PONTIANAK POST – Di balik kemegahannya sebagai salah satu ikon Kota Singkawang, Wihara Tri Dharma Bumi Raya ternyata pernah mengalami masa paling kelam dalam sejarahnya. Tempat ibadah masyarakat Tionghoa tertua di Singkawang yang telah berdiri sejak 1878 itu pernah ludes dilalap api dalam kebakaran besar yang melanda Singkawang pada dekade 1930-an.
Meski sempat rata dengan tanah, semangat masyarakat untuk membangun kembali wihara tidak pernah padam. Bahkan, di tengah berbagai keterbatasan dan larangan dari pemerintah kolonial Belanda, Wihara Tri Dharma Bumi Raya akhirnya kembali berdiri dan hingga kini tetap menjadi pusat peribadatan sekaligus simbol kerukunan masyarakat Singkawang.
Informasi mengenai sejarah Wihara Tri Dharma Bumi Raya ini dihimpun dari Indonesia Kaya, yang mengulas perjalanan panjang salah satu wihara tertua di Kalimantan Barat tersebut.
Ludes Dilalap Api
Sekitar tahun 1930-an, sebuah kebakaran besar melanda Kota Singkawang. Peristiwa itu menghanguskan banyak bangunan, termasuk Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang saat itu telah menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Tionghoa.
Bangunan wihara yang sebelumnya telah dibangun secara permanen tidak mampu diselamatkan dari kobaran api. Hampir seluruh bagian bangunan musnah sehingga aktivitas peribadatan pun terhenti.
Musibah tersebut menjadi pukulan besar bagi masyarakat, mengingat wihara itu bukan sekadar tempat sembahyang, melainkan juga menjadi pusat berkumpul dan menjaga tradisi yang telah diwariskan sejak para penambang emas asal Tiongkok menetap di Singkawang.
Sempat Dilarang Dibangun Kembali
Cobaan masyarakat tidak berhenti setelah kebakaran. Menurut catatan yang dikutip Indonesia Kaya, pemerintah kolonial Belanda sempat melarang pembangunan kembali Wihara Tri Dharma Bumi Raya.
Meski demikian, keinginan masyarakat untuk menghidupkan kembali tempat ibadah tersebut tidak pernah surut. Setelah melalui berbagai proses, wihara akhirnya berhasil dibangun kembali dan kembali difungsikan sebagai pusat peribadatan umat Tri Dharma di Singkawang.
Kebangkitan wihara tersebut menjadi simbol kuatnya semangat masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya dan kepercayaan yang telah mengakar selama puluhan tahun.
Patung Tua Peh Kong Selamat dari Kebakaran
Baca Juga: Mengapa Orang Hakka Disebut Keluarga Tamu? Ini Asal Usul dan Kisah Perjalanannya hingga Mendunia
Di tengah musnahnya bangunan wihara, terdapat satu kisah yang terus dikenang hingga sekarang. Patung Tua Peh Kong beserta istrinya dikabarkan berhasil diselamatkan dari peristiwa kebakaran tersebut.
Patung-patung itu kemudian ditempatkan kembali di bangunan wihara yang baru dan menjadi penghuni utama hingga saat ini.
Selain patung Tua Peh Kong, di sisi kiri dan kanan altar juga terdapat patung Dewa Kok Sing Bong dan On Chi Siu Bong. Sementara di bagian tengah berdiri patung Buddha Gautama, yang mencerminkan perpaduan ajaran Buddha, Tao, dan Konghucu dalam tradisi Tri Dharma.
Baca Juga: Menyusuri Rumah Hakka Terbesar di Kalbar, Bangunan Unik yang Disebut Hanya Ada Dua di Asia Tenggara
Memiliki Ciri Khas yang Tidak Dimiliki Wihara Lain
Wihara Tri Dharma Bumi Raya juga dikenal memiliki keunikan yang membedakannya dari banyak kelenteng atau wihara lainnya.
Menurut pendiri Yayasan Wihara Tri Dharma Bumi Raya, patung Tua Peh Kong di wihara ini menggenggam Ru Yi di tangan kanannya. Dalam tradisi Tionghoa, Ru Yi merupakan simbol kewibawaan, kekuasaan, keberuntungan, serta harapan agar segala sesuatu berjalan sesuai keinginan.
Baca Juga: Rumah Hakka Kubu Raya Terinspirasi Warisan Dunia UNESCO, Arsiteknya Berkali-kali Belajar ke Tiongkok
Keunikan ini berbeda dengan patung Tua Peh Kong di banyak wihara lain yang umumnya membawa tongkat dengan botol arak sebagai atributnya.
Keberadaan Ru Yi menjadi salah satu identitas khas Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Menjadi Simbol Kerukunan di Kota Singkawang
Hingga kini, Wihara Tri Dharma Bumi Raya tetap menjadi salah satu ikon religi dan budaya Kota Singkawang. Letaknya yang berada di Jalan Kelurahan Melayu, Kecamatan Singkawang Barat, membuatnya mudah dijangkau oleh masyarakat maupun wisatawan.
Selain menjadi destinasi wisata sejarah, wihara ini juga mencerminkan kehidupan masyarakat Singkawang yang dikenal hidup dalam keberagaman.
Dalam bukunya Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang, M. Ikhsan Tanggok menjelaskan sebagian besar masyarakat Hakka di Singkawang menganut agama Buddha. Namun, dalam kehidupan sehari-hari mereka juga mempraktikkan nilai-nilai Konghucu dan Tao sebagai bagian dari tradisi leluhur.
Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia
Karena itu, sebagian besar kelenteng di Singkawang, termasuk Wihara Tri Dharma Bumi Raya, bercorak Tri Dharma sehingga dapat digunakan bersama oleh umat Buddha, Tao, dan Konghucu. Tradisi tersebut menjadi salah satu cerminan kuatnya toleransi yang telah tumbuh di Kota Singkawang selama lebih dari satu abad.
Dengan sejarah panjang yang pernah diwarnai kebakaran, larangan pembangunan kembali, hingga bangkit menjadi salah satu ikon kota, Wihara Tri Dharma Bumi Raya kini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan sejarah, budaya, dan kerukunan antarpemeluk agama di Singkawang.
Editor : Silvina