Selain Lanfang, Monterado Juga Pernah Disebut Republik Kecil, Bahkan Menjadi Pusat Perlawanan Kongsi Terbesar Melawan Belanda

Silvina • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 16:59 WIB
Ilustrasi kawasan Monterado Kabupaten Bengkayang yang juga pernah disebut sebagai Republik Kecil
Ilustrasi kawasan Monterado Kabupaten Bengkayang yang juga pernah disebut sebagai Republik Kecil

 

PONTIANAK POST – Selama ini nama Republik Lanfang lebih sering disebut sebagai simbol kejayaan masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat. Namun, hasil penelitian sejarah menunjukkan pusat perlawanan paling sengit terhadap kolonial Belanda bukan berada di Lanfang, melainkan di Monterado, Kabupaten Bengkayang. Dari wilayah tambang emas inilah federasi Kongsi Heshun berulang kali mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan dan wilayahnya.

Informasi tersebut disampaikan dalam tayangan kanal YouTube Hakastory26 yang mengutip hasil penelitian sejarawan Prof. Yuan Bingling melalui bukunya Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo (1776–1884). Buku setebal sekitar 500 halaman itu mengulas secara rinci sejarah kongsi-kongsi Tionghoa di Kalimantan Barat pada masa kolonial.

Monterado Menjadi Jantung Perlawanan Kongsi

Baca Juga: Mengenal Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Republik Pertama di Nusantara yang Berdiri 107 Tahun

Menurut Prof. Yuan Bingling, sejarah kongsi di Kalimantan Barat pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dari Monterado.

Wilayah yang dahulu dikenal sebagai pusat tambang emas tersebut menjadi markas Federasi Heshun, gabungan dari 14 kongsi yang bersatu membangun sistem pemerintahan, pertahanan, dan ekonomi secara mandiri.

Berbeda dengan Kongsi Lanfang yang lebih memilih pendekatan diplomasi dan hubungan kooperatif dengan pemerintah kolonial Belanda, Federasi Heshun mengambil sikap yang jauh lebih keras.

Baca Juga: Benarkah Pendiri Singapura Lee Kuan Yew Keturunan Republik Lanfang? Ini Penjelasannya

Mereka memilih mempertahankan wilayah dan kebebasannya melalui perlawanan bersenjata sehingga berkali-kali terlibat perang dengan pasukan kolonial.

Belanda Menyebutnya Sebagai Republik Kecil

Keunikan Federasi Heshun membuat pemerintah kolonial Belanda menyebut kawasan Monterado sebagai "republik kecil".

Baca Juga: Menyusuri Jejak Republik Lanfang di Kalimantan Barat, Dari Taman hingga Klenteng Bersejarah

Sebutan itu bukan tanpa alasan. Federasi kongsi tersebut memiliki sistem pemerintahan yang tertata layaknya sebuah negara.

Mereka mempunyai mekanisme pemilihan ketua kongsi, badan perwakilan, sistem perpajakan, aturan hukum, hingga pasukan militer yang berdiri secara independen.

Struktur pemerintahan inilah yang membuat federasi kongsi mampu bertahan cukup lama meski terus menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial.

Baca Juga: Ibu Kota Republik Lanfang Diyakini Berada di Mandor, Ini Jejak Peradabannya yang Masih Tersisa

Tiga Kali Berperang Melawan Belanda

Dalam catatan sejarah, Federasi Heshun tercatat tiga kali menghadapi perang besar melawan Belanda.Perang pertama berlangsung pada 1822 hingga 1824.

Konflik kembali pecah dalam perang kedua pada 1850 hingga 1854, yang ditandai dengan pertempuran sengit di berbagai pos pertahanan kongsi di kawasan Singkawang dan Monterado.

Baca Juga: Mengapa Singkawang Memiliki Populasi Tionghoa Terbesar? Jejaknya Berawal dari Tambang Emas Monterado

Saat posisi mereka semakin terdesak, pasukan kongsi menerapkan strategi bumi hangus dengan membakar markas dan berbagai fasilitas penting agar tidak dapat dimanfaatkan oleh Belanda.

Setelah itu mereka mundur ke sejumlah wilayah, termasuk kawasan Hang Mui di Singkawang Timur, untuk menyusun kembali kekuatan.

Perang terakhir berlangsung pada 1884 hingga 1885. Konflik inilah yang mengakhiri eksistensi Federasi Heshun setelah pasukan Belanda berhasil menaklukkan seluruh wilayah kekuasaannya.

Baca Juga: Melihat Pengibaran Bendera Sepanjang 78 Meter di Serindu, Monterado

Berakhirnya Sebuah Republik Mandiri

Kekalahan dalam perang terakhir menjadi titik akhir perjalanan republik kongsi di Monterado. Wilayah yang sebelumnya dikelola secara mandiri kemudian dilebur ke dalam administrasi pemerintahan kolonial Belanda.

Meski demikian, menurut Prof. Yuan Bingling, perjuangan Federasi Heshun menunjukkan masyarakat kongsi di Kalimantan Barat pernah membangun pemerintahan yang mandiri sekaligus melakukan perlawanan panjang demi mempertahankan kebebasan mereka.

Baca Juga: Akses Puaje Monterado Mulus

Sayangnya, kisah besar tersebut hingga kini masih belum banyak dikenal masyarakat Indonesia.  Bahkan sering kali kalah populer dibandingkan sejarah Republik Lanfang.

Padahal, jejak perjuangan Monterado menjadi bagian penting dari sejarah Kalimantan Barat yang memperlihatkan bagaimana masyarakat di wilayah ini pernah membangun sistem pemerintahan sendiri dan mempertahankannya melalui perjuangan yang tidak singkat.

Editor : Silvina
republik kecil di kalbar republik di monterado kejayaan tionghoa sejarah tionghoa di kalbar perkongsian emas