Perjalanan Berat Leluhur Suku Hakka ke Kalbar, Berjalan Kaki Berhari-hari dan Mengarungi Laut Demi Harapan Baru

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:30 WIB
Tjhai Chui Mie salah satu tokoh Hakka yang bermukim di Kalbar dan saat ini menjabat sebagai wali kota Singkawang
Tjhai Chui Mie salah satu tokoh Hakka bermukim di Kalbar ketika bersama tokoh nasional saat ini menjabat sebagai wali kota Singkawang. (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Di balik besarnya komunitas Hakka yang kini tersebar di berbagai daerah di Kalimantan Barat, tersimpan kisah panjang penuh perjuangan yang dimulai ratusan tahun silam. Jauh sebelum menetap di Nusantara, para leluhur suku Hakka harus meninggalkan kampung halaman di pegunungan Tiongkok demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan penduduk, melainkan sebuah migrasi besar yang dipenuhi pengorbanan, keberanian, dan harapan. Kisah inilah yang hingga kini masih dikenang oleh keturunan Hakka, termasuk di Kalimantan Barat yang menjadi salah satu wilayah tujuan utama mereka.

Informasi mengenai perjalanan leluhur Hakka ini turut dibagikan melalui akun TikTok @chun.liu52, yang mengisahkan bagaimana para pendatang Hakka akhirnya menjadi bagian penting dalam sejarah dan perkembangan masyarakat Kalimantan Barat.

Berawal dari Pegunungan Meizhou di Guangdong

Baca Juga: Sejarah Wihara Tertua di Singkawang, Berawal dari Pondok Sederhana dan Tempat Singgah Penambang Emas Kelompok Hakka  

Pada sekitar abad ke-18, banyak masyarakat Hakka tinggal di kawasan pegunungan Meizhou, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Kehidupan di wilayah pegunungan yang terbatas membuat sebagian masyarakat memilih meninggalkan tanah kelahirannya untuk mencari kesempatan hidup yang lebih baik.

Keputusan itu tentu bukan perkara mudah. Mereka harus berpisah dengan keluarga, kampung halaman, serta makam para leluhur yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Hakka.

Namun, harapan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik membuat mereka memberanikan diri memulai perjalanan panjang menuju negeri seberang.

Baca Juga: Wihara Tertua di Singkawang Pernah Terbakar, Patung Tua Peh Kong Selamat, Sempat Dilarang Belanda Dibangun Kembali

Menuruni Gunung dengan Berjalan Kaki Berhari-hari

Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki dari kawasan pegunungan menuju Pelabuhan Songkou. Jalur yang harus ditempuh bukanlah jalan yang nyaman seperti sekarang.

Mereka melewati jalan setapak yang terjal, membawa bekal seadanya, serta menghadapi cuaca yang berubah-ubah. Perjalanan tersebut dapat berlangsung selama berhari-hari sebelum akhirnya tiba di pelabuhan.

Baca Juga: Sejarah Rumah Tertua Keluarga Tjhia di Singkawang, Dibangun Perantau yang Bangkit dari Kebangkrutan

Setiap langkah menjadi saksi perjuangan mereka. Di satu sisi ada rasa sedih karena meninggalkan tanah leluhur, namun di sisi lain tersimpan harapan besar untuk membangun kehidupan baru.

Tujuh Hari Tujuh Malam Menghadapi Lautan

Sesampainya di Pelabuhan Songkou, perjuangan ternyata belum berakhir. Para calon perantau harus menaiki kapal sederhana yang akan membawa mereka menuju Asia Tenggara.

Baca Juga: Mengenal Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Republik Pertama di Nusantara yang Berdiri 107 Tahun

Perjalanan laut berlangsung sekitar tujuh hari tujuh malam. Selama berada di tengah lautan, mereka harus menghadapi ombak besar, badai, dan cuaca yang tidak menentu.

Tidak sedikit kapal yang mengalami musibah di tengah perjalanan. Bahkan, ada kapal yang tenggelam akibat diterjang badai. Meski demikian, semangat untuk mengubah nasib membuat mereka tetap bertahan menghadapi berbagai risiko.

Kalimantan Barat Menjadi Tanah Harapan Baru

Baca Juga: Benarkah Pendiri Singapura Lee Kuan Yew Keturunan Republik Lanfang? Ini Penjelasannya

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, kapal-kapal tersebut akhirnya tiba di wilayah pesisir Kalimantan Barat, terutama di kawasan Kesultanan Sambas dan Kerajaan Mempawah.

Kedatangan para pendatang Hakka disambut dengan baik oleh masyarakat setempat maupun pihak kerajaan. Dari sinilah kehidupan baru mereka dimulai.

Sebagian membuka lahan pertanian, sementara yang lain memilih berdagang maupun bekerja di sektor pertambangan yang saat itu berkembang di Kalimantan Barat. Perlahan, mereka membangun permukiman dan membentuk komunitas yang semakin berkembang.

Baca Juga: Mengapa Orang Hakka Disebut Keluarga Tamu? Ini Asal Usul dan Kisah Perjalanannya hingga Mendunia

Berasimilasi dengan Budaya Lokal

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Hakka mulai berbaur dengan penduduk lokal. Mereka tidak hanya mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga beradaptasi dengan budaya masyarakat Kalimantan Barat.

Proses asimilasi tersebut melahirkan kehidupan sosial yang harmonis. Berbagai tradisi Hakka tetap diwariskan dari generasi ke generasi, sementara hubungan dengan masyarakat Melayu, Dayak, dan etnis lainnya terus berkembang.

Baca Juga: Asal Usul Nama Singkawang, Diyakini Berasal dari Bahasa Tionghoa yang Penuh Makna

Hingga kini, keturunan Hakka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberagaman budaya Kalimantan Barat. Mereka berkontribusi dalam bidang perdagangan, pendidikan, sosial, hingga pelestarian budaya.

Warisan Ketangguhan yang Terus Dikenang

Perjalanan panjang dari pegunungan Meizhou menuju Kalimantan Barat menjadi simbol ketangguhan dan semangat juang masyarakat Hakka. Pengorbanan para leluhur itu menjadi fondasi lahirnya komunitas Hakka yang kini berkembang di berbagai daerah, termasuk Singkawang, Sambas, Mempawah, Bengkayang, dan Pontianak.

Baca Juga: Banyak Tokoh Besar Berasal dari Hakka, Ada Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie hingga Pendiri Republik Tiongkok

Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa sejarah Kalimantan Barat dibangun oleh berbagai kelompok masyarakat yang datang dengan latar belakang berbeda, namun kemudian hidup berdampingan dan membentuk mozaik budaya yang kaya hingga sekarang.

 

Editor : Silvina
suku hakka asal usul hakka di kalbar perjalanan suku hakka ke kalbar kehidupan tionghoa kisah perjalanan