Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

BRIN Uji Potensi Kratom Kalimantan sebagai Kandidat Obat Diabetes

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 16 Juli 2026 | 00:13 WIB
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mendorong hilirisasi kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan baru dengan potensi nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah per hektare per tahun.
ILUSTRASI KRATOM — Petani memetik daun kratom di kawasan perkebunan Kalimantan. Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mendorong hilirisasi kratom atau kedemba sebagai komoditas ekspor unggulan baru dengan potensi nilai ekonomi mencapai miliaran rupiah per hektare per tahun.

 

PONTIANAK POST – Daun kratom yang selama ini dikenal sebagai tanaman tradisional masyarakat Kalimantan kini memasuki tahap penelitian ilmiah. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji potensi kratom sebagai kandidat obat diabetes melalui penelitian in vitro dan in vivo untuk mengetahui aktivitas farmakologinya.

Penelitian tersebut dilakukan Pusat Riset Vaksin dan Obat, Organisasi Riset Kesehatan BRIN pada tahun 2024. Peneliti BRIN menyebut, kajian terhadap kratom masih berada dalam tahap pengujian sehingga belum dapat disebut sebagai obat diabetes yang siap digunakan masyarakat.

Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN saat itu, Masteria Yunovilsa Putra, mengatakan penelitian dilakukan setelah adanya temuan empiris dari sejumlah masyarakat di Kalimantan yang mengonsumsi kratom dan melaporkan perubahan kadar gula darah.

"Saat ini sedang dilakukan proses pengujian kratom untuk obat diabetes dengan uji in vivo dan in vitro. Secara empiris pun didapat data dari beberapa teman di Kalimantan yang mempunyai riwayat diabetes dan mengonsumsi kratom, ternyata level glukosanya menjadi rendah dan kondisinya menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum mengonsumsi kratom," kata Masteria dalam BRIN Insight Every Friday (BRIEF) edisi 133 bertema Kratom: Traditional Uses vs Modern Applications pada September 2024.

Dari Tradisi Kalimantan Menuju Laboratorium Riset

Kratom atau Mitragyna speciosa merupakan tanaman yang banyak ditemukan di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia, habitat kratom terutama berada di Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat.

Masyarakat lokal mengenal kratom dengan berbagai nama, seperti purik dan ketum di Kalimantan Barat serta kedamba atau kedemba di Kalimantan Timur. Tanaman ini masih digunakan secara tradisional dengan cara dikonsumsi langsung, dikeringkan, atau diseduh seperti teh.

Menurut Masteria, penggunaan tradisional kratom selama ini dikaitkan dengan sejumlah manfaat, seperti membantu mengurangi nyeri, meningkatkan energi, serta menjaga suasana hati.

"Kratom dipercaya dapat mengobati infeksi usus, nyeri otot, batuk, diare, serta dapat meningkatkan energi dan suasana hati atau mood booster," ujarnya.

Namun, ia menegaskan potensi tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian ilmiah agar dapat diketahui efektivitas dan tingkat keamanannya.

Kandungan Alkaloid Jadi Fokus Penelitian

BRIN meneliti kandungan aktif dalam kratom, terutama kelompok senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas farmakologis.

Masteria menjelaskan terdapat sekitar 40 jenis senyawa alkaloid dalam daun kratom. Lima senyawa utama yang banyak diteliti adalah mitragynine, paynantheine, speciogynine, 7-hydroxymitragynine, dan speciocilatine.

"Dua senyawa yang paling banyak diteliti sifat-sifat analgesik serta adiksinya adalah mitragynine dan 7-hydroxymitragynine," katanya.

Selain potensi untuk diabetes, penelitian BRIN juga mengkaji aktivitas lain dari ekstrak kratom, seperti antioksidan, antiinflamasi, analgesik, hingga kemungkinan penggunaannya sebagai pendukung terapi kanker.

Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kratom memiliki aktivitas antioksidan yang berpotensi melindungi sel dari radikal bebas seperti spesies oksigen reaktif (ROS) dan oksida nitrat.

Keamanan dan Potensi Kecanduan Masih Dikaji

Selain manfaatnya, aspek keamanan kratom juga menjadi perhatian peneliti. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih melakukan pemantauan dan kajian mengenai sifat ketergantungan dari tanaman tersebut.

Pada 2021, WHO Expert Committee on Drug Dependence (ECDD) melakukan kajian awal terhadap dampak kesehatan kratom. Hasil kajian saat itu menyebutkan belum terdapat cukup bukti untuk melanjutkan ke tahap critical review, namun pengawasan tetap dilakukan.

Masteria mengatakan BRIN juga melakukan penelitian terkait efek putus obat (withdrawal effect) dan tingkat toksisitas kratom.

"Riset kratom yang telah dilakukan di Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN hingga saat ini meliputi standardisasi ekstrak alkaloid, studi in vitro, aktivitas antioksidan dalam sel, aktivitas antiinflamasi, serta studi in vivo yang meliputi aktivitas analgesik, putus obat, dan tes toksisitas akut oral," jelasnya.

Harapan Masyarakat dan Tantangan Pembuktian Ilmiah

Bagi masyarakat Kalimantan yang telah lama mengenal kratom sebagai tanaman tradisional, penelitian BRIN membuka peluang baru terhadap pemanfaatan sumber daya lokal.

Namun, perjalanan kratom menuju kandidat obat diabetes masih membutuhkan proses panjang. Temuan awal dari pengalaman masyarakat harus dibuktikan melalui penelitian ilmiah yang memenuhi standar keamanan dan efektivitas obat.

Riset tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kekayaan hayati Indonesia agar memiliki nilai tambah, sekaligus memastikan pemanfaatannya tetap berbasis bukti ilmiah.

Bagi masyarakat Kalimantan yang telah lama mengenal kratom sebagai tanaman tradisional, penelitian BRIN membuka peluang baru terhadap pemanfaatan sumber daya lokal. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Kratom Kalimantan Barat penelitian BRIN kratom mitragynine kratom terapi diabetes alami tanaman obat tradisional