan luas kawasan Muaro Jambi diperkirakan mencapai delapan kali lebih besar dibandingkan kawasan Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Dengan luas mencapai ribuan hektare, kawasan ini terdiri atas sejumlah candi, kanal kuno, tanggul, serta struktur bata yang menunjukkan bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan pada masa lampau.
Baca Juga: Benarkah Candi Borobudur Warisan Nabi Sulaiman? Ini Ulasannya
Diduga Menjadi Pusat Pendidikan Agama Buddha
Salah satu hal yang membuat Muaro Jambi begitu menarik adalah dugaan kawasan ini pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha pada masa kejayaannya.
Dalam tayangan yang menampilkan kunjungan Najwa Shihab ke Muaro Jambi ini, narasumber tidak menyebut Jambi sebagai pusat Kedatuan Sriwijaya. Namun, mereka menjelaskan Kompleks Percandian Muaro Jambi dikenal sebagai pusat pendidikan agama Buddha yang berfungsi layaknya perguruan tinggi atau universitas pada zamannya.
Meski demikian, hingga kini para sejarawan masih terus meneliti pada masa kekuasaan siapa fungsi tersebut berkembang.
Hubungan Muaro Jambi dengan Sriwijaya Masih Diteliti
Berdasarkan buku Persinggahan Terakhir: Rumah Peradaban Muaro Jambi, hingga kini belum ditemukan prasasti yang secara khusus menjelaskan kapan Kompleks Percandian Muaro Jambi dibangun maupun siapa penguasanya.
Ketiadaan bukti tertulis membuat hubungan langsung antara Muaro Jambi dan Sriwijaya masih menjadi bahan kajian para ahli.
Namun, sejumlah catatan sejarah dari Tiongkok memberikan petunjuk bahwa pada abad ke-7 Masehi wilayah Jambi pernah diperintah oleh Kerajaan Melayu yang dikenal dengan nama Mo-lo-yeu.
Catatan pendeta Buddha Tiongkok, I-Tsing, kemudian menyebutkan bahwa kerajaan tersebut berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pada akhir abad yang sama.
Baca Juga: Mengungkap Mitos Kabut Abadi Trowulan yang Konon Melindungi Kerajaan Majapahit dari Serangan Musuh
Dugaan Perpindahan Pusat Pendidikan Buddha
Sejumlah temuan arkeologi, seperti arca Buddha dan Bodhisattwa berukuran besar, struktur bata kuno, prasasti, serta keramik kuno, menunjukkan kuatnya tradisi agama Buddha di Sumatra pada masa itu.
Secara historis, Bukit Siguntang di Palembang dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Buddha pada masa Kedatuan Sriwijaya.
Baca Juga: Penemuan Surya Majapahit Raksasa di Mojokerto Ungkap Misteri Bangunan Besar Era Kerajaan Majapahit
Karena itu, muncul dugaan ketika jumlah biksu dan biksuni semakin bertambah, sebagian aktivitas pendidikan dan peribadatan dipindahkan ke kawasan Muaro Jambi.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan bukti arkeologis yang lebih kuat karena belum ditemukan prasasti yang secara tegas menjelaskan proses perpindahan tersebut.
Menjadi Saksi Dua Kerajaan Besar
Baca Juga: Menyusuri Jejak Perantau Hadramaut Yaman yang Membangun Kerajaan Kubu di Kalbar
Banyak peneliti memperkirakan Kompleks Percandian Muaro Jambi telah menjalankan berbagai fungsi sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi.
Kawasan ini diduga telah berdiri pada masa Kerajaan Melayu, kemudian tetap dimanfaatkan ketika wilayah tersebut berada di bawah pengaruh Sriwijaya, dan terus digunakan setelah Kerajaan Melayu kembali berkuasa.
Dengan demikian, Muaro Jambi diperkirakan menjadi saksi perjalanan dua kekuatan besar di Sumatra yang silih berganti menguasai kawasan tersebut.
Baca Juga: Inilah Kisah Menarik Gajah Mada dan Sumpah Palapa yang Melegenda
Menghadapi Ancaman Pelestarian
Di balik nilai sejarahnya yang tinggi, Kompleks Percandian Muaro Jambi saat ini menghadapi berbagai tantangan pelestarian.
Dalam tayangan YouTube Shorts @HelenShuuu, disebutkan kawasan cagar budaya nasional tersebut berhadapan dengan ancaman dari aktivitas industri batu bara yang berada di sekitarnya.
Baca Juga: Belajar dari Majapahit: Cara Kerajaan Menjaga Alam, Berlandaskan Filosofi Leluhur
Kondisi itu menjadi perhatian karena keberadaan situs bersejarah memerlukan perlindungan agar tidak mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia maupun perubahan lingkungan.
Pelestarian Kompleks Percandian Muaro Jambi menjadi tanggung jawab bersama. Sebagai salah satu warisan budaya terpenting di Indonesia, kawasan ini bukan hanya menyimpan jejak kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan sejarah yang sangat berharga bagi generasi mendatang. Dengan menjaga kelestariannya, masyarakat turut memastikan bahwa kisah panjang peradaban Nusantara tidak hilang ditelan zaman.
Editor : Silvina