PONTIANAK POST – Menghemat bahan bakar menjadi salah satu keinginan hampir setiap pemilik kendaraan bermotor. Selain menerapkan cara berkendara yang efisien dan melakukan perawatan rutin, ternyata ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa minyak atsiri memiliki potensi sebagai bahan aditif alami untuk membantu meningkatkan efisiensi pembakaran bahan bakar minyak (BBM).
Meski belum menjadi produk yang digunakan secara luas oleh masyarakat, hasil penelitian tersebut membuka peluang pemanfaatan bahan alami asal Indonesia untuk meningkatkan kualitas pembakaran sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar.
Temuan tersebut menjadi salah satu inovasi menarik yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan teknologi penghemat BBM di masa depan.
Apa Itu Minyak Atsiri?
Minyak atsiri merupakan minyak esensial yang diperoleh melalui proses penyulingan dari berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, bunga, kulit batang, hingga akar. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara penghasil berbagai jenis minyak atsiri karena memiliki kekayaan tanaman rempah dan tanaman aromatik.
Berdasarkan hasil penelitian yang dikutip carmudi.co.id, kandungan oksigen dalam struktur kimia minyak atsiri diyakini mampu membantu menyempurnakan proses pembakaran bahan bakar di dalam ruang mesin.
Baca Juga: BBM Kapuas Hulu Dipastikan Aman, Polres Ingatkan Warga Tak Panic Buying
Berpotensi Meningkatkan Kualitas Pembakaran
Selama ini berbagai penelitian terus dilakukan untuk mencari bahan aditif yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan BBM.
Mutu pembakaran bahan bakar umumnya diukur melalui angka oktan atau sifat antiknocking. Semakin baik kualitas pembakaran, energi yang dihasilkan mesin juga semakin optimal.
Baca Juga: Mengapa SPBU Pontianak dan Kubu Raya Masih Antre BBM? Ini Penyebab dan Langkah Pertamina
Penelitian menyebutkan minyak atsiri mampu meningkatkan reaksi pembakaran sehingga tenaga mesin menjadi lebih besar, proses pembakaran berlangsung lebih bersih, dan emisi gas buang dapat ditekan.
Melalui Serangkaian Tahapan Pengujian
Dalam penelitian tersebut, para peneliti melakukan berbagai tahapan mulai dari identifikasi kandungan kimia minyak atsiri, penyusunan formula bioaditif, karakterisasi bioaditif, hingga pengujian performa mesin.
Baca Juga: Polres Kubu Raya Pastikan Stok BBM Masih Aman, Ungkap Penyebab Antrean Panjang di Sejumlah SPBU
Pengujian dilakukan dengan mengukur torsi, daya mesin, konsumsi bahan bakar spesifik, emisi gas buang, hingga uji jalan untuk mengetahui efektivitasnya dalam penggunaan sehari-hari.
Hasil Penelitian Menunjukkan Potensi yang Menjanjikan
Hasil pengujian menunjukkan formula bioaditif berbasis minyak atsiri mampu meningkatkan angka oktan bensin sekitar 0,4 poin setelah dicampurkan ke bahan bakar.
Baca Juga: Apakah Motor Listrik Aman Dicas Semalaman? Ini Penjelasannya
Selain itu, performa mesin juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan bertambahnya torsi dan daya mesin, sementara konsumsi bahan bakar menunjukkan penurunan dibandingkan sebelum menggunakan bioaditif.
Pada pengujian bahan bakar solar, angka setana juga meningkat sekitar 2,9 poin.
Tak hanya itu, hasil uji emisi memperlihatkan penurunan kadar karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO₂), dan hidrokarbon (HC) dalam gas buang, sehingga proses pembakaran dinilai menjadi lebih ramah lingkungan.
Baca Juga: Gebrakan Baru VinFast di Indonesia: Luncurkan 3 Motor Listrik Garansi 6 Tahun dan Fitur Swap Baterai
Potensi Penghematan Mencapai 40 Persen
Salah satu hasil yang cukup menarik dari penelitian tersebut adalah pengujian di jalan (road test).
Dalam pengujian itu, penggunaan formula bioaditif berbasis minyak atsiri menunjukkan potensi penghematan konsumsi bensin maupun solar rata-rata berkisar 20 hingga 40 persen.
Baca Juga: KTM Perkenalkan Freeride E 2027, Motor Trail Listrik dengan Jarak Tempuh hingga 3 Jam
Namun demikian, hasil tersebut merupakan bagian dari penelitian dan pengujian terhadap formula bioaditif. Temuan ini menunjukkan potensi pemanfaatan minyak atsiri sebagai bahan aditif alami, sehingga masih memerlukan pengembangan serta penerapan sesuai standar sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat.
Masih Memerlukan Pengembangan Lebih Lanjut
Meski hasil penelitian menunjukkan prospek yang menjanjikan, masyarakat tetap disarankan menggunakan bahan bakar yang sesuai rekomendasi pabrikan serta melakukan perawatan kendaraan secara rutin untuk menjaga efisiensi konsumsi BBM.
Baca Juga: Pertamina Optimalkan Sawit dan Limbahnya untuk Kurangi Impor BBM, Dukung Ketahanan Energi Nasional
Penggunaan produk aditif juga sebaiknya memperhatikan standar keamanan dan kualitas yang telah teruji agar tidak menimbulkan dampak terhadap performa mesin dalam jangka panjang.
Dengan potensi yang dimiliki minyak atsiri sebagai bioaditif alami, penelitian ini menjadi salah satu langkah menarik dalam pengembangan teknologi otomotif yang lebih hemat energi sekaligus ramah lingkungan.
Editor : Silvina