Fakta Menarik Tacin Mera Pote Madura, Tradisi Hidangan Bulan Safar yang Tetap Lestari di Kalimantan Barat

Silvina • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 15:03 WIB
Bubur Tacin Mera Pote yang kerap dijumpai di bulan Safar masih ada di Kalbar.
Bubur Tacin Mera Pote yang kerap dijumpai di bulan Safar masih ada di Kalbar.

 

PONTIANAK POST – Semangkuk tacin mera (bubur merah) dan tacin pote (bubur putih) bukan sekadar makanan tradisional bagi masyarakat Madura. Hidangan sederhana yang kerap ditemui di bulan Safar ini telah menjadi bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pelengkap berbagai tradisi adat dan keagamaan.

Di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Barat, tradisi menyajikan tacin merah pote ini ternyata tidak saja disajikan di bulan Safar. Bubur tacin ini juga disuguhkan pada acara selamatan, doa bersama, peringatan kelahiran bayi, syukuran kehamilan, hingga momentum tertentu dalam kalender Islam.

Kehadirannya menjadi simbol kuat yang menghubungkan nilai budaya dengan ajaran agama.

Baca Juga: Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Simak Hadis Nabi Meluruskan Mitos Turun Temurun Ini

Tokoh masyarakat Desa Bengkarek, Radewi, menjelaskan tradisi tacin merah pote sudah dikenal masyarakat Madura sejak lama dan terus diwariskan oleh para leluhur. Menurut dia, bubur khas Madura ini di Kalbar memang biasa ditemui di bulan Safar. Tapi sejatinya, bubur ini juga disajikan di berbagai acara.      

"Tradisi ini merupakan peninggalan nenek moyang yang hingga sekarang masih dijaga. Setiap penyajiannya selalu berkaitan dengan doa dan rasa syukur kepada Allah Subhanahuwata’ala," ujar Radewi kepada Pontianak Post. 

Berakar dari Akulturasi Budaya dan Islam

Baca Juga: Bulan Safar Tak Perlu Ditakuti, Umat Islam Diajak Memperkuat Tawakal kepada Allah

Menurut Radewi, berkembangnya Islam di Pulau Madura sekitar abad ke-15 hingga ke-16 turut memengaruhi berbagai tradisi masyarakat setempat. Namun, budaya lokal tidak dihilangkan, melainkan dipadukan dengan nilai-nilai keislaman sehingga melahirkan tradisi yang tetap lestari hingga sekarang.

Tacin merah pote kemudian menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan selamatan. Bubur tersebut disajikan setelah doa bersama sebagai simbol harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan, keselamatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Seiring perpindahan masyarakat Madura ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, tradisi tersebut ikut dibawa dan terus dipraktikkan. Tidak sedikit keluarga Madura di daerah perantauan yang masih mempertahankan penyajian tacin merah pote dalam berbagai acara keluarga maupun kegiatan keagamaan.

Baca Juga: 5 Bahan Sederhana ini Wajib Ada di Dapur! Siap Hidangan Lezat Setiap Hari

Menjadi identitas budaya masyarakat Madura

Radewi mengatakan, keberadaan tacin merah pote kini tidak hanya dipandang sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat Madura.

Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa warisan leluhur tidak boleh ditinggalkan meski masyarakat hidup di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Baca Juga: Mengenal Cai Ci, Perempuan Buddha Hakka yang Tak Menikah demi Menjaga Tradisi Leluhur

"Selama masih ada masyarakat yang menjaga dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka, tradisi ini akan tetap hidup sebagai bagian dari identitas orang Madura," katanya.

Meski kini berbagai makanan modern semakin mudah dijumpai, tacin merah pote tetap memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Madura. Kehadirannya bukan sekadar melengkapi acara selamatan, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, agama, dan budaya yang telah diwariskan selama ratusan tahun.


Editor : Silvina
tacin madura tacin mera pote bubur merah putih suku madura warisan budaya