PONTIANAK POST – Penantian panjang masyarakat Kalimantan Barat terhadap kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) akhirnya terwujud pada pertengahan Januari 1950. Setelah melalui berbagai dinamika politik, demonstrasi rakyat, hingga perjuangan tokoh-tokoh daerah, sekitar 200 prajurit TNI akhirnya tiba di Pontianak dan menandai babak baru sejarah keamanan di Kalimantan Barat.
Melalui rangkaian kajian sejarah yang ditulis Syafarudin Daeng Usman, peminat kajian sejarah, tergambar kedatangan pasukan TNI pada Januari 1950 menjadi puncak perjuangan masyarakat Kalimantan Barat dalam menghadirkan tentara nasional di daerahnya.
Kedatangan Mohammad Hatta Disambut Aspirasi Rakyat
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-1) : Tarik Ulur Politik Mengawali Jalan Panjang Kehadiran TNI
Pada 12 Januari 1950, Perdana Menteri Mohammad Hatta beserta rombongan tiba di Pontianak sesuai jadwal yang telah direncanakan.
Penyambutan dipimpin oleh Wali Kota Pontianak ADS Hidayat bersama sejumlah tokoh daerah, di antaranya JC Oevaang Oeray, dr. LF Luhulima, MK Indra Mahyudin, Ng Hong Tang, Vermeer, dan RM Soekotjo Katim. Hadir pula anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Indonesia, Critchley, yang telah lebih dahulu tiba bersama Sultan Hamid II.
Di tengah penyambutan tersebut, M. Nazir Effendy secara tiba-tiba meminta kesempatan berbicara di hadapan Perdana Menteri.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-2): Demonstrasi Rakyat Menggema Demi Keamanan Daerah
Hatta Minta Rakyat Bersabar Menanti Perubahan
Dalam kesempatan itu, M. Nazir Effendy menyampaikan aspirasi agar Dewan Daerah Istimewa Kalimantan Barat dibubarkan karena dianggap belum representatif dan belum demokratis. Ia juga mendesak agar pemerintah segera menyelenggarakan pemilihan umum.
Menanggapi hal itu, Mohammad Hatta tetap tenang. Ia menjelaskan bahwa Indonesia baru saja memperoleh kemerdekaan sehingga masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan secara bertahap.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya TNI di Kalbar (Bag-3): Keberangkatan Mayor Suharsono Memicu Langkah Baru Perjuangan
Menurut Hatta, pembenahan sistem pemerintahan, termasuk penyelenggaraan pemilihan umum, memerlukan waktu dan tidak dapat dilakukan sekaligus.
Amanat Pemerintah Disampaikan kepada Masyarakat
Pada sore harinya digelar rapat akbar di Lapangan Kebun Sayur. Dalam kegiatan tersebut, Menteri Dalam Negeri Ide Anak Agung Gde Agung menyampaikan amanat pemerintah atas nama Perdana Menteri Mohammad Hatta kepada masyarakat Kalimantan Barat.
Baca Juga: Sejarah Monumen Ali Anyang di Kubu Raya dan Alasan Dibangun di Pertigaan Trans Kalimantan
Keesokan harinya, 14 Januari 1950, Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Sultan Hamid II juga berangkat bersama rombongan untuk melanjutkan tugasnya sebagai Menteri Negara di Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS).
Panitia Penyambutan TNI Diaktifkan Kembali
Sementara itu, Panitia Pusat Penyambutan TNI yang sebelumnya telah dibubarkan kembali diaktifkan dengan melakukan perubahan susunan kepengurusan.
Baca Juga: Sejarah Kabupaten Kubu Raya, Dari Kerajaan Kubu hingga Menjadi Kabupaten Termuda di Kalbar
Cabang-cabang panitia di berbagai daerah juga kembali bergerak setelah memperoleh kabar bahwa pasukan TNI akan segera tiba di Pontianak.
Pada malam 15 Januari 1950, panitia menggelar rapat gabungan guna mempersiapkan penyambutan kedatangan pasukan yang selama ini dinantikan masyarakat.
