PONTIANAK POST – Di balik semangkuk tacin mera (bubur merah) dan tacin pote (bubur putih), tersimpan filosofi kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Madura. Hidangan tradisional ini bukan sekadar pelengkap dalam acara selamatan, tetapi juga menjadi simbol nilai religius, moral, dan sosial yang masih dijaga hingga sekarang.
Tokoh masyarakat Desa Bengkarek, Radewi, mengatakan setiap warna pada tacin merah pote memiliki makna mendalam yang menjadi pedoman hidup masyarakat Madura.
Menurutnya, warna putih pada tacin pote melambangkan kesucian hati, niat yang bersih, kejujuran, dan ketulusan. Warna tersebut juga dimaknai sebagai simbol awal kehidupan manusia yang masih suci dan belum ternoda oleh berbagai kesalahan.
"Putih mengajarkan manusia untuk selalu menjaga hati yang bersih dan menjalani kehidupan dengan niat yang baik," ujar Radewi menjawab Pontianak Post.
Sementara itu, warna merah pada tacin mera melambangkan keberanian, semangat hidup, perjuangan, dan pengorbanan. Filosofi tersebut mengingatkan bahwa setiap manusia akan menghadapi berbagai ujian sehingga membutuhkan keberanian tanpa meninggalkan ajaran agama dan nilai moral.
Lambang Keseimbangan antara Dunia dan Akhirat
Baca Juga: Wagub Kalbar Ajak Masyarakat Perkuat Kerukunan Antarsuku di Haul Tokoh Madura
Radewi menjelaskan, tacin merah dan tacin putih hampir selalu disajikan secara berdampingan. Hal itu bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol keseimbangan dalam menjalani kehidupan.
Perpaduan warna putih dan merah menggambarkan bahwa manusia harus mampu menjaga kesucian hati sekaligus memiliki keberanian dalam bertindak. Kehidupan spiritual dan kehidupan sosial juga harus berjalan seimbang agar tercipta kehidupan yang harmonis.
"Maknanya bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang bagaimana manusia menjaga hubungan dengan Allah Subhanahuwata’ala, sesama manusia, dan lingkungan sekitarnya," jelasnya.
Baca Juga: Pekan Budaya Madura 2025 Sukses Digelar di Ketapang, Sekda Apresiasi Pelestarian Budaya
Nilai tersebut menjadi pesan yang terus diwariskan kepada anak-anak dan generasi muda melalui tradisi selamatan agar mereka tidak melupakan ajaran para leluhur.
Tradisi yang Mempererat Silaturahmi Masyarakat
Selain mengandung makna filosofis, tacin merah pote juga memiliki fungsi sosial yang sangat kuat. Dalam setiap pelaksanaan selamatan, keluarga, kerabat, tetangga, hingga tokoh masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama sebelum menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Baca Juga: Bupati Ketapang Resmi Membuka Pekan Budaya Madura 2025, Lestarikan Tradisi dan Persatuan
Momen tersebut menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat. Tradisi itu juga menjadi media pewarisan budaya karena generasi muda dapat memahami makna yang terkandung di balik setiap prosesi.
Menurut Radewi, kebersamaan yang tercipta dalam tradisi tersebut merupakan salah satu alasan mengapa tacin merah pote tetap bertahan hingga sekarang meski zaman terus berubah.
Generasi Muda Diharapkan Tidak Melupakan Warisan Leluhur
Baca Juga: Pemilihan Duta Lanceng Praben 2025 di Mempawah Dorong Pelestarian Budaya Madura
Di tengah derasnya arus modernisasi, Radewi mengakui tidak semua generasi muda memahami filosofi yang terkandung di balik tacin merah pote. Banyak yang mengenalnya hanya sebagai makanan tradisional tanpa mengetahui nilai kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur.
Karena itu, ia berharap tradisi tersebut terus diperkenalkan melalui kegiatan keluarga, pengajian, maupun acara adat agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
"Bukan hanya buburnya yang harus dilestarikan, tetapi juga makna yang terkandung di dalamnya. Di situlah identitas budaya, nilai religius, dan ajaran kehidupan masyarakat Madura tetap hidup dari generasi ke generasi," pungkas Radewi.
Editor : Silvina