PONTIANAK POST – Di balik kiprahnya sebagai Presiden Republik Indonesia selama lebih dari tiga dekade, Soeharto juga meninggalkan berbagai program sosial dan keagamaan. Hingga kini beragam program itu masih dikenang oleh sebagian masyarakat, termasuk di wilayah pedalaman Papua.
Salah satu kisah tersebut diceritakan oleh dai yang dikenal aktif berdakwah di pedalaman Papua, Ustaz Fadl'an Garamatan. Dalam sebuah video yang diunggah melalui kanal YouTube Shorts Sugeng Hambara, ia mengenang pertemuannya bersama para kepala suku dengan Presiden Soeharto yang kemudian berujung pada berbagai program bantuan bagi masyarakat adat.
Dialog yang Mengundang Senyum Soeharto
Baca Juga: Mengenang Soeharto di Hari Kelahirannya, Dari Kritik Sejarah hingga Gelar Pahlawan Nasional
Dalam kisah yang disampaikan Ustaz Fadl'an, salah seorang kepala suku sempat menyampaikan kritik kepada Presiden Soeharto.
Menurutnya, kepala suku itu mempertanyakan pembangunan yang dinilai lebih banyak berpusat di kota-kota besar.
"Bapak tidak pantas jadi presiden. Presiden macam apa hanya bangun Jakarta, hanya bangun Makassar," ujar kepala suku tersebut sebagaimana diceritakan kembali oleh Ustaz Fadl'an.
Ucapan itu disampaikan menggunakan bahasa daerah sehingga memerlukan penerjemah.
Namun, Ustaz Fadl'an mengaku tidak menerjemahkan kalimat tersebut secara harfiah. Ia memilih menyampaikan makna yang lebih santun kepada Presiden Soeharto.
"Saya tidak mungkin menerjemahkan seperti itu. Saya mengambil maknanya," ujar Ustaz Fadl'an.
Ia kemudian menyampaikan kepada Presiden Soeharto bahwa para kepala suku merasa bahagia dapat bertemu langsung dengan kepala negara dan menganggap Soeharto layak disebut sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
Mendengar penjelasan tersebut, Soeharto dikisahkan hanya tersenyum kecil.
Berujung Program Haji bagi Kepala Suku
Menurut Ustaz Fadl'an, setelah pertemuan itu Presiden Soeharto langsung menghubungi Menteri Agama.
Pada tahun yang sama, sejumlah kepala suku dan tokoh adat disebut mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.
Tidak hanya itu, Soeharto juga disebut menetapkan agar setiap tahun sekitar 75 orang diberangkatkan melalui program dakwah yang dijalankan Ustaz Fadl'an.
Baca Juga: Soeharto dan Gelar Pahlawan Nasional
Bantuan Masjid hingga Rumah Layak Huni
Dalam penuturannya, Ustaz Fadl'an juga menyebut Presiden Soeharto memberikan berbagai bantuan untuk masyarakat pedalaman Papua.
Bantuan tersebut antara lain berupa sekitar 1.000 karung pakaian, 600 karton sampo, 600 karton sabun, 600 karton pasta gigi beserta sikat gigi, serta pembangunan 28 masjid.
Baca Juga: Dukungan Ketua Fraksi Golkar Kubu Raya untuk Soeharto sebagai Pahlawan Nasional: Ini Alasannya
Selain itu, ia mengatakan pemerintah saat itu menjalankan program pembangunan 917 unit rumah layak huni melalui program ABRI Masuk Desa.
Dakwah Menggunakan Pesawat Hercules
Ustaz Fadl'an juga mengenang dukungan pemerintah terhadap kegiatan dakwah di daerah terpencil.
Ia menyebut Presiden Soeharto memberikan izin penggunaan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara untuk mendukung perjalanan dakwah dari Jakarta menuju wilayah-wilayah pedalaman Papua yang sulit dijangkau melalui jalur darat maupun laut.
Menurutnya, dukungan tersebut mempermudah akses pelayanan keagamaan kepada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.
Jejak yang Masih Dirasakan
Ustaz Fadl'an mengatakan berbagai program tersebut memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Ia mengisahkan, banyak anak-anak dari pedalaman Papua yang kemudian memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan, termasuk di sejumlah sekolah Muhammadiyah di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Solo.
Menurutnya, sebagian dari mereka kini telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari aparatur sipil negara, camat, sekretaris daerah, bupati, anggota TNI, hingga kepolisian.
Baca Juga: Papua Didorong Jadi Lumbung Pangan Timur, Kementan Gelontorkan Rp5 Triliun
Bagi Ustaz Fadl'an, jejak kebijakan yang dilakukan Presiden Soeharto pada masa itu masih dikenang oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari upaya pembangunan dan pelayanan keagamaan di wilayah pedalaman Papua.
Editor : Silvina