Kedatangan 200 Prajurit Disambut Antusias Warga
Baca Juga: Ketua DPD RI Pernah Tinjau Benteng Kota Batu Mempawah, Bukti Pentingnya Warisan Sejarah Kerajaan
Kabar tersebut terbukti benar. Pada 16 Januari 1950, kapal KPM Kaimana merapat di dermaga Pontianak dengan membawa sekitar 200 prajurit TNI yang dipimpin Mayor Firmansyah.
Kedatangan mereka disambut meriah oleh masyarakat. Ribuan warga memenuhi kawasan pelabuhan hingga sepanjang jalan menuju lokasi penampungan pasukan.
Sorak-sorai dan sambutan hangat masyarakat menjadi bukti besarnya harapan rakyat terhadap hadirnya TNI sebagai penjaga keamanan di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional
Mayor Firmansyah Tegaskan Keamanan di Tangan TNI
Setelah pasukan menempati markas, Mayor Firmansyah selaku Komandan Komando Subteritorium Militer I Kalimantan Barat mengeluarkan Pengumuman Nomor 1 tertanggal 18 Januari 1950.
Dalam pengumuman tersebut ditegaskan bahwa tanggung jawab keamanan di Kalimantan Barat kini sepenuhnya berada di tangan TNI.
Baca Juga: Pukat Tarik Manual Padang Tikar, Tradisi Leluhur yang Masih Bertahan di Tengah Modernisasi Nelayan
Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan KL/KNIL di Pontianak dan Ketapang tidak perlu dipandang sebagai upaya membangun kekuatan baru karena personelnya sedang menjalani proses pemulangan ataupun peleburan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).
Mayor Firmansyah mengajak seluruh masyarakat menghindari prasangka serta bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan.
Gerilyawan dan Lasykar Kembali Diminta Mendaftar
Melalui Pengumuman Nomor 2 tanggal 19 Januari 1950, Komando TNI kembali mengimbau seluruh pasukan gerilya dan lasykar agar segera mendaftarkan diri beserta persenjataan yang dimiliki.
Langkah tersebut menjadi bagian dari proses penataan kekuatan pertahanan nasional di Kalimantan Barat.
Memperkenalkan TNI kepada Masyarakat
Baca Juga: Mengungkap Luka Sejarah Terbesar Kalimantan Barat Di Balik Tragedi Mandor 1944
Pada 22 Januari 1950, Panitia Pusat Penyambutan TNI melalui Seksi Penerangan menggelar rapat akbar di Lapangan Kebun Sayur.
Dalam kesempatan itu, JC Oevaang Oeray, perwakilan Badan Pemerintahan, serta Kapten Saubari dari TNI menyampaikan penjelasan mengenai tugas TNI dan pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara tentara dengan masyarakat.
Upaya mempererat hubungan tersebut terus dilanjutkan melalui pertemuan di Gedung PBI pada 31 Januari 1950 yang dihadiri masyarakat Belanda, tokoh organisasi, dan para pemuka masyarakat.
Baca Juga: Sejarah Kabupaten Kubu Raya, Dari Kerajaan Kubu hingga Menjadi Kabupaten Termuda di Kalbar
Dalam forum itu, Kapten Saubari mengajak seluruh elemen masyarakat membangun saling pengertian, memperkuat persatuan, serta meninggalkan berbagai perbedaan yang pernah muncul pada masa sebelumnya.
Penutup
Kedatangan sekitar 200 prajurit TNI pada 16 Januari 1950 menjadi puncak dari perjuangan panjang berbagai elemen masyarakat Kalimantan Barat. Peran GAPI, Komite Nasional, tokoh-tokoh daerah, hingga dukungan rakyat melalui berbagai aksi politik menjadi bagian penting dalam proses lahirnya TNI di Bumi Khatulistiwa. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak bersejarah dalam pembentukan sistem pertahanan dan keamanan di Kalimantan Barat.
Editor : Silvina