PONTIANAK POST — Jika Anda melihat peta dunia, Semenanjung Iberia di Eropa Barat Daya tampak seperti satu daratan yang utuh dan solid. Di atas kertas, Spanyol dan Portugal tampak seperti dua bersaudara kembar yang berbagi garis pantai, iklim Mediterania, hingga akar bahasa Latin yang serupa.
Namun, ketika Anda melangkah masuk ke kedua negara tersebut, perbedaan budaya, identitas nasional, karakter masyarakat, hingga sejarah perjalanan bangsa terasa sangat kontras. Banyak penonton awam dan pelancong sering bertanya: “Mengapa dua negara yang bertetangga sangat dekat dan berada di satu daratan ini bisa berkembang menjadi dua entitas yang sangat berbeda?”
Berdasarkan kajian literatur sejarah yang berhasil redaksi himpun, berikut adalah bedah sejarah lengkap di balik jalurnya masing-masing.
1. Geografi yang Membentuk Arah Pandang (Samudra vs Daratan)
Faktor paling mendasar yang memisahkan takdir kedua negara ini terletak pada kontur geografisnya.
Baca Juga: Apakah Hong Kong Termasuk Tiongkok atau Negara Independen? Ini Penjelasan Sejarah dan Hukumnya
Portugal menempati jalur pesisir barat Semenanjung Iberia yang terisolasi dari pedalaman daratan oleh benteng pegunungan dan dataran tinggi. Karena dipisahkan dari wilayah Eropa bagian dalam, pandangan hidup bangsa Portugal sejak awal tidak mengarah ke daratan Eropa, melainkan menghadap ke Samudra Atlantik. Hal ini membentuk identitas Portugal sebagai bangsa pelaut, pedagang bahari, dan penjelajah samudra yang ulung.
Sebaliknya, Spanyol merupakan wilayah daratan yang sangat luas dengan topografi yang beragam—mulai dari pegunungan terjal di utara hingga dataran kering di tengah (Meseta Central). Karakter geografis ini membuat Spanyol lebih berfokus pada penguasaan wilayah daratan, perebutan kekuasaan regional, dan dinamika politik daratan Eropa.
2. Jejak Reconquista dan Batas Negara Tertua di Eropa
Pada Abad Pertengahan, sebagian besar Semenanjung Iberia dikuasai oleh kekhalifahan Islam (Al-Andalus). Proses merebut kembali wilayah tersebut oleh kerajaan-kerajaan Kristen dikenal dengan istilah Reconquista.
Di sinilah titik krusial perpecahan keduanya terjadi. Portugal berhasil menyelesaikan perang Reconquista-nya jauh lebih cepat, yaitu pada pertengahan abad ke-13 (sekitar tahun 1249), ketika mereka berhasil mengamankan wilayah selatan (Algarve). Dengan batas wilayah yang sudah terkunci erat, Kerajaan Portugal resmi berdiri kokoh sebagai salah satu negara bangsa (nation-state) tertua di Eropa dengan perbatasan darat paling stabil hingga hari ini.
Baca Juga: Menyusuri Situs Sejarah di Hang Mui Singkawang, Jejak Awal Masyarakat Hakka di Kalimantan Barat
Sementara itu, Spanyol membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Perang Reconquista di Spanyol baru benar-benar berakhir pada tahun 1492 dengan jatuhnya Granada. Selain itu, Spanyol tidak dibentuk dari satu kerajaan tunggal, melainkan gabungan dari beberapa kerajaan Kristen yang berbeda—terutama lewat pernikahan politik antara Raja Fernando dari Aragon dan Ratu Isabel dari Kastila.
3. Sentralisasi Portugal vs Keanekaragaman Regional Spanyol
Perbedaan cara terbentuknya negara ini memicu perbedaan struktur politik internal yang sangat mencolok:
-
Portugal (Satu Bahasa, Satu Identitas): Karena berhasil menyatukan wilayahnya sejak dini di bawah satu mahkota, Portugal tumbuh menjadi negara unitaris yang sangat tersentralisasi. Seluruh warga Portugal berbicara dalam bahasa yang sama (Bahasa Portugis) dan memiliki identitas budaya yang relatif seragam dari utara hingga selatan.
-
Spanyol (Negara yang Terbagi-bagi): Spanyol dibangun di atas gabungan kerajaan-kerajaan yang sebelumnya memiliki hukum, budaya, dan bahasanya sendiri. Akibatnya, Spanyol hingga hari ini merupakan negara federatif de-fakto dengan identitas regional yang sangat kuat. Warga Katalonia, Basque, dan Galisia memiliki bahasa daerah serta aspirasi kemerdekaannya sendiri.
Baca Juga: Jerman Perluas Rekrut Tenaga Kerja Terampil ke Indonesia Akibat Banyak Generasi Baby Boomer Pensiun
4. Perang Kemerdekaan 1640: Detik-detik Portugal Menolak Ditelan Spanyol
Meskipun berbeda, Spanyol dan Portugal sebenarnya pernah bersatu di bawah satu mahkota Spanyol (House of Habsburg) pada periode tahun 1580 hingga 1640, yang dikenal sebagai Persatuan Iberia (Iberian Union).
Namun, persatuan ini tidak bertahan lama. Kebijakan pajak Spanyol yang mencekik, ditambah ketidakmampuan Spanyol melindungi koloni-koloni bahari Portugal dari serangan musuh (seperti Belanda dan Inggris), memicu kemarahan bangsawan Portugal.
Pada 1 Desember 1640, timbul pemberontakan besar di Lisboa yang menyulut Perang Restorasi Portugal (Portuguese Restoration War). Setelah pertempuran sengit selama hampir tiga dekade, Portugal berhasil merebut kembali kemerdekaannya secara penuh pada tahun 1668. Peristiwa trauma politik ini menancapkan rasa bangga nasional yang kuat bagi warga Portugal untuk tetap berdiri independen dan menolak menjadi "bagian dari Spanyol".
Baca Juga: Pelajaran Filsafat dari Kekalahan Jerman di Piala Dunia 2026
5. Karakter Budaya dan Bahasa yang Berbeda
Untuk penonton awam, bahasa Portugis dan Spanyol mungkin terdengar mirip karena sama-sama berakar dari Bahasa Latin Vulgar yang dibawa oleh Kekaisaran Romawi. Namun, secara fonetik dan tata bahasa, keduanya sangat berbeda. Bahasa Portugis memiliki lebih banyak bunyi vokal sengau (nasal sounds) dan fonetik yang lebih kompleks.
Bahkan dari segi temperamen sosial, masyarakat kedua negara memiliki stereotip budaya yang unik:
-
Spanyol: Dikenal dengan karakter yang lebih ekspresif, riuh, dan berorientasi pada kehidupan sosial luar ruangan (fiesta).
-
Portugal: Dikenal memiliki karakter masyarakat yang lebih tenang, santun, rendah hati, serta memiliki konsep budaya khas bernama Saudade—sebuah perasaan rindu yang mendalam dan melankolis terhadap masa lalu atau tanah air.
Meskipun berdampingan di Semenanjung Iberia, Spanyol dan Portugal adalah bukti nyata bagaimana geografi, kecepatan konsolidasi politik, dan sejarah perlawanan dapat membentuk dua bangsa yang sama sekali berbeda. Portugal melihat dunia melalui luasnya samudra, sementara Spanyol membangun kekuatannya melalui keberagaman daratan. (*)
Editor : Rafael B. Junior