Ternyata Ada Tradisi Pernikahan Tionghoa yang Sarat Pantangan hingga Mobil Pengantin Tak Boleh Mundur

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 14 Juli 2026 | 13:14 WIB
Ilustrasi pengantin Tionghoa yang masih menerapkan pantangan sebelum menempuh hidup baru
Ilustrasi pengantin Tionghoa yang masih menerapkan pantangan sebelum menempuh hidup baru

 

PONTIANAK POST – Tradisi pernikahan Tionghoa dikenal memiliki beragam aturan dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian masyarakat Tionghoa masih memegang kepercayaan tersebut sebagai simbol harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis, penuh keberuntungan, dan dikaruniai keturunan.

Meski demikian, tidak semua keluarga Tionghoa menerapkannya. Seiring perkembangan zaman, sebagian memilih tetap menjalankan tradisi, sementara yang lain menyesuaikannya dengan kondisi dan keyakinan masing-masing.

nformasi mengenai sejumlah pantangan dalam tradisi pernikahan Tionghoa ini dirangkum dari penjelasan kreator konten Marcelia Dapurnini yang diunggah melalui akun TikTok miliknya.

Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado

Pantangan Sebelum Hari Pernikahan

Salah satu pantangan yang masih dikenal adalah calon pengantin tidak dianjurkan menghadiri pesta pernikahan orang lain selama satu bulan sebelum hingga satu bulan setelah hari pernikahannya.

Selain itu, sekitar tiga bulan menjelang pernikahan, calon pengantin juga dipercaya sebaiknya tidak menghadiri acara duka atau melayat. Dalam beberapa keluarga, apabila terjadi musibah meninggalnya orang tua menjelang hari pernikahan, prosesi pernikahan dapat ditunda selama sekitar 100 hari sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang berduka.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Posisi Berdiri di Pelaminan Memiliki Makna

Dalam tradisi tertentu, posisi mempelai saat berada di pelaminan juga memiliki filosofi.

Mempelai perempuan berdiri di sebelah kanan mempelai pria, sedangkan orang tua kedua mempelai berdiri saling berdampingan. Ibu biasanya berada di sisi dalam, sementara ayah di sisi luar. Posisi tersebut dipercaya melambangkan bahwa mempelai pria akan melindungi istrinya dalam kehidupan rumah tangga.

Baca Juga: Melihat Jejak Peradaban Hakka di Hang Mui Singkawang yang Masih Bertahan Hingga Kini

Pantangan Mencoba Gaun Pengantin

Ada pula kepercayaan bahwa perempuan yang belum memiliki pasangan sebaiknya tidak mencoba gaun pengantin hanya untuk bersenang-senang. Misalnya saat menemani teman melakukan sesi fitting.

Dalam kepercayaan tersebut, tindakan itu diyakini dapat membuat jodoh menjadi lebih sulit datang. Namun, hal ini merupakan bagian dari tradisi yang tidak selalu diyakini oleh semua orang.

Baca Juga: Klenteng Tua di Hang Mui Singkawang Konon Bermula dari Sebongkah Batu

Ranjang Pengantin dan Harapan Memiliki Anak

Tradisi lain yang cukup dikenal adalah penggunaan sprei dan bantal berwarna merah di ranjang pengantin. Warna merah dipercaya melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan kemakmuran.

Di beberapa keluarga, sebelum ditempati pasangan pengantin, seorang anak kecil diminta berguling-guling di atas ranjang sebagai simbol doa agar pasangan tersebut segera memperoleh keturunan.

Baca Juga: Jarang Terekspos, Begini Penampakan Isi Rumah Hakka di Kubu Raya yang Sangat Megah

Bridesmaid Juga Memiliki Pantangan

Dalam kepercayaan tradisional, seseorang yang terlalu sering menjadi bridesmaid atau pendamping pengantin, misalnya lebih dari tiga kali, dipercaya akan mengalami kesulitan mendapatkan jodoh.

Meski begitu, kepercayaan ini lebih bersifat simbolis dan tidak memiliki dasar ilmiah.

Baca Juga: Belum Diresmikan, Rumah Hakka Kubu Raya Sudah Dikunjungi Tamu dari Luar Negeri, Bahasa Khek Jadi Penghubung Warga Dunia

Mobil Pengantin Tidak Boleh Mundur

Pantangan lainnya adalah mobil pengantin diupayakan tidak berjalan mundur ketika berangkat menuju lokasi pernikahan.

Hal tersebut dipercaya sebagai simbol agar perjalanan rumah tangga selalu maju, lancar, dan dipenuhi keberuntungan. Karena itu, jika kendaraan melewati tujuan, sebagian orang lebih memilih memutar jalan dibanding harus mundur.

Baca Juga: Cara Menuju Rumah Hakka di Kubu Raya, Simak Rute dan Lokasi Lengkapnya

Tradisi yang Kini Disesuaikan dengan Zaman

Seiring berkembangnya waktu, tidak semua keluarga Tionghoa masih menjalankan seluruh pantangan tersebut. Banyak yang tetap mempertahankannya sebagai bagian dari warisan budaya, sementara yang lain memilih hanya mengambil nilai-nilai positifnya.

Pada akhirnya, keputusan untuk menjalankan atau tidak menjalankan tradisi tersebut kembali kepada masing-masing keluarga sesuai keyakinan dan kesepakatan bersama.

Editor : Silvina
pantangan unik pantangan pernikahan tionghoa tradisi yang masih dijaga