Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 13:22 WIB
Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang yang berawal dari pondok sederhana dan tempat singgah penambang emas kelompok Hakka (DOK WIKIPEDIA)
Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang yang berawal dari pondok sederhana dan tempat singgah penambang emas kelompok Hakka (DOK WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST – Berdiri sejak 1878, Wihara Tri Dharma Bumi Raya menjadi salah satu bangunan bersejarah yang tak terpisahkan dari perjalanan Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Jauh sebelum Singkawang berkembang menjadi kota yang ramai, wihara ini telah menjadi tempat ibadah sekaligus persinggahan bagi para pendatang, khususnya penambang emas asal Tiongkok yang datang melalui jalur Monterado.

Sebagai salah satu tempat ibadah tertua umat Tri Dharma di Kalimantan Barat, Wihara Tri Dharma Bumi Raya bukan hanya menyimpan nilai religius, tetapi juga merekam perjalanan sejarah terbentuknya masyarakat multikultural di Singkawang.

Informasi mengenai sejarah wihara ini dihimpun dari Indonesia Kaya serta sejumlah kajian ilmiah yang membahas perkembangan Kota Singkawang.

Baca Juga: Mengintip Klenteng Surga Neraka di Singkawang, Destinasi Ikonik dengan Arsitektur Memukau dan Sarat Filosofi

Berawal dari Desa Persinggahan Penambang Emas

Jauh sebelum dikenal sebagai "Kota Seribu Kelenteng", Singkawang hanyalah sebuah desa kecil yang berada di bawah kekuasaan Kesultanan Sambas. Letaknya yang strategis di pesisir menjadikan kawasan ini sebagai tempat singgah bagi para pedagang dan penambang emas yang hendak menuju Monterado, kawasan pertambangan emas terbesar di Kalimantan Barat pada abad ke-18 hingga ke-19.

Dalam jurnal "Montrado 1818–1858, Dinamika Kota Tambang Emas" karya Any Rahmayani dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak disebutkan Montrado merupakan salah satu kota tambang emas terbesar di Borneo Barat pada masa kolonial.

Baca Juga: Banyak Tokoh Besar Berasal dari Hakka, Ada Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie hingga Pendiri Republik Tiongkok

Sebagian besar penambang berasal dari Tiongkok, terutama dari kelompok etnis Hakka. Mereka membentuk kongsi-kongsi pertambangan yang kemudian mendorong pertumbuhan kawasan Singkawang sebagai kota penunjang aktivitas pertambangan di Monterado.

Sementara itu, sejarawan Karel Juniardi dan Emusti Rivasintha Marjito dalam Jurnal Handep menjelaskan para penambang biasanya beristirahat di Singkawang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Monterado. Begitu pula ketika kembali dari kawasan tambang, mereka menjadikan Singkawang sebagai tempat beristirahat sebelum pulang.

Keberadaan para pendatang tersebut lambat laun melahirkan permukiman baru. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat Melayu dan Dayak yang lebih dahulu mendiami wilayah tersebut sehingga membentuk kehidupan masyarakat yang majemuk.

Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara

Bermula dari Pondok Sederhana

Di tengah berkembangnya permukiman itu, kebutuhan akan tempat ibadah pun mulai dirasakan.

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa saat itu, kawasan hutan dipercaya memiliki roh penjaga yang melindungi wilayah tersebut. Karena itulah dibangun sebuah tempat pemujaan kepada Dewa Bumi Raya atau Tua Peh Kong, yang dipercaya sebagai pelindung kawasan dan masyarakat.

Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok

Berdasarkan catatan yang dikutip Indonesia Kaya, orang yang ahli menjalankan ritual keagamaan dari Tiongkok bersama seorang tokoh bernama Lie Shie dipercaya membawa patung Dewa Bumi Raya dari daratan Tiongkok untuk kemudian ditempatkan di Singkawang.

Pada awal berdirinya sekitar tahun 1878, bangunan tersebut masih berupa pondok sederhana. Selain menjadi tempat beribadah, pondok itu juga dimanfaatkan sebagai tempat singgah bagi para pendatang yang baru tiba maupun hendak melanjutkan perjalanan menuju kawasan pertambangan emas.

Seiring bertambahnya jumlah masyarakat Tionghoa yang menetap di Singkawang, fungsi tempat ibadah ini pun semakin penting sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.

Baca Juga: Mengapa Orang Hakka Disebut Keluarga Tamu? Ini Asal Usul dan Kisah Perjalanannya hingga Mendunia

Menjadi Wihara Permanen

Memasuki sekitar tahun 1920, bangunan pondok sederhana itu kemudian dibongkar dan digantikan dengan bangunan wihara yang lebih permanen.

Bangunan baru tersebut menjadi simbol berkembangnya komunitas Tionghoa di Singkawang yang saat itu tidak lagi hanya bergantung pada aktivitas pertambangan emas. Banyak di antara mereka mulai beralih profesi sebagai petani dan pedagang, tetapi tetap mempertahankan tradisi serta budaya leluhur melalui keberadaan kelenteng dan wihara.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Wihara Tri Dharma Bumi Raya pun berkembang menjadi salah satu pusat peribadatan umat Tri Dharma yang memadukan ajaran Buddha, Tao, dan Konghucu. Nilai toleransi yang tinggi membuat tempat ibadah ini dapat digunakan oleh umat dari ketiga ajaran tersebut secara berdampingan.

Menurut M. Ikhsan Tanggok dalam buku Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang, sebagian besar masyarakat Hakka di Singkawang menganut agama Buddha. Namun, dalam kehidupan sehari-hari mereka juga mengamalkan nilai-nilai Konghucu dan Tao sebagai bagian dari tradisi leluhur.

Keberadaan Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang terletak di Jalan Sejahatera itu hingga kini menjadi bukti bagaimana sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di Singkawang tumbuh berdampingan selama lebih dari satu abad. Dari sebuah pondok sederhana yang melayani para penambang emas, wihara ini kemudian berkembang menjadi salah satu ikon religi dan budaya yang memperkaya identitas Kota Singkawang.

 

Editor : Silvina
kelompok hakka sejarah hakka di kalbar penambang emas pertama pertambangan emas monterardo wihara tertua di singkawang